Pendekatan Keterbukaan Dalam Penanganan Narkoba

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang jumlah penduduknya berkembang dengan pesat. Daerah yang relatif cepat mengalami peningkatan jumlah penduduk terutama di wilayah perkotaan seperti Kota Semarang, Solo, Pekalongan, dan Tegal. Mudahnya akses transportasi, usaha, dan kemajuan perekonomian merupakan beberapa alasan yang menyebabkan suatu daerah menarik bagi pendatang untuk memperbaiki nasib.

Namun, seiring bertambahnya warga di suatu daerah, beberapa permasalah sosial mulai mengemuka. Semakin padatnya hunian warga, terjadi peralihan fungsi lahan, pengangguran, dan kriminalitas merupakan beberapa contoh yang sering terlihat. Salah satu bentuk kriminalitas yang semakin berkembang adalah meluasnya peredaran dan penyalahgunaan narkotika serta obat-obat terlarang. Pendatang baru dari daerah bila tidak berhati-hati dalam bergaul bisa menjadi pangsa pasar yang potensial bagi para pengedar. Pasalnya, rasa ingin tahu dan disertai bujukan dari teman-teman dalam satu komunitas itulah awal seseorang terjerumus dalam lembah dunia narkotika.

Bila sesekali mencoba, tidak menutup kemungkinan para korban narkoba akan mengulangnya untuk aktivitas sosial atau bersenang-senang dengan rekannya. Jika aktivitas ini sering dilakukan, besar kemungkinan sang korban akan memakainya sendirian untuk menghilangkan perasaan tertentu. Bila pada tahap ini sang korban tidak segera berhenti maka akan terjerumus pada penyalahgunaan narkoba dan berujung pada ketergantungan (Kompas, ”Narkoba, Umumnya Bermula Dari Coba-Coba”, Edisi Jawa Tengah Senin 22 Juni 2009).

Pengguna Narkoba Adalah Korban

Pengguna narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya lebih baik segera berusaha berhenti mengonsumsi narkoba dan melaporkan diri ke pihak berwenang. Dengan demikian, pengguna narkoba tersebut akan diperlakukan sebagai korban dan langsung menjalani rehabilitasi. Sekretaris Badan Narkotika Kota (BNK) Semarang M Sudirman mengatakan bahwa BNK akan menjamin pengguna narkoba tersebut mendapat perawatan semestinya di panti rehabilitasi dan tidak diperlakukan sebagai orang kriminal. Pengguna narkoba dapat menghubungi BNK atau panti rehabilitasi yang ada.

Namun, seorang pengguna narkoba akan mendapat hukuman maksimal jika tertangkap tangan sedang mengonsumsi narkoba. Dalam setiap razia narkoba, BNK Semarang menggunakan prinsip tersebut. Sikap keterbukaan masyarakat inilah yang sedang BNK upayakan karena disadari bahwa para pengguna narkoba pasti takut bersikap terbuka. BNK Semarang sedang menyosialisasikan keterbukaan sikap pengguna narkoba tersebut dengan berbagai penyuluhan seperti yang dilakukan di sekolah-sekolah Kota Semarang.

Meskipun begitu, pengguna dan pengedar narkoba tetap harus diproses sesuai hukum yang berlaku. Kepala Polda Jateng Inspektur Jenderal Alex Bambang Riatmodjo mengatakan bahwa keluarga korban juga dapat dijerat ancaman hukuman jika terbukti menyembunyikan anggota keluarganya yang menjadi pengguna dan pengedar narkoba. Hal ini dilakukan, jika pengguna melaporkan diri namun ternyata masih menggunakan narkoba, pengguna tersebut bisa dihukum juga. Artinya, pengguna itu akan ditindak tegas sesuai hukum karena tertangkap tangan masih menggunakan narkoba, sesuai Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

Sosiolog dari Universitas Katolik Soegijapranata Hermawan Pancasiwi menyambut baik upaya BNK Semarang untuk menumbuhkan keterbukaan masyarakat mengenai narkoba. Namun perlu diperhatikan bahwa persoalan narkoba ada tiga unsur yang terlibat, yaitu pengguna, pengedar, dan aparat hukum (Kompas, ”Pengguna Narkoba Korban”, Edisi Jawa Tengah Senin 22 Juni 2009).

Stadium Perilaku Pemakaian Zat Napza

Pemakaian Coba-Coba. Hanya ingin mencoba memenuhi rasa ingin. Sebagian pemakai berhenti menggunakannya dan sebagian lain meneruskan.

Pemakai Sosial. Hanya untuk bersenang-senang (saat rekreasi atau santai). Sebagian pemakai tetap bertahan pada tahap ini, tetapi sebagian lagi menignkat ke tahap selanjutnya.

Pemakaian Situasional. Pemakaian pada saat mengalami keadaan tertentu (ketegangan, kesedihan, kekecewaan) dengan maksud menghilangkan perasaan tersebut.

Penyalahgunaan. Pemakaian sebagai suatu pola penggunaan yang bersifat patologis/klinis (menyimpang), minimal satu bulan lamanya, dan telah terjadi gangguan fungsi sosial dan pekerjaan.

Ketergantungan. Pemakaian yang telah menjadi rutinitas karena telah terjadi toleransi dan gejala putus zat, bila pemakaian zat dihentikan atau dikurangi atau tidak ditambah dosisnya. (Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia, dalam Kompas Edisi Jawa Tengah, Senin 22 Juni 2009).

Peringkat Kasus Nerkoba (Narkotika, Psikotropika, dan Bahan Aditif) di Indonesia Tahun 2008

Metro Jaya (7.485 kasus), Jawa Timur (3.573), Sumatera Utara (2.366), Jawa Barat (1.086), Riau (880), Kalimantan Selatan (875), NAD (753), Sumatera Selatan (726), Jawa Tengah (645), Bali (622), Kalimantan Timur (519), Kepulauan Riau (451), Sulawesi Selatan (359), DIY (326), Sumatera Barat (281), Jambi (233), Lampung (224), Kalimantan Barat (164), Kalimantan Tengah (162), Mabes Polri (161), Banten (133), Sulawesi Tengah (128), Nusa Tengara Barat (102), Bengkulu (88), Sulawesi Utara (79), Bangka Beluting (78), Papua (47), Nusa Tenggara Timur (32), Maluku (26), Sulawesi Tenggara (13), Gorontalo (8), Maluku Utara (6). (Dit IV Narkoba dan KT Bareskrim Polri 2008, dalam Kompas Edisi Jawa Tengah, Senin 22 Juni 2009).