Peran Hemisfer Kanan Pada Kesulitan Belajar

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan)

PERAN HEMISFER KANAN

Peran hemisfer kanan dalam proses belajar lebih ke arah non verbal, berkaitan dengan fungsi spasial dan pemecahan masalah. Pola pikir dan fungsi hemisfer kanan terutama untuk kreativitas dan sosialisasi. Otak manusia tumbuh dan berkembang sampai mencapai taraf kematangan (maturitas), dipengaruhi oleh genetic blue print dan stimulasi lingkungan.

Proses mental manusia merupakan sistem fungsional yang kompleks dan bekerja melalui partisipasi semua struktur otak yang mempunyai peranan tertentu dalam organisasi sistem fungsional tersebut. Ada tiga prinsip unit fungsional, yaitu unit pertama mengatur kesadaran dan kewaspadaan terletak di batang otak. Unit ke dua menerima, memproses dan menyimpan informasi, terletak di bagian posterior serebral. Unit ketiga mengatur dan membuat program serta melaksanakan aktivitas mental, terletak di bagian anterior serebral. Mekanisme kerja otak melalui ketiga unit fungsional tersebut menunjukkan adanya organisasi serebral longitudinal dari posterior ke anterior. Dalam perkembangan lanjut sistem fungsional otak bertambah dengan organisasi serebral ke lateral yang membedakan fungsi hemisfer kiri dengan kanan atau dikenal dengan spesialisasi hemisfer otak.

Perkembangan otak terjadi melalui dua fase. Pertama, fase perkembangan filogenetik yaitu otak tumbuh dan berkembang mulai dari bentuknya yang primitif sampai menjadi bentuk otak manusia yang sangat kompleks. Akhir perkembangan filogenetik ini bentuk otak manusia menjadi lengkap terdiri dari: batang otak, otak kecil, dan dua belahan otak besar (hemisfer). Kedua, fase perkembangan ontogenetik yaitu perkembangan yang terjadi terutama pada hemisfer menuju ciri khas masing-masing individu, terjadi spesialisasi otak sehingga hemisfer kiri dan kanan mempunyai fungsi yang berbeda.

Perkembangan yang pesat tentang spesialisasi hemisfer kemudian dikembangkan dengan penemuan fungsi hemisfer kanan dalam kemampuan neuropsikologis dan kemandirian aktivitas mental, dan perbedaan pola kognitif dengan hemisfer kiri. Hemisfer kiri mempunyai organisasi yang lebih terlokalisir sedangkan organisasi hemisfer kanan lebih difus.

Setiap hemisfer mempunyai kapasitas dan fungsi yang unik, tetapi bekerjasama dalam konser satu dengan yang lain pada situasi normal, dan bila terjadi kerusakan maka masing-masing hemisfer menimbulkan pola defisit dan kemampuan sisa yang unik. Kedua hemisfer bekerja secara komplementer. Dikotomi hemisfer terdiri dari hemisferium kiri dengan fungsi proposisi verbal linguistik dan hemisferium kanan dengan fungsi nonverbal-visuospasial-emosional.

Jadi apa yang kita namakan hemisfer “dominan”, dominasi ini terutama untuk bahasa atau fungsi intelektual yang berhubungan dengan simbol verbal dan hemisfer yang kita sebut “nondominan” sebenarnya dominan untuk beberapa fungsi lainnya. Pada proposal ini akan dititik beratkan pada pembahasan mengenai hemisfer kanan.

Secara rinci dapat disebutkan bahwa spesialisasi hemisfer kiri berkaitan dengan kemampuan wicara dan bahasa, kemampuan membaca, menulis, mengeja serta mengingat-ngingat fakta dan nama. Ada yang meringkas fungsi hemisfer kiri sebagai pemantau dan pelaksana the three ‘R’s (Reading, wRiting and aRhithmetic) atau kemampuan baca-tulis-hitung. Pola kognitifnya bersifat logis-analitis dan berlangsung secara serial.

Lesi pada hemisfer kiri area bahasa diikuti oleh aktivasi dari hemisfer kanan guna mengambil alih fungsi dari hemisfer kiri, sehingga hemisfer kanan sering disebut sebagai mirror hemisfer kiri.

