Pendekatan Pidana Hukum Tidak Akan Cukup Berantas Terorisme Jika Tidak Dibarengi De-radikalisasi

9 tahun ago kesimpulan 0

Dugaan keterlibatan mantan narapidana terorisme dalam pengeboman pada 17 Juli 2009 harus menjadi pengalaman penting bagi negara. Pendekatan penegakan hukum semata dalam menangani terorisme hanya mampu menunda sesaat terjadinya aksi destruktif oleh kelompok teroris. Diperlukan juga program bimbingan mental dan eliminasi ideologi radikal (deradikalisasi).

De-radikalisasi

Noor Huda Ismail, pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian, Selasa 11 Agustus 2009 mengatakan, bahwa sekadar mengunci teroris dalam penjara atau bahkan mengeksekusi mati sama sekali tidak akan bisa mengubah keyakinan dari mereka. Pemerintah belum tampak serius menerapkan pendekatan deradikalisasi (rekonsiliasi dan rehabilitasi), kelompok berpaham radikal ataupun dengan para mantan narapidana terorisme. Padahal, pemberantasan terorisme oleh aparat hukum sudah berjalan intensif. Munculnya Air Setiyawan dalam pengeboman di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton menjadi pelajaran penting bagi negara untuk menerapkan deradikalisasi.

Air pada tahun 2004 pernah ditangkap polisi terkait bom di Kedutaan Besar Australia. Namun, karena bukti material tidak cukup untuk menjeratnya, polisi tidak bisa melanjutkan kasus Air ke pengadilan sehingga terbebas. Sejarah menunjukkan, jaringan saat ini bagian dari metamorfosis gerakan radikal lama Darul Islam pada masa lalu. Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri juga menyebut salah satu buronan penting berinisial Ur yang diduga terlibat dalam pengeboman 17 Juli 2009. Ur pria asal Kudus, Jawa Tengah, pernah ditangkap pada Juli 2004 karena menyembunyikan Noordin M Top. Setelah 3,5 tahun dipenjara, Ur bebas pada tahun 2005.

Direktur International Crisis Group (ICG), Sidney Jones mengatakan bahwa pendekatan deradikalisasi perlu berjalan seiring dengan pendekatan penegakan hukum. Laporan TCG sejak tahun 2007 menyatakan, pemerintah kurang menaruh perhatian pada program deradikalisasi dan minimnya intervensi pembinaan mental terhadap narapidana terorisme di penjara. Bahkan, kuat indikasi selama di dalam penjara mereka saling kontak dengan jaringan lama.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Nanan Soekarna mengakui, penanganan terorisme masih terpusat di kepolisian yang tugasnya memang mengedepankan pendekatan hukum. Padahal pasca hukuman untuk pembinaan mental mantan narapidana teroris juga penting. Sejauh ini, sudah lebih dari 430 orang yang ditangkap polisi terkait terorisme. Sementara sekitar 200 orang telah bebas dari penjara. Pada 2002-2009 sudah 12 orang telah siap melakukan bom bunuh diri. Dalam periode yang sama, teror bom sudah memakan 262 korban jiwa dan 782 luka-luka. Sejauh ini penjara saja tidak cukup memeberantas terorisme, karena itu perlu rehabilitasi.

Sikap Masyarakat dan Tumbuh Suburnya Terorisme

Kepala Desk Koordinasi Pemberantasan Teroris Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Inspektur Jenderal (Purn) Ansyaad Mbai, Senin 27 Juli 2008, mengatakan bahwa ada sebagian kelompok masyarakat yang sangat permisif terhadap para teroris dan ideologi mereka. Akibatnya, para teroris itu bisa mendapat tempat berlindung yang nyaman. Lihat saja Noordin M Top, malah bisa menikah, perlindungan paling aman adalah dari keluarga. Sikap permisif semacam itu, tidak terjadi di negara lain, termasuk Malaysia. Ketika gembong teroris Dr Azahari ditetapkan sebagai buronan, keluarganya harus berpindah-pindah tempat karena tidak diterima oleh lingkungan setempat. Selain itu, ideologi teroris justru diterima dan tumbuh subur di Indonesia.

