Persoalan-Persoalan Mendasar Filsafat

9 tahun ago kesimpulan 0
(kesimpulan) Filsafat mencoba memberikan gambaran tentang pemikiran manusia sebagai suatu keseluruhan, dan bahkan tentang Realitas jika hal ini diyakini bisa dilakukan; namun dalam prakteknya isi informasi riil yang diberikan filsafat yang melebihi dan melampaui ilmu-ilmu khusus cenderung kabur, sehingga sebagian orang melihat semuanya telah tercakup di dalamnya. Ewing menyatakan bahwa sejauh ini filsafat gagal membuktikan klaim-klaim besarnya dan bahwa jika dibandingkan dengan ilmu-ilmu khusus, filsafat tidak mampu menciptakan kumpulan pengetahuan yang disepakati bersama. Hal ini diantaranya disebabkan ketika diperoleh pengetahuan yang disepakati bersama sebagai jawaban atas suatu pertanyaan, pertanyaan tersebut dianggap bagian dari ilmu pengetahuan dan bukan bagian dari filsafat. Istilah “filsuf” semula bermakna “pecinta kebijaksanaan”, dan berasal dari jawaban yang diberikan oleh Phytagoras ketika ia disebut “bijak”. Ia berkata bahwa kebijaksanaannya hanya berarti kesadaran bahwa ia bodoh, sehingga ia semestinya tidak disebut “bijak”, melainkan “seorang pecinta kebijaksanaan”. Di sini “kebijaksanaan” tidak dibatasi pada bagian tertentu dari pemikiran, dan “filsafat” dahulu dipahami sebagai suatu pemikiran yang mencakup apa yang sekarang ini kita sebut “ilmu-ilmu pengetahuan”. Pemahaman ini masih berlaku dalam frase-frase seperti “Bapak Filsafat Alam” (Chair of Natural Philosophy). Ketika sejumlah besar pengetahuan khusus mulai diperoleh dalam bidang tertentu, studi bidang tersebut berpisah dari filsafat dan menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Ilmu pengetahuan yang terakhir kali berpisah adalah Psikologi dan Sosiologi. Dengan demikian, ada kecenderungan dalam wilayah filsafat untuk mengerut ketika terjadi kemajuan pengetahuan. Ewing menolak menganggap pertanyaan-pertanyaan yang bisa dijawab secara empiris sebagai hal yang filosofis. Namum, hal ini tidak berarti bahwa filsafat akhirnya akan mengerut menuju ketiadaan. Konsep-konsep fundamental dalam ilmu pengetahuan dan gambaran umum tentang pengalaman manusia dan tentang realitas, jika benar-benar meyakininya, tetap berada dalam wilayah filsafat, karena pada hakikatnya mereka tidak dapat dideterminasi oleh metode-metode ilmu pengetahuan tertentu manapun. Para filsuf belum berhasil memperoleh kesepakatan berkaitan dengan persoalan-persoalan ini, namun kita tidak boleh menyimpulkan bahwa, ketika tidak ada hasil kesepakatan, semua ikhtiar telah dibuang percuma. Dua filsuf yang berbeda pendapat mungkin sama-sama memberikan kontribusi yang bernilai, kendati mereka belum berhasil membebaskannya secara sempurna dari kesalahan, dan penjelasan filsuf yang satu akan dianggap sebagai penjelasan tambahan bagi yang lain. Fakta bahwa para filsuf perlu saling melengkapi satu sama lain memunculkan poin bahwa berfilsafat bukan hanya merupakan proses individual, tetapi juga proses sosial. Salah satu pembagian kerja yang bermanfaat adalah penekanan yang diberikan oleh orang yang berbeda-beda pada sisi yang berbeda-beda dari satu pertanyaan yang sama. Namun, banyak filsafat lebih berhubungan dengan cara kita memahami segala sesuatu daripada dengan segala sesuatu yang kita ketahui, dan hal ini adalah alasan lain kenapa filsafat terlihat kekurangan isi. Tapi berbagai diskusi yang dilakukan menyoal tentang kriteria tertinggi dari kebenaran mungkin akhirnya akan menentukan proposisi mana yang kita putuskan yang pada prakteknya benar adanya. Diskusi-diskusi filosofis tentang teori pengetahuan secara tidak langsung telah memiliki efek penting pada ilmu-ilmu pengetahuan.