Dari pengalaman klinis tampak para penderita yang mengalami gangguan pada sisi kiri akan mengadakan kompensasi dengan menggunakan fungsi hemisfer kanan untuk mengatasi gangguan yang terjadi. Para penderita kelainan hemisfer kiri dengan gejala afasia akan lebih banyak menggunakan gerakan-gerakan tangan, tubuh, perubahan mimik wajah serta perubahan nada suara untuk berkomunikasi.

Bila area Wernicke pada hemisfer dominan seorang mengalami kerusakan, maka normalnya penderita akan kehilangan hampir seluruh fungsi intelektual yang berhubungan dengan bahasa, atau manipulasi mengenai hal ini, bahasa yang berhubungan dengan simbolisme verbal, seperti kemampuan membaca, kemampuan memecahkan problema matematika dan bahkan kemampuan untuk berfikir melalui problem yang logis. Namun banyak tipe kemampuan interpretasi lain yang menggunakan daerah lobus temporalis dan girus angularis dari hemisfer sisi berlawanan yang masih utuh.

Anak yang ideal adalah anak yang mempunyai hemisfer kanan dan kiri seimbang. Kemampuan ini dicapai melalui tahap perkembangan ontogenetik yang sangat dipengaruhi oleh proses belajar dan stimulasi yang diterima oleh anak tersebut. Proses belajar dan stimulasi yang hanya ditujukan untuk merangsang hemisfer kiri seperti: belajar, membaca, menghitung, menulis (pengajaran di sekolah-sekolah) tidak akan mampu merangsang dan mengembangkan hemisfer kanan sehingga akan menciptakan anak yang cerdas tetapi kurang kreatif dan kurang sosialisasi. Stimulasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan hemisfer kanan dapat berupa bermain, kesenian, olah raga, rekreasi, yang sering kurang diprogramkan.

FUNGSI HEMISFER KANAN

Hemisfer kanan merupakan belahan otak dengan pola kognitif yang intuitif, holistis yang dapat memproses banyak informasi secara simultan, memandang problem secara holistis dan jauh ke depan. Fungsi non verbal, adalah pemahaman tidak melalui kata-kata tetapi melalui imajinasi. Fungsi lain adalah visuospasial yang mencakup persepsi atau orientasi tempat dan hubungan spasial. Kemampuan hemisfer kanan juga meliputi pemahaman musik dan seni, spiritualisme dan emosi.

Hemisfer kanan mempunyai kepentingan khusus untuk pengertian dan menginterpretasikan musik, pengalaman visual nonverbal (khususnya pola visual), hubungan spasial antara seseorang dengan lingkungannya, makna bahasa tubuh dan intonasi suara seseorang dan mungkin sebagian besar pengalaman somatik yang berkaitan dengan penggunaan anggota badan dan tangan.

Kemampuan berbahasa yang baik merupakan fungsi hemisfer kanan. Kemampuan penggunaan dan penguasaan bahasa yang baik dan benar adalah fungsi kedua hemisfer kiri dan kanan. Hemisfer kanan sebagai hemisfer non dominan ternyata secara anatomi maupun fungsional terikat erat dengan hemisfer kiri yang dihubungkan oleh korpus kalosum sebagai jembatan yang memungkinkan kedua belahan otak tadi saling bekerja sama, berkonsultasi dan saling menopang.

Dalam dua dekade terakhir (kurang lebih tahun 1980) sejak dilakukan penelitian pada split brain maka peranan hemisfer kanan tampak nyata. Dalam bidang berbahasa, hemisfer kanan mempunyai peran dalam aspek para atau ekstralinguistik sebagai komunikasi pragmatik atau komunikasi non verbal yang meliputi afektif prosodi dan gesture (bahasa gerak-gerik).

Pertama kali penggunaan istilah prosodi untuk menunjukkan komponen afektif dan proporsi dari pembicaraan. Prosodi termasuk bentuk suprasegmental bahasa yang meliputi tinggi rendahnya nada, keras tidaknya suara, warna kata, kecepatan pengucapan, tekanan pada tiap kata, aksen bahasa, perhentian satu kalimat dengan kalimat lain, intonasi dan melodi.

Hemisfer kanan dominan dalam mengorganisir komponen afektif prosodi dari bahasa dan gesture. Organisasi secara fungsional maupun anatomik dari bahasa afektif hemisfer kanan analog dengan organisasi bahasa proporsional hemisfer kiri yaitu sekitar fisura sylvii. Prosodi afektif didominasi dan merupakan fungsi lateralisasi hemisfer kanan. Gesture adalah gerakan-gerakan untuk memberi tekanan saat pembicaraan. Istilah gesture timbul akibat lesi frontal operkulum kanan. Hemisfer kanan penting untuk menimbulkan gesture dan pemahaman arti gesture yang timbul.