Jaringan teroris Noordin M. Top, tokoh yang paling bertanggungjawab dalam berbagai pengeboman di Indonesia, selalu punya komunitas yang bisa melindungi atau justru menyuplai kader. Mereka yang sudah punya dasar-dasar pemahaman tentang amaliyah jihad dan sirriyatul tanzhim (gerakan bawah tanah) bisa terbujuk tanpa sadar. Ada beberapa tipe yang sudah diidentifikasi polisi, yaitu:

  1. Hubungan famili atau kekerabatan. Ahmad Kandai seorang terdakwa penyerangan terhadap presiden Soekarno 1959. Dia punya tiga anak, yaitu, Farihin yang menyuplai bahan peledak ke Poso (2003), Abdul Jabbar terpidana kasus bom kedutaan Filipina (2000), dan Solahudin terpidana pengeboman Atrium Senen (2001). Hubungan Amrozi, Ali Imron, dan Mukhlas. Terpidana kasus bom Kedutaan Australia tiga bersaudara Iwan Rois, Jaja, dan Awaluddin. Noordin selalu berusaha mengikatkan diri ke tali pernikahan.
  2. Hubungan guru dan murid. Pengebom bom Bali I, Arnasan yang merupakan murid Imam Samudra. Lalu, Asmar Latin Sani pengebom Marriott (2003) adalah murid Rois dan Hen Golun pengebom kedutaan Australia (2004) murid Abu Fida.
  3. Hubungan madrasah atau pondok pesantren yang memberi perlindungan.
  4. Hubungan pertemanan. Bahkan, sekadar kenal lalu membantu, misalnya, pengebom JW Marriott (2003) Asmar Latin Sani merupakan teman Toni Togar, tidak terlalu akrab.

Ajaran Jihad dan Sindrom Psikopat

Para teroris gemar merekrut anak muda yang memiliki kehidupan psikologis yang labil. Ustaz Saefudin asal Cirebon merupakan anggota jaringan teroris Noordin yang bertugas sebagai pencari pelaku bom bunuh diri. Diperkirakan telah merekrut banyak pemuda melalui pendekatan ustaz dan imam masjid. Saefudin dikenal sering bersama sejumlah pemuda yang notabene polos dan labil untuk diajak berjihad, dibakar semangat dan mencuci otak mereka.

Ajaran-ajaran jihad merupakan ideologi yang merasuki mental kaum radikal. Dokumen-dokumen yang ditemukan di rumah Ibrohim banyak terdapat catatan mengenai arkanul baiah (rukun baiat) Hasan Al Banna, pendiri organisasi Ikhwanul Muslimin di Mesir yang menjadi acuan pendidikan. Ada juga tujuh tahap perbaikan menurut Hasan Al Banna. Mulai mempersiapkan pribadi muslim hingga menjadi guru alam semesta. Slogan-slogan jihad pun terlihat jelas, ada tulisan Arab berbunyi Allah Ghoyatuna, Arrasul Qudwatuna, Al Quran Dusturuna, Al Jihadu Sabiluna, Almautu Fisabilillah Asma amanina. Kalimat itu berarti Allah tujuan kami, Rasul teladan kami, AI Quran petunjuk kami, jihad jalan kami, dan mati di jalan Allah cita-cita kami tertinggi. Juga banyak ditemukan buku-buku bertema fikih dan tata cara dalam rukun agama hingga buku-buku bernuansa jihad dan waham kebesaran “pembela kebenaran” untuk mengembalikan zaman khalifah. Salah satunya sebuah buku “Mengasingkan Diri di Akhir Zaman”.

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono mengatakan bahwa terorisme tidak mengenal sasaran. Siapa saja bisa tiba-tiba terbunuh dan kehilangan segalanya. Kaum teroris mengalami kegalatan kategori (category mistake) sehingga tidak mampu membedakan mana yang benar dan yang salah serta cenderung hanya menggunakan cara, ungkapan, dan bahasa sendiri sebagai pembenaran. Teroris adalah sosok yang mengalami kepribadian terbelah (split personality), salah satunya tampak dari bahasa yang digunakan Osama bin Laden yang mencampuradukkan bahasa “mengancam” dengan bahasa “berdoa”.

Anthony Storr menyatakan, pelaku teror umumnya penderita psikopat agresif, yang kehilangan nurani sehingga kejam dan sadistis. Pada setiap masyarakat, lingkungan, dan zaman selalu terdapat segelintir orang yang kurang mencapai tingkat normalitas dalam mengontrol dorongan batin.

Kompas, Masyarakat Dinilai Permisif Terhadap Aktor Teror, Selasa 28 Juli 2009 / Media Indonesia, Perekrut Pengantin Menyaru Ustaz, Selasa 11 Agustus 2009 / Jawa Pos, Dari Hotel Mulia Pindah ke Hilton Lalu Ritz-Carlton, Sabtu 25 Juli 2009 / Kompas, Pancasila Bisa Menjadi Antitesis Untuk Menghadang Terorisme, Selasa 4 Agustus 2009 / Jawa Pos, Bakuk Noordin Cs Sebelum HUT RI, Sabtu 1 Agustus 2009 / Kompas, Bersatu Melawan Terorisme, Sabtu 18 Juli 2009 / Kompas, Teror Puncak Kekerasan, Sabtu 18 Juli 2009.

Iklan