Perawatan Kesehatan Gigi

10 tahun ago kesimpulan 0
(kesimpulan) Bentuk gigi satu dengan yang lainnya tidak sama. Sebab gigi depan dan belakang berbeda bentuk dan gunanya. Misalnya gigi taring untuk menyayat, sedangkan gigi geraham untuk mengunyah, melambutkan makanan dan sebagainya. Secara umum gigi dibagi dalam tiga bagian, yaitu: 1) Mahkota (crown), bagian gigi yang dilapisi jaringan enamel terletak diluar jaringan gusi. 2) Akar (root), bagian gigi yang dilapisi jaringan sementara dan ditopang oleh alveolar dari maksila dan mandibula. 3) Leher Gigi (garis servikal / cemento-enamel junction), batas antara jaringan sementum dan enamel, yang merupakan pertemuan antara mahkota dan akar gigi.

Gigi tumbuh selama hidup, dua kali. Pertama disebut gigi susu atau gigi sulung. Gigi ini kemudian akan tanggal, diganti gigi dewasa atau gigi tetap. Dikatakan tetap karena akan tetap sampai tua kalau tidak sakit dan harus dicabut. Kelak akhirnya akan tanggal dan setelah tanggal tidak diganti lagi.

Bila gigi dibelah, maka gigi terdiri dari lapisan yang tidak sama. Lapisan terluar, pada mahkota disebut email. Di bawah email ada dentin, sedangkan didalamnya, lubang yang berisi sumsum. Sumsum ini dinamakan benak gigi atau pulpa. Di bagian akar gigi, tidak terdapat email. Akar gigi paling luar diselimuti semen atau sementum. Ini juga bagian yang keras, setelah semen disebelah dalam adalah dentin,ini merupakan lanjutan dari dentin di bawah email tersebut di atas.

Di sebelah dalam lagi adalah lubang saluran akar, merupakan lanjutan dari lubang di dalam mahkota tadi. Isi saluran, seperti disebutkan di atas adalah sumsum gigi atau benak gigi. Benak gigi ini terdiri dari pembuluh darah, serat-serat saraf, pembuluh limfe dan bagian-bagian yang berguna untuk mengikat bagian-bagian tersebut di dalam lubang itu. Pembuluh darah, saraf maupun limfe mempunyai tugas sendiri-sendiri dan semuanya berlanjut melalui saluran akar, kemudian keluar melalui lubang di pucuk akar gigi. Saraf pusat ada pada otak. Pembuluh darah dari dan jantung. Limfe pada kelenjar-kelenjar limfe.

Gigi mempunyai 3 fungsi yaitu untuk mengunyah makanan, berbicara, mendorong pertumbuhan rahang sehingga bentuk muka menjadi selaras atau mempertahankan bentuk tubuh.

Gingiva atau gusi adalah bagian dari mukosa oral (selaput lender mulut) yang menyelimuti prosesus alveolaris (supporting bone) dan mengelilingi serviks (leher) gigi. Bagian- bagian gingiva terdiri atas: 1) Free Marginal Gingiva, ini yakni gusi ujung atau tepi yang mengelilingi gigi dan tidak melekat pada gigi. 2) Free Gingiva Groove, lekukan pada bagian bukal dan labial yang dibatasi oleh dinding dalam free marginal gingiva, dasar sulkus dan ini tidak sama pada setiap orang. 3) Attached Gingiva (gusi melekat), bagian ini meluas mulai dari dasar lekuk gusi bebas (Free Marginal Groove) sampai pada Mucogingiva Junction (batas muco ginggiva). 4) Interdental Papilla, adalah bagian dari gingiva yang mengisi ruang interproksimal yakni antara dua gigi yang berdekatan. 5) Bila diperdalam, gusi ini masih ada bagian-bagiannya lagi yakni, alveolar mucosa. Antara alveolar mucosa dan attached gingival dibatasi oleh muco gingiva junction.