Fungsi dalam kemandirian dan kreativitas, menyebabkan hemisfer kanan sangat vital bagi kehidupan sosial manusia, karena merupakan pusat pemantauan dan perlindungan diri terhadap lingkungan.(territorial sulveillance and territorial protection)

GANGGUAN HEMISFER KANAN

Kelainan hemisfer kanan menunjukkan sindroma hemisfer kanan dengan berbagai tingkat kelainan yang “aneh dan rumit”. Konsentrasi dan perhatian terhadap lingkungan sangat sempit, tampak tak acuh, bahkan menyangkal penyakit yang dideritanya (anosognosia), sukar mengenal wajah orang (proposognosia) dan tidak mengenal perubahan wajah emosional. Dapat timbul disorientasi waktu, tempat dan orang dan gejala hemineglect (pengabaian lapangan pandang sisi kiri).

Terputusnya jaras yang menghubungkan lobus parietalis dengan lobus oksipitalis inferior hemisfer kanan akan menimbulkan prosopagnosia atau Facial agnosia yaitu ketidak mampuan penderita mengenali wajah yang telah dikenali sebelumnya (gangguan persepsi visual terhadap wajah).

Penelitian pada orang Cina dan Taiwan yang mengalami lesi hemisfer kanan didapatkan gangguan pemahaman afektif prosodi tetapi masih dapat mengidentifikasi dan mengartikan perubahan-perubahan intonasi kata-kata Mandarin. Pemahaman arti kata dengan perubahan intonasi tersebut diduga peran hemisfer kiri.

Lesi hemisfer kanan dengan hemisfer kiri yang intak, terjadi gangguan yang kompleks pada prosodi afektif dan gangguan pada pengulangan verbal. Hemisfer kanan lebih terorganisasi secara difus berlainan dengan hemisfer kiri. Akibatnya dapat terjadi aprosodi motorik baik pada lesi frontoparietal operkuler kanan maupun lesi subkortikal yaitu gangguan pada jaras kalosal dan hubungan interhemisferik.

Hemisfer kanan tidak dominan terhadap atensi saja tetapi juga terhadap intensi. Atensi adalah perhatian terhadap rangsang, sedangkan intensi adalah mulai dengan respon penderita terhadap perhatian tersebut (sudah terdapat gerak motorik).

Gangguan membaca dan menulis akibat lesi hemisfer kanan biasanya akibat agnosia visuospasial dan adanya gangguan memori visual yang berat. Penderita hanya dapat membaca huruf demi huruf dan mengalami kesulitan baik dalam menulis atau membaca huruf yang mirip bentuknya. Gangguan ini disebut disleksia tipe visual, area yang berperan adalah area parieto oksipetalis kanan, oksipetalis kiri dan splenium korpus kalosum.

Penderita dengan lesi hemisfer kanan mempunyai kebiasaan menulis yang berlebihan bersifat kompulsif (hipergrafia). Pada penderita ini dapat terjadi apraksia konstruktif yaitu tulisan yang berlebihan mendekati gerakan semiotomatik, tidak mempunyai isi, tidak beraturan disebut sebagai hipergrafia tipe Yamadori.

Kemampuan visuokonstruksional adalah kombinasi aktivitas perseptual dengan respon motorik serta mengandung komponen spasial. Fungsi konstruksional mencakup 2 aktivitas yaitu menggambar dan membangun. Pada gangguan konstruksional akan mengakibatkan gangguan pada kedua aktivitas tersebut, tapi pada pemeriksaannya perlu dievaluasi secara terpisah.

Lesi hemisfer kanan akan lebih buruk memperkirakan jarak antara titik-titik atau diagonal, sulit mencontoh gambar dan cenderung kurang memperkirakan (underestimate), misalnya dalam menggambar sudut-sudut sebuah bintang. Inatensi visual pada sisi kontralateral lebih banyak terdapat pada lesi hemisfer kanan.

Hemisfer kanan terutama berperan dalam fungsi visuospasial, gangguan fungsi tersebut mengakibatkan apraksia konstruksional. Hal ini menyebabkan penurunan IQ performance (PIQ) yang secara keseluruhan menyebabkan penurunan full scale IQ (FS-IQ). Penurunan PIQ tanpa disertai atau disertai sedikit penurunan IQ verbal (VIQ) akan menyebabkan diskrepansi antara VIQ – PIQ. Bila diskrepansi tersebut lebih besar atau sama dengan 10 menunjukkan adanya gangguan dalam visuospasial.

