Perilaku Agresi

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Agresi menurut Robert Baron adalah tingkah laku individu yang ditujukan untuk melukai atau mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tersebut. Definisi agresi dari Baron ini mencakup empat faktor: tingkah laku, tujuan untuk melukai atau mencelakakan (termasuk mematikan atau membunuh), individu yang menjadi pelaku dan individu yang menjadi korban dan ketidakinginan si korban menerima tingkah laku si pelaku. Moore dan Fine mendefinisikan agresi sebagai tingkah laku kekerasan secara fisik ataupun secara verbal terhadap individu lain atau terhadap objek-objek.

Kenneth Moyer, yang menyatakan bahwa ada 7 tipe agresi:

  1. Agresi predatori: dipicu oleh kehadiran objek alamiah (mangsa), biasanya pada organisme atau species hewan yang menjadikan hewan dari species lain sebagai mangsanya.
  2. Agresi antar jantan: secara tipikal dipicu oleh kehadiran sesama jantan pada suatu species.
  3. Agresi ketakutan: dipicu oleh tertutupnya kesempatan untuk menghindar dari ancaman.
  4. Agresi tersinggung: dipicu oleh perasaan tersinggung atau kemarahan, respon menyerang muncul terhadap stimulus yang luas (tanpa memilih sasaran), baik berupa objek-objek hidup maupun objek-objek mati.
  5. Agresi pertahanan atau teritorial: dilakukan oleh organisme dalam rangka mempertahankan daerah kekuasaannya dari ancaman dan gangguan anggota speciesnya sendiri.
  6. Agresi maternal: spesifik pada species atau organisme betina (induk) yang dilakukan dalam upaya melindungi anak-anaknya dari berbagai ancaman.
  7. Agresi instrumental: dipelajari, diperkuat dan dilakukan utnuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.

Insting Kematian (Thanatos)

Sigmund Freud berpendapat bahwa seluruh perilaku manusia didorong oleh nafsu atau instingnya, di mana insting merupakan representasi neurologis dari kebutuhan-kebutuhan fisik-biologis. Awalnya Freud menamakan insting ini sebagai insting hidup. Insting ini mencakup: (a) kehidupan individual, dengan mendorong seorang individu memenuhi kebutuhan makanan dan minumnya, dan (b) kehidupan spesies, dengan mendorongnya untuk melakukan hubungan seks. Energi motivasional dari insting kehidupan ini berupa “kekuatan” yang mendorong seseorang untuk mencari makan dan lawan jenis yang oleh Freud disebut dengan libido (“aku berhasrat”).

Libido adalah sesuatu yang hidup; prinsip kenikmatan membuat seseorang terus bergerak dan berusaha bertahan hidup. Tujuan dan segala gerak dan usaha ini tetap belum terpenuhi, sehingga harus terus-menerus diusahakan agar terpenuhi, menjadi stabil dan tenang, serta tidak ada lagi kebutuhan. Di balik dan di samping insting hidup terdapat insting kematian, “tujuan hidup sebenarnya adalah mati”, setiap pribadi secara tidak sadar pasti ingin mati.

Kehidupan merupakan proses yang menyakitkan dan menakutkan, sebagian besar perjalanan manusia di dunia ini hidup dipersepsi penuh dengan penderitaan dan hanya sedikit bagian bahagia dan senang, sehingga kematian dianggap sebagai penyelesaian. Freud merujuk pada prinsip surga tentang adanya kedamaian, ketenangan, jauh dari segala bentuk dorongan dan rangsangan. Insting kematian menampakkan diri dengan jelas seperti pada saat ada keinginan untuk bunuh diri. Manusia juga mengarahkan insting ini ke luar diri sendiri, dalam bentuk perilaku agresi, kekejaman, pembunuhan atau pengrusakan.

