Perilaku dan Motivasi Kesehatan

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Menurut Skiner perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Perilaku seseorang dapat berbeda dengan orang lain, perbedaan terjadi karena salah satunya dibentuk dari lingkungan. Green menyatakan bahwa perilaku adalah kegiatan manusia yang dapat dilihat secara langsung pada waktu tertentu. Perilaku manusia juga didorong oleh adanya aktivitas internal dalam kejiwaan (psyche) baik yang disadari maupun yang tidak disadari dan yang nampak maupun yang tidak nampak dengan tujuan untuk mendapatkan kenikmatan.

Teori Ekologis (Ecological Theory)
Suatu pandangan tentang perkembangan anak yang sangat berorientasi lingkungan sosial-kultural yang terdiri dari lima sistem lingkungan yaitu:

  1. Mikrosistem, adalah lingkungan di mana individu tinggal. Konteks ini mencakup keluarga individu, teman sebaya, sekolah, dan lingkungan tempat tinggal.
  2. Mesosistem, mencakup hubungan antara sistem mikro atau hubungan antar konteks. Contohnya adalah hubungan antara pengalaman keluarga dan pengalaman sekolah, pengalaman sekolah dengan pengalaman kerja, dan pengalaman keluarga dengan pengalaman teman sebaya.
  3. Eksosistem, yaitu pengalaman dalam lingkungan sosial lain di mana individu tidak mempunyai peran aktif mempengaruhi apa yang dialami individu.
  4. Makrosistem, yaitu melibatkan budaya di mana individu hidup. Budaya menunjuk pada pola tingkah laku, kepercayaan, dan semua produk lain dari sekelompok manusia yang diwariskan dari generasi ke generasi.
  5. Kronosistem, mencakup pola-pola kejadian lingkungan dan transisi sepanjang perjalanan hidup dan kondisi sosial-sejarah.

Teori Kondisioning Operan (Operant Conditioning)

Perilaku terbentuk dari adanya reinforcement yaitu stimulan penggugah (reward atau penguatan positif) dan stimulan aversif (punishment atau penguatan negatif). Reward kepada anak dapat berupa tindakan fisik secara langsung yang memberi rasa enak atau menyenangkan. Punishment kepada anak dapat berupa tindakan fisik secara langsung yang memberi rasa sakit atau tidak menyenangkan. Reward dan punishment dapat pula berupa verbalisasi atau sikap negatif.

Teori Belajar Sosial (Social Learning Theory)

Formula Albert Bandura mengemukakan bahwa manusia belajar dari proses modeling. Pembentukan perilaku tidak lepas dari proses meniru setiap perilaku yang ditunjukkan lingkungan. Empat proses peniruan yang dilakukan setiap individu yaitu:

  1. Proses Perhatian. Permulaan proses belajar adalah munculnya peristiwa yang dapat diamati secara langsung atau tidak langsung oleh seorang individu. Peristiwa ini dapat berupa tindakan tertentu atau gambaran pola pemikiran yang disebut Bandura sebagai abstract modeling.
  2. Proses Pengingatan (Retention). Dalam proses ini harus sanggup menyimpan hasil pengamatan dalam benaknya dan memanggilnya kembali ketika akan bertindak sesuai dengan model yang diberikan. Untuk mengingat, peristiwa yang diamati harus direkam dalam bentuk imaginal dan verbal. Yang pertama disebut visual imaginery; di sini gambaran mental tentang peristiwa-peristiwa yang mereka amati dan menyimpan gambaran itu dalam memori. Yang kedua menunjukkan representasi peristiwa dalam bentuk bahasa.
  3. Proses Reproduksi Motoris. Proses ketiga menghasilkan kembali perilaku atau tindakan yang diamati. Namun apakah betul-betul melaksanakan perilaku yang diteladani tersebut, bergantung pada motivasi yang dimiliki. Untuk itu, perlu memasuki tahap belajar sosial.
  4. Proses Motivasional. Motivasi bergantung pada peneguhan. Peneguhan ada tiga macam, yakni peneguhan eksternal, peneguhan gantian, dan peneguhan diri.

Teori Humanistik (Need Hierarchy Theory)

Maslow menyebutkan bahwa perilaku manusia didorong oleh adanya kebutuhan (needs) atau rasa nyaman yang ingin dicapai, dorongan tersebut kemudian disebut dengan motivasi. Lima motivasi yang mendorong kebutuhan manusia untuk membentuk perilaku yaitu:

  1. Kebutuhan Fisik (Physiological Needs). Kebutuhan dasar manusia yaitu makan, minum, tidur, istirahat, seksual, gizi, hidup sehat, dan sebagainya.
  2. Kebutuhan Rasa Aman (The Safety Needs). Kebutuhan untuk terbebas dari ancaman baik ancaman secara ekonomi maupun sosial.
  3. Kebutuhan Sosial (The Social Needs). Kebutuhan untuk mendapatkan perhatian, cinta, dan kasih sayang dari orang lain.
  4. Kebutuhan Dihargai (The Esteem Needs). Kebutuhan untuk dihargai dan dihormati oleh orang lain.
  5. Kebutuhan Aktualisasi (The Actualization Needs). Kebutuhan untuk mengekspresikan diri, berprestasi, menyalurkan hobby, dan kesenangan.

