Penurunan Fungsi Fisiologis Kognitif Oleh Proses Penuaan

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Penyakit neurodegeneratif sering terjadi pada orang tua, kemungkinan karena pada proses penuaan telah terdapat banyak kelainan neuron. Sel/jaringan yang masih muda dibekali kemampuan untuk memperbaharui diri, mempertahankan struktur dan fungsi, bertahan terhadap jejas dan mampu memperbaiki kerusakan yang mengenainya. Pada proses penuaan kemampuan ini berkurang dan hilang secara bertahap. Beberapa penyakit neurodegeneratif umumnya berhubungan dengan kelainan ini.

Banyak faktor yang mempengaruhi integritas susunan saraf pusat pada usia lebih dari 50 tahun, karena itu periu pemeriksaan berkala mengenai fungsi memori dan kognitif.

Pada penuaan terdapat kelainan neuron yang sangat menonjol yaitu:

  1. Hilangnya sel neuron.
  2. Hilangnya bagian-bagian neuron serta akumulasi lipofuscin intra sitoplasmik.
  3. Pembentukan protein fibril abnormal pada neuron (neurofibrillary tangle – NFT) dan struktur abnormal yang disebut neurit plaque (NP).

Apabila dibanding dengan sel neuron orang muda, maka akibat proses penuaan selain jumlah neuron sangat berkurang, juga terdapat NFT dan akumulasi lipofusin pada sitoplasma serta NP pada neurit. Bangunan abnormal tersebut akan mengganggu fungsi neuron akibat mendesak organela dalam sitoplasma, maupun sistim hantaran impuls.

Beberapa gangguan juga dapat menimbulkan demensia, seperti metabolik, infeksi, dan gangguan struktural dapat menimbulkan gangguan kognitif/memori semata (isolated). Karena penyakit neurodegeneratif paling sering menyerang pada subyek di atas 65 tahun, dan karena penyakit ini khususnya mengenai hipokampus, maka memiliki andil besar dalam penurunan fungsi memori. Beberapa penyebab yang masih dugaan antara lain adalah perubahan-perubahan hormon-hormon adrenal dan gestasional, pasokan serebrovaskuler (demensia vaskuler), dan stres oksidatif, yang terkait dengan kemunduran-kemunduran neuronal. Penurunan memori yang terkait usia ini diduga mempunyai komponen genetik. Ringkasnya, latar belakang penurunan fungsi kognitif di usia lanjut mempunyai latar belakang yang sangat beragam. Adapun gangguan kognitif sangat berpengaruh pada terjadinya penyakit dan kematian.

Parkinson

Penyakit neurodegeneratif merupakan kelompok kelainan yang secara khas ditandai adanya degenerasi neuron secara progresif, timbul spontan mengenai daerah otak spesifik, medulla spinalis atau keduanya. Penyakit neurodegeneratif yang banyak menimbulkan demensia adalah penyakit Alzheimer, demensia Lewy bodies (DLB) dan penyakit Parkinson (Parkinson’s disease = PD).

Stroke

Pada kelompok kelainan ini demensia terjadi akibat problema sirkulasi darah pada otak (penyakit serebrovaskuler). Apabila dibandingkan dengan penyakit neurodegeneratif yang belum diketahui patogenesisnya, maka pada kelompok ini penyebab demensia diketahui, misalnya hemoragi serebri, trombosis atau emboli, atau iskemia yang menyebabkan kematian jaringan otak (stroke).

Demensia vaskuler di kepustakaan diperkirakan 20% dari kasus demensia. Kasus demensia vaskuler yang ditemukan adalah demensia multi-infark (MID) 20% (prosentase MID bersama AD 30-60% dari seluruh demensia). Penyakit Binswanger (demensia vaskuler subkortikal) termasuk kasus yang jarang ditemukan, dan yang paling jarang adalah yang berhubungan dengan penyakit autoimun (SLE).

Trauma Kepala

Trauma kepala telah dibuktikan menyebabkan gangguan kognitif. Penelitian mendapatkan hubungan yang kuat bahwa trauma kepala berat merupakan awal terjadinya demensia. Hal itu didapatkan banyak kehilangan ingatan setelah beberapa tahun mengalami trauma kepala.

Tumor Otak

Tumor yang timbul lebih kedepan mungkin membesar sangat luas sebelum menyebabkan tanda fokal; terkadang sedikit gangguan memori, intelek, personalitas, berkembang menjadi demensia berat. Tumor ini dapat berasal dari jaringan otak sendiri ataupun dari metastasis.

