Persaingan Usaha Dalam Industri Perbankan

10 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Sudah menjadi kesepahaman umum bahwa industri perbankan memiliki karakteristik yang berbeda dibanding industri lainnya. Dengan demikian, berbeda dari kondisi industri pada umumnya, persaingan yang terlalu ketat (overcompetition) dalam industri perbankan akan memaksa bank untuk mengambil excessive risk (terutama dalam persaingan untuk pasar kredit dan deposito). Hal tersebut dapat menjurus kepada ketidakstabilan sistem keuangan, di mana kesimpulannya adalah persaingan yang ketat dalam pasar deposit akan mengakibatkan excessive risk taking oleh bank, walaupun sudah terdapat mekanisme penjaminan simpanan. Akibatnya adalah muncul kesan bahwa terdapat trade off antara kestabilan dan persaingan dalam industri perbankan.

Namun demikian, kesan bahwa terdapat trade off antara persaingan dengan kestabilan dalam industri perbankan juga mendapat pertanyaan atau diragukan validitasnya. Beberapa akademisi menyimpulkan bahwa persaingan antar bank akan menekan tingkat suku bunga kredit, sehingga mengurangi probability risk of default debitur yang pada akhirnya akan menjam in kestabilan sistem perbankan. Sedangkan pengaturan mengenai pembatasan modal (capital requirement) akan mendorong bank untuk mengurangi diffrensiasi produk/jasa (menjadi lebih homogen), sehingga justru akan menimbulkan persaingan yang lebih ketat.

Dalam implementasi untuk industri perbankan, isu pertentangan antara kebijakan yang pro stabilitas melawan pro persaingan juga masih belum terselesaikan. Pihak yang mendukung kebijakan pro stabilitas cenderung menginginkan adanya pengaturan yang ketat (entry barrier), kebijakan yang mendorong merjer/akuisisi serta adanya bank yang too big to fail. Dampaknya adalah, adanya keinginan agar industri perbankan dapat dikecualikan atau perlu memperoleh pelakuan khusus dari hukum persaingan usaha. Sementara pihak yang lebih pro terhadap kebijakan persaingan, menginginkan agar terdapat minimum entry barrier serta perlunya pengaturan persaingan yang dapat mengurangi kemungkinan timbulnya dominant position oleh suatu atau sekelompok bank tertentu. Dalam laporan sub working group tentang Antitrust Enforcement in Regulated Sectors, ICN merekomendasikan bahwa kebijakan dan hukum persaingan usaha harus bersifat general (umum) serta lintas industri. Dengan demikian, indstri perbankan masuk dalam jangkauan wilayah hukum persaingan. Dalam laporan yang sama pula, dianjurkan kepada segenap otoritas persaingan usaha yang merupakan anggota ICN untuk tidak memberlakukan pengecualian khusus terhadap industri perbankan (ICN, 2005).

Pro dan kontra mengenai isu trade off antara persaingan dan kestabilan, dapat dijelaskan secara umum melalui dua mahzab teori besar dalam Industrial Organization. Mahzab pertama disebut Structure Conduct Performance (SCP) dimana diyakini bahwa struktur pasar akan mempengaruhi kinerja suatu industri. Aliran ini didasarkan pada asumsi bahwa Struktur pasar akan mempengaruhi perilaku dari perusahaan yang pada akhirnya akan mempengaruhi kinerja perusahaan dan industri secara agregat. Dari sudut pandang persiangan usaha, struktur pasar yang terkonsentrasi cenderung berpotensi untuk menimbulkan berbagai perilaku persiangan usaha yang tidak sehat dengan tujuan untuk memaksimalkan profit. Perusahaan bisa memaksimalkan profit (P>MC) karena adanya market power, sesuatu yang lazim terjadi untuk perusahaan dengan pangsa pasar yang sangat dominan (dominant position).

Mahzab teori alternatifnya adalah Relative Efficiency (RE). Aliran ini mengcounter asumsi SCP, dimana diyakini bahwa efisiensi perusahan dapat mengakibatkan marjin (kinerja) yang tinggi, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan pangsa pasarnya. Dengan demikian, struktur pasar tidak selalu mempengaruhi kinerja. Aliran RE mengkhawatirkan bahwa pengaturan yang terlalu ketat terhadap struktur pasar (seperti yang direkomendasikan aliran SCP) justru akan mengurangi insentif perusahaan untuk meningkatkan efisiensinya.

