Peran Protein Histon, Anomali dalam Sistem Antibodi

9 tahun ago kesimpulan 0

(KeSimpulan) Para ilmuwan mengatakan mereka telah menemukan antibodi yang dapat mengurangi perdarahan besar pada trauma seperti luka akibat peluru atau kecelakan. Tim di Oklahoma Medical Research Foundation (OMRF) telah menemukan bahwa protein yang disebut histon bertanggung jawab atas kerusakan.

Mereka telah menemukan tipe spesifik antibodi yang dapat menghambat kemampuan histon untuk menyebabkan kerusakan. Ini bisa membawa cara baru untuk mengobati penyakit dan cedera serius. Laporan penelitian yang dipublikasikan pada jurnal Nature Medicine, peneliti OMRF menemukan bahwa ketika tikus dengan infeksi aliran darah (sepsis), ditemukan darah mereka mengandung histon sangat tinggi. Mereka juga memeriksa pada primata dan manusia, ternyata menemukan hasil yang sama.

Protein histon biasanya yang duduk dalam inti sel, berdesakan di sekitar untaian DNA. Protein ini mengatur DNA, menyebabkan lipatan dan membentuk karakteristik heliks ganda. Ketika sel rusak oleh cedera atau penyakit, histon dilepaskan ke dalam sistem darah untuk membunuh lapisan pembuluh darah, menyebabkan kerusakan. Perdarahan yang tidak terkendali dan cairan membanjiri jaringan, yang mengancam kehidupan. “Ketika kita menyadari bahwa begitu histon beracun, kami mencari cara untuk menghentikan kecenderungan mereka yang merusak,” kata Dr Charles Esmon, dari OMRF yang memimpin penelitian, seperti dikutip untuk BBC.

Marc Monestier, dari Temple University di Philadelphia, telah menemukan sebuah tipe spesifik antibodi yang dikenal sebagai monoclonal antibody dapat memblokir histon. Pasien dengan penyakit auto-imun membuat antibodi terhadap protein dalam inti sel tetapi tidak diketahui sebabnya. Antibodi ini berasal dari tikus dengan penyakit auto-imun. Tim yang OMRF menguji antibodi tikus dengan sepsis dan ternyata menghentikan efek racun dari histon dan mereka sembuh.

Mereka sekarang ingin mengujinya pada primata dan akhirnya manusia. Esmon mengatakan bahwa histon memiliki kesamaan pada semua mamalia karena mereka diibaratkan blok bangunan dasar. Jadi, antibodi tikus akan bekerja sama dengan baik pada manusia. “Ini bagian dari adaptasi selama evolusi. Jutaan tahun yang lalu, ketika orang-orang dan hewan jatuh sakit, mereka tidak mati. Kami yakin bahwa histon dalam inti sel, bagian dari bangunan dasar kehidupan, datu pertahanan terakhir,” kata Esmon.

Dr Stephen Prescott, presiden OMRF, mengatakan: “Temuan ini menawarkan beberapa petunjuk tentang mengapa orang yang menderita luka traumatik sering mengalami bencana ‘berjenjang’ dari peristiwa traumatik sekunder. Jika kita bisa mengetahui cara untuk mengontrol cedera awal, mungkin akan menghentikan efek domino yang begitu sering mengikuti.”

a | The core proteins of nucleosomes are designated H2A (histone 2A), H2B (histone 2B), H3 (histone 3) and H4 (histone 4). Each histone is present in two copies, so the DNA (black) wraps around an octamer of histones — the core nucleosome. b | The amino-terminal tails of core histones. Lysines (K) in the amino-terminal tails of histones H2A, H2B, H3 and H4 are potential acetylation/deacetylation sites for histone acetyltransferases (HATs) and histone deacetylases (HDACs). Acetylation neutralizes the charge on lysines. A, acetyl; C, carboxyl terminus; E, glutamic acid; M, methyl; N, amino terminus; P, phosphate; S, serine; Ub, ubiquitin.

Iklan