Perdagangan Cula Badak Afrika dan Asia Semakin Mengkhawatirkan

9 tahun ago kesimpulan 0

+ World Wild Foundation (WWF)
+ International Union for Conservation of Nature (IUCN)
+ Traffic

(kesimpulan) Jual beli cula badak tergolong bisnis besar di Afrika dan Asia, sehingga kelompok konservasi satwa memperingatkan bahwa data penangkapan ilegal terkini tergolong fenomenal atau paling tinggi dalam waktu 15 tahun terakhir. Diperkirakan, jumlah badak yang terbunuh di wilayah selatan Benua Afrika meningkat empat kali lipat. Temuan data tersebut diungkapkan dalam pertemuan Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) di Jenewa.

Heather Sohl, petugas kebijakan spesies WWF mengatakan bahwa Badak sedang dalam situasi yang memilukan. Tahun 2009 menjadi yang paling buruk. Penangkapan badak merajalela dan sudah saatnya pemerintah setempat bereaksi. Ringkasan yang disusun WWF, International Union for Conservation of Nature (IUCN), dan Traffic tersebut mewaspadai sejumlah ancaman yang dihadapi satwa.

Perdagangan ilegal cula badak ke Asia mendorong pembunuhan lebih banyak badak, aktivitas ilegal, serta pengiriman cula badak ke luar Afrika telah meningkat dengan keterlibatan sejumlah pelaku berkebangsaan Vietnam, China, dan Thailand. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa perburuan badak menjadi problem besar. Di Asia, ada sekitar 10 bangkai badak ditemukan di India dan tujuh lainnya ditemukan di Nepal sejak Januari 2009.

Direktur Eksekutif Traffic, Steven Board mengatakan bahwa para aktivis satwa merasa cemas apabila keberhasilan penangkaran dan menambah populasi badak yang dilakukan beberapa dekade terakhir terhapus oleh peningkatan jumlah perburuan ilegal. Upaya nekat sejumlah pemburu dan pencuri mendapatkan cula dianggap telah keterlaluan dan jumlah populasi badak mengalami penurunan serius.

Sesuai dengan ketentuan CITES, hampir semua spesies badak masuk ke dalam Appendiks I, artinya segala bentuk perdagangan bagian tubuhnya untuk tujuan komersial melanggar hukum. Aktivis perlindungan satwa mendesak supaya masyarakat internasional diberi informasi yang akurat dan terkini mengenai status konservasi serta perdagangan badak di Afrika dan Asia.

Direktur Kelompok Konservasi Keragaman Hayati IUCN, Dr Jane Smart menyatakan bahwa IUCN dan kelompok pengamat badak Afrika dan Asia sedang mengumpulkan data dan informasi tersebut sehingga pihak-pihak yang tergabung dalam CITES bisa mengambil keputusan yang sesuai dan menjamin kelangsungan spesies ini untuk beberapa generasi ke depan. (Media Indonesia, Saat Perburuan Badak Memuncak, Selasa 14 Juli 2009).

Iklan