Terdapat hubungan gangguan visuospasial dengan posisi tangan menulis terutama untuk orang kinan, pada posisi menulis secara inversi maka akan didapatkan defisit relatif fungsi visuospasial dan didapatkan diskrepansi yang menyolok antara IQ verbal dan performance.

MEMORI (INGATAN)

Memori atau ingatan tidak dapat dilepaskan dari proses belajar (learning). Proses belajar berhubungan dengan proses perekaman, sedang proses memori berhubungan dengan proses pemeliharaan (keeping), dan mengingat kembali (recall, retrieval) informasi atau pengalaman yang telah direkam . Memori yang baik menunjukkan dua fungsi, yaitu fungsi kamus (menemukan kata dari penyimpanan) dan fungsi ensiklopedi (memberikan arti mengenai kata tersebut).

Secara fisiologis, memori adalah hasil dari perubahan kemampuan penjalaran sinaptik dari satu neuron keneuron berikutnya, sebagai akibat dari aktivitas neural sebelumnya. Perubahan ini kemudian menghasilkan jaras-jaras baru atau jaras yang terfasilitasi untuk membentuk penjalaran sinyal-sinyal melalui lintasan neural otak yang disebut jejak ingatan (memory traces). jaras-jaras ini menetap dan dapat diaktifkan oleh pikiran untuk menimbulkan kembali ingatan yang ada.

Di dalam klinik, memori dapat dibagi sebagai berikut:

1. Memori segera (immediate memory)
Adalah daya mengingat kembali rangsang yang diterima beberapa detik yang lalu, Memori segera membutuhkan pemusatan perhatian (attention).

2. Memori Baru (recent memory)
Adalah rangsang yang diterima oleh memori baru yang disimpan untuk waktu yang lebih lama, beberapa menit, beberapa jam bahkan hari. Untuk menyimpan dibutuhkan konsolidasi (pengulangan atau organisasi). Memori ini berkaitan dengan kemampuan belajar hal yang baru (new learning ability). Kesulitan belajar pada umumnya berkaitan dengan memori baru ini.

3. Memori Lama (remote memory)
Daya mengingat kembali peristiwa yang telah lama terjadi, misal masa muda atau masa kecil. Memori ini terganggu pada taraf kelainan yang cukup berat.

PERAN HEMISFER KANAN PADA MEMORI

Memori verbal terletak di hemisfer kiri dan memori visual berada di hemisfer kanan. Belajar dengan rangsang verbal dan visual akan memberi hasil lebih baik karena memori verbal dan visual mempunyai pusat yang berbeda. Mengulang sesuatu yang dipelajari akan menumbuhkan hubungan antar sel di pusat memori baru, sehingga tidak mudah dilupakan.

Gangguan memori non verbal bermanifestasi berupa kesulitan dalam mengingat pola-pola geometrik, wajah seseorang, pola nada dalam musik. Akan tetapi anak tidak mengalami kesulitan dalam mengingat peribahasa-peribahasa tertentu atau dengan perkataan lain penderita memiliki memori verbal yang baik.

Kusumoputro S. Disfungsi otak. Naskah Simposium Kesulitan Belajar dan Disfungsi Minimal Otak. FKUI. Jakarta: 1989.

Kusumoputro S. Optimalisasi fungsi otak untuk optimasi sumber daya manusia. Neurona Vol.14. No:1. 1997.

Lumbantobing S.M.,Anak dengan Mental Terbelakang, Edisi I, BP FKUI. Jakarta , 1997.

Hartono B. Gangguan belajar pada disfungsi minimal otak. Dalam: Hadinoto S, Hartono B, Soetedjo (ed). Kesulitan belajar dan gangguan bicara. BP UNDIP. Semarang. 1991.

Kusumoputro S. Peranan stimulasi yang berdasarkan konsep spesialisasi dua belahan dan plastisitas otak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pidato Pengukuhan Guru Besar FKUI. 1995.

Knyazeva MG. Bihemispheric Brain Organization and Cognitive Performance in Children. In: NjiokiktjienC. Farber D. (Eds). Pediatric Behavioral Neurology. Vol.4. Sunyi. Amsterdam. 1993.