Kesehatan gusi dipengaruhi oleh kebiasaan menggosok gigi, apabila kebiasaan menggosok gigi yang tidak baik akan mengakibatkan kedalaman saku pada gusi. kedalaman saku pada gusi adalah ukuran saku gusi di sekeliling gusi yang dapat mengakibatkan penyakit atau gangguan yang terjadi di gusi akibat lepasnya perlekatan jaringan penyangga gigi.

Kedalaman saku pada gusi dapat menyebabkan berbagai keluhan, antara lain : gangguan estetika, sensitivutas pada waktu menggosok gigi, sensitivitas pada rangsangan termal, adanya karies diarea servikal, kesukaran pembersihan plak, mempermudah tanggalnya gigi, penyakit periodontal atau radang gusi.

Ada beberapa faktor yang berperan baik secara tunggal maupun dalam bentuk kombinasi pada Kesehatan gusi, yaitu: 1) Trauma Fisik. 2) Cacat Alveolar. 3) Posisi Gigi. 4) Morfologi Gigi. 5) Perlekatan Jaringan Lunak. 6) Penyakit

Kesehatan gusi dapat diukur dari kedalaman saku gusi dengan menggunakan alat yaitu Probe atau disebut Probe Periodontal. Bentuk kepalanya panjang, tipis dan berujung tumpul dengan garis-garis berukuran milimeter seperti mistar. Fungsi utamanya adalah untuk mengukur kedalaman saku pada gusi di sekitar gigi yang secara akurat dan memudahkan untuk menentukan tingkat kesehatan jaringan penyangga gigi.

Ujung probe dimasukkan ke dalam saku gusi di sekeliling gigi dengan tekanan ringan sampai ke dasar saku gusi. Kedalaman saku gusi normalnya berkisar 1 sampai dengan 3 mm. Kedalaman lebih dari 3 mm merupakan kelainan dan sering disebut sebagai lepasnya perlekatan jaringan gusi dari gigi yang merupakan salah satu gejala periodontitis atau radang gusi.

Menggosok gigi adalah cara yang umum yang dianjurkan untuk membersihkan deposit lunak pada permukaan gigi dan gusi. Metode Menggosok gigi yang memenuhi persyaratan yang ideal antara lain: 1) Teknik Menggosok harus dapat membersihkan semua permukaan gigi, khususnya daerah leher gingiva dan daerah interdental. Teknik Menggosok gigi memang dapat membersihkan daerah konveksitas tetapi tidak dapat membersihkan plak pada daerah-daerah yang lebih terlindung letaknya. 2) Gerakan sikat gigi tidak boleh melukai jaringan keras. Metode Menggosok horizontal dapat menimbulkan gusi berdarah dan abrasi gigi.

Teknik menggosok harus sederhana dan mudah dipelajari. Teknik yang dianggap mudah oleh individu tertentu mungkin saja dianggap sulit oleh individu lainnya. Teknik harus tersusun dengan baik sehingga setiap bagian gigi-geligi dapat disikat bergantian dan tidak ada daerah yang terlewatkan.

Teknik Roll yaitu Sikat diletakkan pada daerah pertama dari kedua belas daerah rahang dengan bulu-bulu yang terletak pada mucosa alveolar, menghadap ke luar dari permukaan oklusal. Sisi-sisi sikat menekan attached gingiva dan daerah sulkus. Bulu sikat kemudian diputar melewati gingiva kearah oklusal dengan tetap mempertahankan sisi sikat yang menekan jaringan (jaringan tampak pucat) dan dengan bulu sikat yang menyapu daerah embasur. Gerakan ini diulangi 8 kali untuk tiap daerah. Dengan menganggap bahwa daerah bukal telah disikat, maka Menggosok dapat dilanjutkan di lingual dan di ulangi untuk seluruh rahang. Baru kemudian permukaan oklusal digosok dengan gerakan ke depan dan ke belakang. Yang perlu diperhatikan pada Menggosok adalah sikat harus digunakan seperti sapu, bukan seperti sikat untuk menggosok. Sikat sering digerakkan secara vertikal untuk permukaan lingual gigi serta atas bawah.

