Pengadilan Memalukan Perpanjang Penderitaan Aung San Suu Kyi dan Masyarakat Burma

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Vonis yang mengejutkan dan tak terhindarkan atas sidang Aung San Suu Kyi menjadi bukti nyata bahwa rezim militer di Burma bertekad terus menantang dunia. Berita Aung San Suu Kyi divonis hingga 1,5 tahun tahanan rumah sangat menyedihkan. Vonis itu tak hanya menjadi tragedi bagi dirinya dan keluarganya, tetapi juga bagi masyarakat Burma yang saban hari telah menderita oleh kekuasaan tirani.

Momen ini seharusnya menjadi saat bagi sang jenderal merangkul suara-suara yang menginginkan perubahan dan memilih jalan reformasi sesuai dengan apa yang diharapkan oleh wilayah regional serta komunitas global. Mereka selama ini menjauhkan diri dari segala hal. Vonis tersebut sangat tidak berdasar dan sangat menyakitkan hati. Oleh karena itu, komunitas internasional harus bereaksi atas ketidakadilan ini melalui pesan yang jelas kepada junta bahwa aksi-aksi tirani semacam itu lama sekali tak dapat ditoleransi.

Sanksi lebih lanjut yang ditujukan langsung kepada kebutuhan ekonomi rezim telah disepakati oleh Uni Eropa sebagai bentuk respons terhadap keputusan hulatm Burma dan hams diimplementasikan sesegera mungkin. Selain itu, sikap teguh Dewan Keamanan PBB harus dilanjutkan. Tak kurang dari larangan internasional atas penjualan persenjataan untuk rezim akan bermanfaat sebagai langkah pertama. Masyarakat harus mengenali dan mengamati para hakim yang terlibat dalam sidang politik ini, yang merupakan penghinaan terhadap keadilan.

Para jenderal seharusnya tidak bisa meragukan kekuatan solidaritas internasional yang memperjuangkan kemerdekaan, demokrasi, dan pembangunan di Burma. Kondisi politik dan kemanusiaan di negeri itu pun akan terus memburuk. Lebih dari 140.000 orang tewas. Jutaan orang jatuh miskin akibat bencana topan Nargis tahun 2008 dan bantuan dunia justru ditentang. Aksi protes damai oleh para biksu pada tahun 2007 digagalkan dengan kekerasan. Kaum etnis minoritas dianiaya dan diserang dengan persenjataan. Media diberangus. Kebebasan berpendapat dan berkumpul ditiadakan. Jumlah tahanan politik yang ditahan karena komitmen teguh mereka untuk perdamaian dan rekonsiliasi nasional telah berlipat ganda hingga lebih dari 2.000 orang. Aung San Suu Kyi adalah tokoh yang paling dikenal di antara mereka.

Sudah sejak lama Aung San Suu Kyi menjadi simbol atas harapan dan perjuangan selama 14 tahun hidup sebagai tahanan hati nurani. Ia merupakan perempuan paling berani. Dalam masa isolasi yang sangat lama itu, ia bahkan jarang bertemu dengan kedua putranya dan tetap yakin pada kepercayaannya akan demokrasi dan pada masyarakat Burma. Penolakannya untuk bergabung dengan tirani menjadi sebuah inspirasi tersendiri.

Masa tahanan yang diajukan pihak penuntut dibuat begitu besar sebab tujuan utamanya: memutus ikatan antara Aung San Suu Kyi dan orang-orang yang menganggapnya sebagai tonggak harapan dan perjuangan. Perlakuan yang ia terima hanya dapat diartikan sebagai bentuk keengganan junta melangkah menuju kemerdekaan, demokrasi, dan penegakan hukum, yang dalam hal ini: Aung San Suu Kyi menjadi figur utama Burma yang baru. Jadi, apabila beliau dan semua tahanan politik lainnya tidak dibebaskan, dan dialog serius yang sungguh-sungguh dengan pihak oposisi dan kelompok etnis tidak dimulai, maka pemilihan umum tahun depan dipastikan tak akan memiliki kredibilitas.

Pada Juli 2009, Sekjen PBB Ban Ki-moon meminta agar tindakan-tindakan tersebut dihentikan saat kunjungannya ke Rangoon. Dengan vonis pengadilan atas Aung San Suu Kyi ini, para jenderal Burma seakan mencerca Sekjen PBB di depan publik. Sekarang tiba saatnya ujian terbesar masyarakat dunia. Menghadapi arogansi ini, tidak bisa hanya berdiam diri dan memberikan sanksi kepada aksi junta yang keras dan represif. Dunia juga harus menunjukkan kepada mereka bahwa komunitas internasional akan bersatu dan berkoordinasi menanggapi hal ini.

Dunia telah melihat sebuah kesepakatan luar biasa dalam melawan rezim Burma di seluruh dunia, termasuk PBB, Uni Eropa, ASEAN, dan lebih dari 45 kepala negara. Semua harus terus menekan rekonsiliasi politik dan perubahan, terlebih bagi negara di sekitar Burma yang memiliki pengaruh luar biasa. Burma adalah sebuah negara kaya akan sumber daya alam dan manusia serta berada di jantung benua yang dinamis. Reformasi demokrasi akan membebaskan potensi terbesar Burma. Pemerintah Inggris akan menanggapi secara positif segala bentuk kemajuan, tetapi dalam menanggapi vonis ini, sikap dan perilaku harus dipertegas.

Para jenderal telah mengancam Burma. Masyarakatnya menuju isolasi, kemiskinan, konflik, dan putus asa yang jauh lebih mendalam dan lebih buruk. Beberapa orang mungkin bertanya mengapa Burma menarik perhatian begitu besar. Masih banyak negara yang mengabaikan hak asasi. Masih banyak negara yang rakyatnya hidup dalam kemiskinan. Namun, rezim Burma adalah satu-satunya yang secara nyata berada pada skala pemerintahan yang salah, melalaikan 50 juta orang hingga menderita setiap hari. Kata-kata dan pemikiran saja tak cukup lagi (GORDON BROWN, Pengadilan Memalukan di Burma, Kompas Kamis 13 Agustus 2009)

Iklan