Jika dikaitkan dengan kesehatan maka suatu tindakan atau aktivitas individu baik disadari maupun tidak disadari dan nampak maupun tidak nampak yang didorong oleh adanya kebutuhan (needs) mencapai tujuan sehat. Meskipun perilaku adalah bentuk respons atau reaksi terhadap stimulus atau rangsangan dari luar organisme (orang), namun dalam memberikan respons sangat tergantung pada karakteristik atau faktor-faktor lain dari orang yang bersangkutan. Hal ini berarti meskipun stimulusnya sama bagi beberapa orang, namun respons tiap-tiap orang berbeda.

Faktor-faktor yang pembeda respons terhadap stimulus yang berbeda disebut determinan perilaku yang dapat dibedakan menjadi dua, yakni:

  1. Determinan atau faktor internal, yang bersangkutan, yang bersifat melekat seperti tingkat kecerdasan, tingkat emosi, dan sebagainya.
  2. Determinan atau faktor eksternal, yakni lingkungan, baik lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya. Faktor lingkungan ini sering merupakan faktor yang dominan yang mewarnai perilaku seseorang.

Perilaku kesehatan adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan dan minuman, serta lingkungan.

Dari batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok:

  1. Perilaku pemeliharaan kesehatan (Health maintanance). Perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit. Oleh sebab itu, perilaku pemeliharaan kesehatan ini terdiri dari 3 aspek yaitu: 1) Perilaku pencegahan penyakit dan penyembuhan penyakit bila sakit, serta pemulihan kesehatan bilamana telah sembuh dari penyakit. (2) Perilaku peningkatan kesehatan, apabila seseorang dalam keadaan sehat. (3) Perilaku gizi (makanan) dan minuman. Makanan dan minuman dapat memelihara serta meningkatkan kesehatan seseorang.
  2. Perilaku pencarian pengobatan (health seeking behaviour). Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan.
  3. Perilaku kesehatan lingkungan. Bagaimana seseorang merespons lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial budaya, dan sebagainya, sehingga lingkungan tersebut tidak mempengaruhi kesehatannya.

Becker membuat klasifikasi lain tentang perilaku kesehatan ini yaitu:

  1. Perilaku hidup sehat. Suatu upaya untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya. Perilaku ini mencakup antara lain: (1) Makan dengan menu seimbang (appropriate diet). (2) Olahraga teratur. (3) Tidak melakukan hal yang jelek seperti merokok, minuman keras, narkoba, dan sebagainya. (4) Istirahat cukup. (6) Mengelola stres. (7) Perilaku atau gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan.
  2. Perilaku sakit (illness behaviour). Perilaku sakit ini mencakup respons seseorang terhadap sakit dan penyakit, persepsinya terhadap sakit, pengetahuan tentang: penyebab dan gejala penyakit, pengobatan penyakit, dan sebagainya.
  3. Perilaku peran sakit (the sick role behaviour). Dari segi sosiologi, orang sakit (pasien) mempunyai peran yang mencakup hak-hak orang sakit (right) dan kewajiban sebagai orang sakit (obligation). Hak dan kewajiban ini harus diketahui oleh orang sakit sendiri maupun orang lain (terutama keluarganya), yang selanjutnya disebut perilaku peran orang sakit (the sick role). Perilaku ini meliputi: (1) Tindakan untuk memperoleh kesembuhan. (2) Mengenal dan mengetahui fasilitas atau sarana penyembuhan penyakit yang layak. (3) mengetahui hak (misalnya: hak memperoleh perawatan, memperoleh pelayanan kesehatan, dan sebagainya) dan kewajiban orang sakit (memberitahukan penyakitnya kepada orang lain terutama kepada dokter/petugas kesehatan, tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain, dan sebagainya).

Almatsier, Sunita. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 2002

Boeree, George. Personality Teories. Yogyakarta: Prima Sophie. 2007.

Gottlieb, B.H. Social Support Strategis Guardedness for Mental Health Practice. New York: Sage Publication. 2003

Machfoedz, Ircham dan Eko Suryani. Pendidikan Kesehatan Bagian Dari Promosi Kesehatan. Yogyakarta: Fitramaya. 2006.

Moehiji, S. Ilmu Gizi 2: Penanggulangan Gizi Buruk. Jakarta: Papas Sinar Siranti. 2003.

Notoatmojo, Soekidjo. Promosi kesehatan: Teori dan aplikasi. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta. 2007.

Nursiah. A.G. Penyuluhan Konsultasi dan Rujukan Gizi. Modulu Short Couse, Manajemen Instalai Gizi. Yogyakarta. 2000

Santrock, John W. Adolescence: Perkembangan Remaja. Jakarta: Penerbit Erlangga. 2003.

Suryabrata, Sumadi. Psikologi Kebribadian. Jakarta: Rajawali Pers.2005.

Iklan