Penyebab Gugat Perceraian di Pengadilan Agama (PA) Kota Semarang Didominasi Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)

8 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Angka perceraian tahun 2009 di Kota Semarang mengalami peningkatan signifikan. Data yang tercatat di Pengadilan Agama (PA) Kota Semarang menunjukkan kenaikan perkara perceraian mencapai 15 persen dibanding tahun 2008. Rata-rata, perkara perceraian yang terdaftar di PA Semarang tahun lalu mencapai 170 perkara per bulan. Namun pada tahun 2009 mencapai 200 perkara per bulan. Bahkan hingga Juli jumlah terendah perkara perceraian tiap bulannya adalah 172 perkara yang terjadi pada Januari.

Zaenal Abidin SH, Panitera Muda Hukum PA Semarang Jumat 21 Agustus 2009 mengatakan bahwa ini sangat memprihatinkan sekali. Namun pihaknya hanya melayani, tentunya juga berharap angka tersebut tak terus bertambah. Sebagai perbandingan, pada 2008 jumlah keseluruhan perkara perceraian yang terdaftar di PA Semarang mencapai 1.832 perkara. Sedangkan di tahun 2009 ini data hingga Jumat 21 Agustus 2009 saja sudah mencapai 1.439 perkara. Sementara perkara cerai gugat jauh lebih besar dibandingkan dengan cerai talak. Data pada Juli 2009 menunjukkan perbandingan yang sangat kentara. Perkara cerai gugat di mana pihak istrilah yang mengajukan gugatan cerai mencapai 116 perkara. Sedangkan untuk perkara cerai talak yang diajukan oleh pihak suami hanya 60 perkara.

Dari keseluruhan perkara perceraian yang terdaftar di PA Semarang, ketidakharmonisan rumah tangga menjadi penyebab yang dominan. Ketidakharmonisan tersebut dipicu oleh adanya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Namun adanya KDRT tersebut sangat sulit untuk dibuktikan. Hal tersebut disebabkan karena pembuktian KDRT harus memakai visum. Sementara untuk memperoleh visum tersebut haruslah memiliki pengantar dari kepolisian. Untuk dijadikan alat bukti dalam persidangan, visum tersebut harus disertai aslinya, tak cukup hanya salinannya saja. Tentu saja untuk membawa aslinya harus seizin polisi. Tinggal polisinya mau mengizinkan apa tidak.

Sedangkan peringkat kedua penyebab perceraian diduduki oleh masalah pertanggungjawaban. Biasanya pihak istri atau suami tiba-tiba pergi tanpa pamit dan tanpa kabar. Masalah perekonomian justru jarang ditemui sebagai penyebab perceraian di tengah kondisi ekonomi yang secara umum serba sulit ini. Menanggapi maraknya perkara cerai gugat yang lebih besar dibanding cerai talak, Zaenal turut menyayangkan juga heran kenapa banyak istri yang menggugat cerai suaminya (Jawa Pos, KDRT Dominasi Penyebab Perceraian, Sabtu 22 Agustus 2009)