Struktur industri Perbankan Indonesia Kebijakan pemerintah untuk menutup 16 bank ketika krisis ekonomi melanda sejak 1998, telah mengubah secara dramatis struktur industri perbankan nasional. Bahkan, dari beberapa kesempatan, BI jelas mengindikasikan bahwa proses pemulihan/penguatan industri perbankan akan dilakukan melalui merjer/akuisisi yang didorong oleh BI. Pada akhir Januari 2005, Bank Indonesia menerbitkan beberapa peraturan yang dipandang oleh beberapa kalangan sebagai upaya untuk mendorong proses konsolidasi perbankan). Pelonggaran aspek BMPK terutama untuk penempatan dana bank pada bank lain (Pakjan 2005) adalah contoh kebijakan yang dindikasikan untuk mendorong proses konsolidasi tersebut. Diharapkan dengan adanya dorongan tersebut, kalangan perbankan agar segera mempersiapkan diri, dengan demikian, struktur perbankan ideal versi Arsiktektur Perbankan Indonesia (API) segera terbentuk menjelang 2010.

Kalau dilihat berdasarkan komposisi terakhir, struktur perbankan kita didominasi oleh bank dengan kategori fokus (sebanyak 81 bank) dengan rentang modal antara 100 milyar sampai 10 trilliun. Sementara bank kategori nasional (dengan rentang modal 10 triliun-50 triliun) hanya sejumlah 3 buah dan bank yang masuk kategori paling bawah yaitu bank dengan kegiatan terbatas (modal di bawah 100 milyar) berjumlah 52 bank. Beberapa pengamat memperkirakan bahwa upaya konsolidasi perbankan, nantinya akan diarahkan untuk memperkuat permodalan perbankan sekaligus membentuk bank yang berskala internasional (dengan modal >50 triliun). Ditargetkan bahwa bank skala internasional nantinya hanya berjumlah dua atau tiga bank saja.

Tujuan berbagai kebijakan tersebut adalah untuk menciptakan bank yang kuat dan stabil (dari sudut pandang permodalan maupun prudentiality serta kinerja). Namun harus disadari bahwa kebijakan untuk mendorong merjer/akuisisi tersebut dari sisi persaingan usaha akan dapat menimbulkan berbagai permasalahan, terutama terkait dengan potensi timbulnya posisi dominan serta berbagai praktek penyalahgunaanya.

Dengan pengecualian Inggris dan Jepang, jelas terlihat bahwa terdapat hubungan negatif antara jumlah bank dengan tingkat konsentrasi pangsa pasar (diukur melalui rasio pangsa aset untuk 3 bank terbesar atau CR3). Makin sedikit jumlah bank, makin tinggi tingkat konsentrasi pangsa asetnya. Hal tersebut memang sejalan dengan mahzab klasik Structure Conduct-Performance. Secara empiris, bukti adanya market power dalam industri perbankan di kawasan Eropa (dimana jumlah bank cenderung sedikit dengan tingkat konsentrasi yang relatif tinggi), bukti keberadaan market power dalam industri perbankan Belanda dan Finlandia. Sementara, beberapa kajian tidak menemukan adanya market power, seperti industri perbankan di Amerika Serikat (yang memiliki bank dalam jumlah besar). Hasil yang serupa juga diperoleh di wilayah Kanada.

Selanjutnya adalah kondisi struktur industri perbankan Indonesia berdasarkan tiga proxy pasar relevan, yaitu Aset, Kredit dan deposito. Terdapat indikasi penurunan konsentrasi untuk pasar deposit dan asset. Sementara, untuk pasar kredit justru terdapat indikasi terjadinya peningkatan konsentrasi. Belum terdapat indikasi yang mengkhawatirkan terhadap struktur industri perbankan. Namun demikian, kondisi struktur industri perbankan sudah menunjukkan indikasi yang mengkhawatirkan. Berbagai kebijakan yang mendorong proses konsolidasi perbankan melalui merjer/akuisisi diyakini akan mengurangi jumlah bank (sesuai dengan keinginan BI) sehingga akan lebih m eningkatkan konsentrasi pangsa pasar perbankan.