Teori Belajar Sosial (Modelling)

Belajar model adalah proses menirukan tingkah laku orang lain yang dilihat, dilakukan secara sadar atau tidak. Sinonim dengan belajar model ini adalah imitasi, identifikasi dan belajar melalui observasi. Belajar model merupakan bentuk belajar yang kompleks. Teori Belajar Observasional (Observational Learning Theory) atau modelling dikembangkan oleh Albert Bandura. Asumsi dasar dari teori belajar observasional adalah sebagian besar tingkah laku individu diperoleh sebagai hasil belajar melalui pengamatan (observasi) atas tingkah laku yang ditampilkan oleh individu-individu lain yang menjadi model. Suatu tingkah laku dapat dipelajari dengan “melihat” saja.

Bandura mengadakan eksperimen pada sekelompok anak ditunjukkan sebuah adegan, ada orang dewasa (modelnya) berbuat sangat agresif terhadap sebuah boneka; sekelompok anak yang lain (kelompok kontrol) tidak melihat film tersebut. Kedua kelompok tadi masing-masing dimasukkan ke dalam ruangan yang sama dan diberi boneka yang sama. Hasilnya, kelompok anak yang melihat tingkah laku agresif dalam adegan tadi juga melakukan tingkah laku agresif seperti apa yang dilihatnya. Mereka lebih agresif daripada kelompok kontrol. Perbedaan ini juga masih nampak sesudah berselang waktu 6 bulan. meskipun tidak terlalu jelas lagi.

Model yang ditiru bukan hanya orang-orang yang konkrit, melainkan juga model-model simbolis, misalnya yang dilihat pada TV atau di dalam buku. Bentuk lain belajar-model yang simbolis adalah instruksi verbal. Misalnya instruksi untuk melakukan bentuk-bentuk kekerasan atau perilaku membunuh, hal ini biasanya disertai dengan demonstrasi tingkah laku.

Menurut Bandura harus ada empat persyaratan untuk dapat menirukan model dengan baik:

  1. Perhatian (suatu model tidak akan bisa ditiru bila tidak diadakan pengamatan);
  2. Retensi atau disimpan dalam ingatan (tingkah laku yang diamati harus bisa diingat kembali untuk bisa ditirukan juga bila model tidak lagi ada;
  3. Reproduksi motoris (untuk dapat menirukan dengan baik seseorang harus memiliki kemampuan motorisnya),
  4. Reinforcement dan motivasi (orang yang menirukan harus melihat tingkah laku itu sebagai tinkah laku yang dipersepsikan sebagai tindakan terpuji dan bermotivasi untuk menirukannya).

Frustrasi Agresi (Scape-goatism)

Suatu prasangka sosial dapat menjelma ke dalam tindakan-tindakan diskriminatif dan agresif terhadap golongan yang diprasangkai. Sebuah teori yang disebut teori frustrasi yang menimbulkan agresi. Orang-orang mengalami frustrasi apabila maksud-maksud dan keinginan-keinginan yang diperjuangkan dengan intensif mengalami hambatan atau kegagalan. Sebagai akibat dari frustrasi menimbulkan perasaan-perasaan agresif yang harus dipenuhi jalan keluarnya, sampai dipuaskannya dengan tindakan-tindakan yang agresif.

Apabila seseorang secara pribadi mengalami frustrasi yang ingin dipuaskannya secara agresif, mungkin menendang kursi atau memperlihatkan kejengkelannya dengan cara lain. Namun, apabila segolongan orang mengalami frustrasi tertentu yang menimbulkan agresi, maka dengan sangat mudah perasaan-perasaan agresif tersebut dilampiaskan kepada golongan lain yang diprasangkainya.

Teori ini disebut juga Scape-goatism Theory atau teori mencari kambing hitam, bahwa tindakan-tindakan agresif muncul berdasarkan perasaan-perasaan tertentu yang tidak dapat disalurkan secara wajar, tetapi meluap keluar mencari kambing hitam dan menyerangnya. Dan, kambing hitam itu biasanya golongan-golongan yang dikenai prasangka sosial.

PUSTAKA

Boeree, George. (2007). Personality Theories. Yogyakarta: Prisma Sophie.

Gerungan, W.A. (2004). Psikologi Sosial. Bandung: PT. Refika Aditama.

Koeswara, E. (2005). Agresi Manusia, Jakarta: PT.Eresco, Jakarta.

Monk, F.J., Knoers, Siti Rahayu Haditono. (2006). Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Suryabrata, Sumadi. 2003. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Iklan