Infeksi SSP

Infeksi pada susunan saraf pusat secara langsung akan menyebabkan kerusakan sel otak, selain itu karena adanya vaskulitis akan menggangu aliran darah yang akhirnya akan menambah kerusakan sel saraf mengakibatkan timbulnya demensia.

Epilepsi

Gangguan kognitif pada penyandang epilepsi secara umum telah banyak dilaporkan, dengan dampak utamanya pada fungsi memori. Gangguan ini dapat bersifat sementara sampai gangguan memori yang permanen.

Depresi dan Ansietas

Demensia pada penderita depresi bisa sifatnya sebagai pseudodemensia. Dengan kata lain depresi, stress, kecemasan bisa memperburuk kognisi, oleh sebab itu menegakkan diagnosa yang tepat sangat penting.

Obat yang mempengaruhi Susunan Saraf Pusat (SSP)

Penyalahgunaan obat berakibat intoksikasi obat yang akan memperburuk kemampuan kognitif. Beberapa jenis obat diantaranya adalah anticholinergik, sedativa, anti aritmia, anti psikotik, anti hipertensi, narkotik, antikonvulsan, anti histamin, kortikosteroid, agonis dopamine, anti depresan.21 Terpapar oleh carbon monooksida, zat alumunium, merkuri, arsenic juga menyebabkan gangguan kognitif.

Mini Mental State Examination (MMSE) adalah metode pemeriksaan untuk menilai fungsi kognitif yang telah digunakan secara luas oleh para klinisi untuk praktek klinik maupun penelitian.

Banyak penelitian telah menggunakan Global Deterioration Scale (GDS) dan Clinical Dementia Rating (CDR) sebagai instrumen untuk mengetahui tingkat gangguan fungsi kognitif mulai dari yang normal karena aging sampai dengan demensia berat.

Mini Mental State Examination (MMSE), Global Deterioration Scale (GDS) dan Clinical Dementia Rating (CDR) adalah instrumen pemeriksaan untuk menilai fungsi kognitif yang digunakan dalam konsensus nasional ”Pengenalan dan penatalaksanaan demensia Alzheimer dan demensia lainnya”. Untuk menyingkirkan adanya depresi digunakan instrumen skala depresi geriatrik. Pengelompokan skor instrumen MMSE, BSF bila skor: 27-30, MCI: 23-26, demensia: 4; dan instrumen CDR, BSF bila sko : 0, MCI: (0,5), demensia: >1.

PUSTAKA

Dikot Y. Pengenalan dan Penatalaksanaan Demensia Alzheimer dan Demensia lainnya 1989: 6-14

Hartono B. Konsep dan pendekatan masalah kognitif pada usia lanjut: Terfokus pada deteksi dini. Dalam: Cognitif problem in elderly. Temu Regional Neurologi Jateng-DIY ke XIX, 2002: 1-6.

Lamsudin R. Demensia vaskuler. Tinjauan aspek serebrovaskuler-patologi, kriteria, diagnosis, epidemiologi, faktor risiko, pencegahan dan pengobatan. Berkala Neuro Sains, 1999; vol 1 (1) : 1-10.

Gunawan B. Pendidikan kedokteran berkelanjutan. Up date on neurologi 2002. Surabaya. 2002: 10-1.

Tjahjono. Patobiologi demensia. Simposium penatalaksanaan mutakhir penyakit demensia. Semarang, 1999: 1-8.

Purba JS. Demensia dan Penyakit Alzheimer. Balai Penerbit FKUI. Jakarta, 2002: 1-20.

Katzman R, Terry R. Normal aging of the nervous .system. In: Principle of Geriatric Neurology. Philadelphia, FA Davis Co., 1993: 18-47.

Carayannis GP. Memory/cognitive function loss. ReGenesis Medical Center. 2000: 1-4.

Kase CS, Wolf PA, Kelly-Hayes M, Kannel WB, Beiser A, D’Agustino RB. Intellectual Decline After Stroke : The Farmingham study. Stroke. 1998: 805- I 1.

Devinsky 0. Cognitive and behavioural effect of antiepileptic drugs. Epilepsi. 1995;36: s46-s65.

Setyopranoto I, Lamsudin R. Kesepakatan Penilaian Mini Mental State Examination (MMSE) pada Penderita Stroke Iskhemik Akut di RSUP Dr. Sardjito. Yogyakarta. Berkala Neuro Sains. 1999; vol 1 (1): 69-72.

Golomb J, Kluger A, Garard P, Feris SH. Clinician’s manual on Mild Cognitive Impairment. 2003:1-14.

Iklan