Dalam kondisi yang demikian, diyakini bahwa bank akan cenderung melakukan abuse dari posisinya yang dominant tersebut diantaranya melalui kebijakan penetapan harga, entry barrier serta berbagai praktek diskriminasi yang semuanya dapat dikateorikan sebagai praktek persaingan usaha tidak sehat (berdasarkan UU No5/1999). Akibatnya adalah alokasi sumber daya yang tidak efisien (secara agregat) serta merugikan konsumen atau dalam hal ini adalah sector riil karena harus membayar suku bunga yang tidak kompetitif.

Pustaka

Besanko. D. and V. Thakor. (1993). Relationship banking, Deposit Insurance and Bank Portfolio Choice. Capital Market and Financial Intermediation. Cambridge Cambridge University Press.

Berger, A.N. and T.H. Hannan. (1992). The Price Concentration Relationship in Banking. Review of Economics and Statistics 71 (2).

B e J.A and J.M. Groenveldt. (2000). Competition and Concentration in the EU Banking Industry. Kredit und Kapital 33 (1).

Broecker, T. (1990). Credit Worthiness Test and Interbank Competition. Econometrica (58).

Calem, P.S and G.A Carlin. (1991). The Concentration/Conduct Relationship in Bank Deposit Market. Review of Economic and Statistics. 73 (2).

De Bandt, 0 and E. P. Davis. (2000). Competition, Contestability and Market Structure in The European Banking Sectors in the eve of EMU. Journal of Banking and Finance 24(6).

Gilbert, R.A. (1984). Bank Market Structure and Competition:A Survey. Journal of Money Credit and Banking 16 (4).

Goldberg, L.G and A. Rai. (1996). The Structure Performance Relationship for European Banking. Journal of Banking and Finance 20 (4).

Hannan, T.H and J. Liang (1993). Inferring Market Power from Time Series Data. International Journal of Industrial Organization 11 (2).

Hannan, TH. (1991). Foundation of the Structure Conduct Performance Paradigm in Banking. Journal of Money, Credit and Banking 23 (1).

International Competition Network. (2005). Antitrust Enforcement in Regulated Sectors-Banking Industry. Working Group Report.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha. (2004). Kajian Industri dan Perdagangan Sektor Perbankan.

Koskela, E. and R. Stenbacka. (2000). Is there a trade off between Bank Competition and Financial Fragillity? Journal of Banking and Finance. (12).

Matutes, C. and X. Vives. (2000). Imperfect Competition, Risk Taking and Regulation in Banking. Europan Economic Review.

Neven, D. and R.H. Roller. (1999). An Aggregate Structural Model of Competition in The Europan Banking Industry. International Journal of Industrial Organization 17 (7).

Punt, L.W and J. Van Rooij. (2001). The Profit Structure Relationshipand Mergers in Europan Banking Industry: An Empirical Assesment. DNB Staff Reports. The Netherlands Bank, Am sterdam.

Riordan, M.H. (1993). Competition and Bank Performance: A Theoritical Perspective. Capital Market and Financial Intermediation. Cambridge University Press. Cambridge.

Schargrodsky, E. and F. Sturzenegger. (2000). Banking Regulation and Competition with Product Diffrentiation. Journal of Development Economics 12 (1).

Shaffer,S. (1989). Competition in The US Banking Industry. Economic Letter 29(4).

Shaffer, S. (1993). A Test of Competition in Canadian Banking. Journal of Money, Credit and Banking. 25(1).

Swank, J. (1995). Oligopoly in Loan and Deposit Market: An Econometric Approach in Netherlands. De Economist 143(3).

Suominen, M. (1994). Measuring Competition In Banking: A Two Product Model. Scandinavian Journal of Economics. 96(1).

Toolsema, L. A. (2004). Monetary Policy and Market Power in Banking. Journal of Economics.

Iklan