Lazuardi S. Mekanisme terjadinya Disfungsi Minimal Otak. Pengenalan Kesulitan belajar dan Disfungsi Minimal Otak. DNIKS, Jakarta. 1989.

Kolb B. Whishaw IQ. Fundmental of Human Neuropsychology. Fourth edition. University of Lethbrigde. 1996.

Azwar S, Pengantar psikologi intelegensi. Edisi II, , Pustaka Pelajar Offset Yogyakarta. 1999.

Sadli S, Intelegensi bakat dan test IQ. Edisi I. PT Dian Rakyat Jakarta. 1986.

Irwanto et al. Psikologi Umum. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 1991.

Soetjipto. Tinjauan sosial psikologik dan kesehatan tentang kesulitan belajar pada anak-anak bermasalah. Dalam: Mudjiman H, Yusuf M (eds). Disfungsi Minimal Otak (DMO) dan Kesulitan Belajar Anak. PSSR PUSLIT UNS. 1990.

Hidayat T. Tinjauan pendidikan tentang kesulitan belajar anak yang bermasalah. Dalam: Mudjiman H, Yusuf M (eds). Disfungsi Minimal Otak (DMO) dan Kesulitan Belaj ar Anak. PSSR PUSLIT UNS. 1990.

Rapin I. Children with brain dysfunction. Neurology, cognition, language, and behavior. Raven Press. New York. 1982.

Williams PL et al. Basic human embryology, IIIrd edition. Pitman Publishing Limited, 1994.

Springer SP, Deuthsch G. Left brain, right brain. Fourth edition. WH Freeman and co. New York. 1993.

Njiokiktjien C, Ramaekers. Developmental interhemispheric disconnection in learning and motor disabilities. Dalam: Ramaekers G, Njiokiktjien C (eds). The childs corpus callosum. Suy Publications Amsterdam, 1991.

Shields J. Semantic-Pragmatic disorders: A right hemisphere syndrome, British Journal of disorders of communication. 1991.

Kusumoputro S. Perkembangan bahasa pada otak dan permasalahannya. Dalam: Mudjiman H, Yusuf M (eds). Disfungsi Minimal Otak (DMO) dan Kesulitan Belajar Anak. PSSR PUSLIT UNS. 1990.

Kusumoputro S. Aspek psikoneurologik pada gangguan bicara. Dalam: Hadinoto S, Hartono B, Soetedjo (ed). Kesulitan belajar dan gangguan bicara. BP UNDIP. Semarang. 1991.

Tjahjadi MI, Sidiarto LD. Disfasia perkembangan. Neurona Vol.11, No: 3. 1994.

Carpenter RHS. Neurophysiology. Third Edition. 1996.

Sidiarto L. Berbagai gejala Disfungsi Minimal Otak yang berujud kesulitan belajar spesifik dan permasalahannya. Dalam: Mudjiman H, Yusuf M (eds). Disfungsi Minimal Otak (DMO) dan Kesulitan Belajar Anak. PSSR PUSLIT UNS. 1990.

Heller W , Terry EFJ, Leventhal B.L. Inverted Posture in right handers is Associated with relative defisits in visuospatial and visuomotor skills in Neuropsychiatry, Neuropsychology and behavioral neurology vol.4, no:3, 1991.

Hadisubrata MS. Meningkatkan Intelegensi Anak Balita, Pola Pendidikan Untuk lebih Mencedarkan Anak Balita. BPK Gunung Mulia. 1999.

Ghozali EW. Kesukaran belajar. Jiwa Indonesia Psychiatry Quart XXX:3:1997.

Binnie CD. Significance and management of transitory cognitive impairment due to subclinical EEG discharges in children. Brain Development Jan-Feb;15(1), 1993.

Kasteleijn, Nolst-Trenite DG: Transient cognitive impairment during sub clinical epileptiform electroencephalographic discharges. Semin Pediatric Neurology. Dec; 2(4): 1995.

Binnie CD, Channon S, Marston DL. Behavioral Correlates of Interictal Spikes. In: Smith D, Treiman D, Trimble M (eds). Advances in Neurology. Raven Press Ltd. New York. 1991.

Zhadin MN. Formation of rhytmic processes in the Bio-Electrical activity of The Cerebral Cortex Biophysics, Vol.39, No:1, !994.

Tjahjono B. Gangguan daya ingat pada epilepsi. Simposium Neurobehaviour, FK UNS. 1992.