Teknik Bass yaitu salah satu teknik yang popular dan tergantung pada penggunaan sikat plastik yang kecil dan berbulu jamak. Sikat digunakan pada daerah yang sama dengan cara serupa tetapi dengan sikat membentuk sudut 45 derajat terhadap sumbu panjang gigi-gigi dan mengarah ke sulkus dan diputar perlahan-lahan dalam putaran kecil tanpa menggerakan ujung sikat pada daerah servik. Dengan cara ini, daerah gingiva dari gigi dan poket dapat dibersihkan. Gerakan tersebut diulangi pada daerah yang berdekatan dengannya. Daerah lingual dari gigi-gigi depan disikat dengan sama tetapi dengan letak sikat yang vertikal.

Teknik Chater yaitu sikat diletakkan ke arah oklusal pada sudut 45 derajat, tidak terdapat gerak sikat pada sulkus gingiva tetapi terdapat gerak sudut 45 derajat, tidak terdapat gerak sikat pada sulkus gingiva tetapi terdapat gerak berputar untuk membersihkan embrasure proksimal.

Berbagai metode ini jarang diajarkan secara umum pada pasien tetapi kemampuan pasien untuk melakukan pengkontrolan plak yang baik dengan metode yang paling sederhana harus dievaluasi terlebih dahulu dan perbedaan susunan gigi, bentuk rahang dan besarnya, inklinasi dan kemampuan manual dapat mengubah cara pengajaran kepada pasien.

Secara teoritis gigi geligi cukup dibersihkan sekali sehari untuk mencegah agar plak tidak menempel pada daerah yang dapat merangsang timbulnya inflamasi gingiva. Meskipun demikian hanya beberapa individu yang dapat membersihkan gigi geliginya dengan baik dan benar, sehingga seluruh plak dapat dihilangkan dalam sekali Menggosok. Maka tetap perlu dilakukan Menggosok berulang kali, selain itu adanya sisa makanan atau plak yang menempel pada gigi biasanya akan menimbulkan rasa yang tidak enak, terutama untuk mereka yang sensitif terhadap rasa aneh yang ada dalam mulut.

Sudah menjadi aturan bahwa gigi geligi harus dibersihkan atau menggosok gigi setiap 2X sehari pada pagi dan malam hari dan setelah makan tentunya diperlukan kebiasaan membersihkan mulut teratur.

Lamanya waktu yang diperlukan untuk Menggosok gigi dan mulut yang sehat, idealnya selama 30-40 detik saja dengan menggunakan teknik Menggosok yang benar. Sedangkan untuk penderita penyakit gigi dan mulut misalnya gingivitis pada permulaannya dianjurkan untuk Menggosok giginya selama 1-2 menit sebagai latihan Menggosok gigi dengan benar dan efektif.

Penelitian yang berhubungan dengan jumlah berkas bulu pada kepala sikat gigi memberikan hasil yang sama baik atau lebih baik pada sikat yang memiliki berkas bulu sikat yang banyak. Sedangkan jenis bulu yang digunakan pada sikat gigi pada umumnya orang berpendapat bahwa bulu tiruan lebih disenangi berdasarkan pertimbangan kesehatan, bekerjanya abrasive, kemungkinan standarisasi atau sifat fisis lainnya. Kekakuan bulu sikat terutama ditentukan oleh ketebalan dan panjang bulu. Makin tebal bulu atau pendek bulu-bulunya kekakuan semakin meningkat, kebanyakan disebut sikat keras. Diperkirakan sikat keras mempunyai abrasivitas yang besar, tetapi berbagai penelitian menemukan perbedaan antara sikat keras dengan sikat lunak.

