Perayaan 400 Tahun Galileo Galilei dan Teleskop Pengutus Turunnya Wahyu Alam Semesta

8 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Sebuah perayaan atas revolusi manusia memandang dirinya, hanya dirayakan secara sederhana, meski dampaknya terhadap perubahan pola pikir manusia secara fundamental, revolusioner, dan menyudutkan kalangan ortodoks. Selasa, 25 Agustus 2009, “turun wahyu” tepat pada musim gugur 400 tahun lampau, astronom, matematikawan, dan filsuf dari Italia, Galileo Galilei menyelesaikan kreasinya kepada para saudagar di Venesia. Karya itu adalah teleskop yang membuat namanya abadi dalam dunia sains sekaligus mendorongnya ke dalam masalah.

Teleskop cokelat, kaku, dan ramping buatan Galileo bahkan tergolong kecil dibandingkan dengan standar yang banyak dibeli orang di toko-toko masa kini. Tapi teleskop dengan kekuatan hingga delapan kali perbesaran dan model lainnya yang lebih kuat yang dibuat kemudian membimbingnya ke serangkaian kesimpulan besar ketika digunakan mengintip langit. Galileo meneropong bulan, menemukan bahwa satelit bumi itu penuh dengan benjolan, retakan, dan kasar. Bulan yang diobservasi jauh dari gambaran bulat mulus seperti yang diyakini sebelumnya. Ketidaksempurnaan obyek luar angkasa juga ditunjukkan ketika teleskopnya mengungkap titik-titik hitam di wajah matahari. Dalam rangkaian pengamatan yang dilakukannya setahun kemudian, pada 1609, Galileo menemukan ada planet lain, yakni Jupiter dengan empat buah satelit.

Galileo telah mementahkan teori Aristoteles dan Ptolomeus yang diadopsi gereja bahwa semua obyek di langit berputar mengelilingi Bumi. Pada tahun yang sama Galileo menunjukkan planet yang lain lagi, Venus, menjalani fase-fase seperti bulan, sesuatu yang tidak mungkin terjadi jika keduanya, Venus dan matahari, mengorbit Bumi. Fenomena terakhir itu sejalan dengan yang pernah diprediksi Nicolaus Copernicus hampir seabad sebelumnya. Waktu itu Copernicus menyimpulkan pemikirannya tentang sistem planet dengan matahari sebagai pusatnya, bukan Bumi.

Pembankangan terbesarnya terhadap gereja adalah ketika Galileo mengungkapkan hasil observasi bahwa galaksi Bima Sakti tersusun dari bintang-bintang. Kesimpulan tesis Galileo bahwa Bumi bukanlah satu-satunya di alam raya dan jagad semesta sangat luas. Atas kesaksiannya itu mendorong berkembangnya teori-teori di masa kini seperti usia alam raya 13,7 miliar tahun, tiga kali lipat usia Bumi dan sekitar 100 ribu kali lebih tua daripada rentang kehidupan manusia sebagai sebuah spesies. Temuan Galileo jelas sebuah “wahyu” yang menyudutkan kalangan ortodoks dan gereja, mirip hukum seleksi alam dalam teori evolusi Darwin 150 tahun silam. Karena observasi dan kesimpulan itu Galileo akhirnya menghabiskan satu dekade terakhir hidupnya dalam tahanan rumah.

Kini, 400 tahun berselang dan Gereja Katolik mengakui kesalahan, Istituto e Museo di Storia della Scienza, Florence, Italia, menggelar pameran seputar Galileo dan observasinya. Koleksi atas ragam instrumen seperti manuskrip dan buku kuno, selain dua teleskop Galileo yang masih ada. Galileo menuangkan pandangan terhadap dunia yang heliosentris melawan geosentris ke dalam buku (Koran Tempo, Teleskop Galileo Dunia 400 Tahun Lalu dan Kini, Rabu 26 Agustus 2009)

Aristoteles
Jagad terdiri dari dua bagian yaitu Bumi (yang bisa korup) dan Surga (yang sempurna)

Ptolomeus (90-168)
Bumi adalah pusat alam raya dengan bulan, matahari, dan planet-planet bergerak mengitarinya.

Nicolaus Copernicus (1500)
Sistem planet berpusat pada matahari, bukan Bumi.

Gagileo (25 Agustus 1609)
Teleskop pertama dibuat. Observasi empat satelit planet Jupiter, Bima Sakti, Noktah di Matahari, dan Venus. Bumi dan planet lainnya berkelana mengitari Matahari.