Pemerintah dan Swasta Dihimbau Antisipasi Defisit Anggaran Amerika Serikat

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Rabu 22 Juli 2009, mengimbau kalangan pengusaha agar lebih berhati-hati dalam pengelolaan dan menjaga kesehatan keuangan dan usaha mereka. Imbauan ini terutama berkenaan dalam penggunaan valuta asing dan pengelolaan risiko utang. Imbauan Sri Mulyani ini berkenaan dengan membengkaknya defisit anggaran negara-negara maju terutama Amerika Serikat yang akan menimbulkan masalah serius pada perekonomian dunia termasuk Indonesia pada tahun 2010.

Defisit anggaran AS mencapai 1,09 triliun dollar AS membuat pasar modal jual-beli utang jangka panjang akan disesaki penawaran obligasi negara-negara maju sehingga menjadi jenuh. Imbal hasil yang ditawarkan akan lebih tinggi. Akibatnya, inflasi akan meningkat dan nilai dollar AS akan melemah. Pasar obligasi yang jenuh membuat Indonesia kesulitan menjual obligasi dan sebagainya di luar negeri. Berarti perlu menghemat. Departemen dan pemerintah daerah sudah diimbau menghemat. Pemerintah mengupayakan pembelanjaan secara efektif dan efisien.

Pihak swasta juga harus hati-hati dalam menjaga kesehatan keuangan dan usahanya berkaitan dengan risiko global yang terus berlangsung. Penggunaan valuta asing dan penanganan risiko utang-utang harus dikelola secara bijaksana dan hati-hati. Perlu diversifikasi valuta asing untuk menyimpan surplus hasil usaha. Nilai tukar dollar AS tehadap mata uang lainnya akan mengalami penyesuaian sehingga risiko valuta akan meningkat. Pihak swasta harus hati-hati dalam mengelola risiko valuta di sisi aset maupun utang. Swasta diimbau agar tidak terlalu banyak menyimpan dollar AS yang nilainya akan melemah.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Polah Tjahyono mengakui, industri mebel berorientasi ekspor, terutama ke pasar AS, kini risau karena melemahnya dollar AS. Kontrak penjualan umumnya masih mematok harga Rp12.000 per dollar AS. Sekarang, rupiah diperkirakan akan menguat pada level Rp10.000 per dollar AS. Hal ini masuk indikator lampu kuning, sehingga pengusaha harus hati-hati.

Nilai ekspor mebel ke pasar dunia mencapai 2,65 miliar dollar AS. Sekitar 35 persen adalah pasar AS. Menurut Ambar, pasar AS diperkirakan akan melorot, karena pembukaari letter of credit (L/C) mulai sukar. Karena itu, inovasi baru di bidang pemasaran sangat diperlukan untuk menggarap pasar-pasar baru. Perlu dilakukan diversifikasi tujuan pasar ekspor. Prospek pasar Asia masih sangat besar. Pengusaha sebaiknya memanfaatkan jaringan ASEAN dan kedekatan geografis Indonesia. (Kompas, Hati-Hati Kelola Keuangan, Jumat 23 Juli 2009)

Iklan