Sikat gigi yang biasa dipakai yang dapat mencapai kebersihan mulut yang efektif dengan jenis tertentu lebih baik dibiarkan saja. Tetapi lebih baik digunakan sikat dengan berkas bulu sikat yang banyak, dan hendaknya sikat gigi sering diganti terutama bila bulunya telah berubah atau rusak.

Sikat gigi dapat dibedakan dalam sikat gigi tangan biasa dan sikat gigi dengan tenaga listrik. Sikat gigi tangan yang sangat banyak macamnya yang sering dijumpai dipasaran berbeda dalam: 1) Bentuk dan besarnya tangkai dan kepala, 2) Posisi kepala terhadap tangkai, 3) Bulu alami atau tiruan, 4) Bulu-bulunya multi-tufted (banyak bekas bulu tiap kesatuan luas) atau space-tufted (sedikit berkas bulu tisp kesatuan luas), 5) Bulu dipotong membulat atau lurus, 6) Kekakuan dan kelenturan bulu, 7) Posisi berkas bulu terhadap kepala dan terhadap masing-masing berkas.

Lebih baik digunakan sikat dengan berkas bulu-bulu banyak. Alasan untuk ini adalah bahwa kenyataannya luas elemen-elemen dan gingiva yang berkontak dengan bulu sikat adalah terbesar pada sikat gigi dengan berkas bulu yang banyak. Hal yang merugikan adalah bahwa pembersihannya sukar. Sikat gigi dengan kepala yang tidak begitu besar biasanya lebih mudah digerakan di bagian belakang mulut. Sikat gigi yang terbaik adalah sikat gigi yang paling sering digunakan.

Sikat gigi keras tidak boleh digunakan oleh anak-anak dan remaja. Untuk penyikatan dengan metode bass lebih baik menggunakan sikat gigi yang lebih lunak, karena bulu sikat ditujukan agar dapat berputar pada daerah serviks ginggiva. Berikut ini adalah syarat-syarat sikat gigi yang baik: 1) Tangkai lurus dan mudah dipegang. 2) Kepala sikat kecil, sebagai acuan paling besar sama dengan jumlah lebar keempat gigi bawah. Hal ini dimaksudkan agar sikat mampu membersihkan pada bagian sempit dan dalam. 3) Bulu sikat harus sama panjangnya, sehingga membentuk permukaan yang datar. 4) Bulu sikat harus lembut, terbuat dari nilon dan tidak terlalu kaku. 5) Ujung bulu sikat harus membulat, untuk mencegah luka pada gusi. 6) Bulu sikat sebaiknya dengan berkas bulu banyak atau multi tufted (80-85 bulu per berkas). 7) Panjang bulu sikat untuk orang dewasa maksimal 10×12 mm, anak-anak 8×10 mm, balita 7×8 mm.

Eliza Herijulianti, dkk, 2002, Merawat Kesehatan Gigi dan Mulut, Jakarta: Gramedia.

Edi Hartini Sundoro, 2005, Serba-Serbi Ilmu Konservasi Gigi, Jakarta: UI Press.

Ircham Machfoedz dan Asmar Zein Yetti, 2005, Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Anak-Anak dan Ibu Hamil, Yogyakarta: Fitramaya.

Ircham Machfoedz dan Asmar Zein Yetti,1993, Penyakit-Penyakit Gigi dan Mulut Pencegahan dan Perawatannya. Yogyakarta: Liberty.

J.D. Manson, dan B.M. Eley, 1993, Buku Ajar Periodinti Edisi 2, Alih Bahasa, Anastasia S; editor Susianti K, Jakarta: Hipokrates.

Houwinket,1994, Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan.Alih Bahasa,Sutatmi;editor Suryo, Yogyakarta:UGM Press.

Peter F.Fedi, dkk, 2004, Silabus Periodinti, Alih Bahasa Amaliya; editor Lilian. Jakarta: EGC.

Iklan