MANFAAT FILSAFAT

Kebahagiaan mencari kebenaran. Tidak ada keraguan bahwa salah satu sumber penting kebahagiaan bagi orang yang bisa menikmatinya adalah pencarian kebenaran dan kontemplasi tentang realitas, dan inilah yang menjadi tujuan seorang filsuf.

Mempengaruhi pandangan umum dengan ide-ide. Bukan hanya hal ini yang bisa dikatakan atas nama filsafat. Karena, selain nilai yang dimilikinya dalam dirinya sendiri yang melebihi dan melampaui efek-efeknya, filsafat secara terus menerus telah memiliki, meski kita boleh melupakan hal ini, pengaruh tak langsung yang penting terhadap kehidupan orang-orang termasuk mereka yang tidak pernah mendengar subyek ini sekalipun. Karena filsafat disampaikan secara tidak langsung melalui khotbah, literatur, surat kabar dan tradisi oral dan mempengaruhi keseluruhan pandangan umum tentang dunia. Ide-ide yang telah memainkan peran kuat dalam pemikiran umum seperti ini, bahkan pada tingkat populer seperti ide bahwa tak seorang pun yang boleh diperlakukan sebagai suatu alat atau bahwa pemerintah seharusnya bergantung pada persetujuan yang diperintah (rakyat), sebenarnya berasal dari para filsuf. Dalam wilayah politik, konsepsi-konsepsi filosofis memiliki pengaruh kuat. Misalnya, konstitusi Amerika, dalam beberapa hal merupakan aplikasi dari ide-ide politik John Locke, yang mengganti pangkat raja yang turun-temurun dengan presiden, dan ide-ide Rousseau diakui telah memainkan peran besar dalam Revolusi Prancis 1789.

Pengetahuan dan tinjauan ke masa depan, dan pengertian tentang nilai kehidupan. Ketika peradaban mencapai puncak, ketiadaan filsafat hidup yang harmonis yang melanda seluruh komunitas memunculkan dekadensi, kebosanan, dan mengendurnya ikhtiar”. Baginya, pentingnya filsafat didasarkan pada fakta bahwa filsafat merupakan “ikhtiar untuk mengklarifikasi berbagai keyakinan fundamental yang akhirnya menentukan tekanan perhatian yang mendasari karakter”.

Mengatasi permasalahan-permasalahan yang tidak dapat dipecahkan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tidak dapat menggantikan filsafat, tapi ia sendiri memunculkan persoalart-persoalan filosofis. Karena iJmu pengetahuan sendiri mustahil memberitahu kita di manakah letak wilayah fakta-fakta yang dibahasnya di dalam keseluruhan skema benda-benda atau bahkan bagaimana fakta-fakta tersebut berhubungan dengan pikiran manusia yang mengobservasinya. Ia bahkan tidak mampu menunjukkan, kendati ia pasti mengasumsikan, eksistensi dunia fisik atau legitimasi atas penggunaan prinsip-prinsip umum induksi untuk memprediksikan apa yang mungkin terjadi atau menjelaskan di luar apa yang secara aktual telah terjadi.

PEMBAGIAN UTAMA DALAM FILSAFAT

Metafisika. Bagian filsafat ini dipahami sebagai studi tentang hakikat realitas dalam aspek-aspek yang paling umum, jika ia bisa kita capai. Bagian filsafat ini membahas pertanyaan seperti “Bagaimana hubungan antara materi dan pikiran? Manakah yang lebih primer?” “Apakah manusia itu merdeka?” “Apakah diri (self) merupakan substansi atau hanya suatu rangkaian dari pengalaman?” “Apakah alam semesta bersifat tidak terbatas?” “Apakah Tuhan itu ada?” “Sejauh manakah alam semesta menjadi suatu kesatuan dan sejauh manakah ia menjadi suatu keragaman?” Sejauh manakah sistem yang rasional itu?”

Epistemonology. Akhir-akhir ini metafisika itu (atau kadangkala disebut sebagai filsafat spekulatif) sering dibenturkan dengan “Filsafat Kritis”. Filsafat ini tercapai dalam analisis dan kritik atas konsep-konsep nalar awan (common sense) dan ilmu pengetahuan. Ilmu-ilmu pengetahuan mengandaikan konsep-konsep tertentu yang tidak otomatis bisa diinvestigasi dengan metode-metode ilmiah dan oleh karenanya masuk ke dalam wilayah filsafat. Ilmu ini membahas pertanyaan seperti “Bagaimana kita mendefinisikan kebenaran?” “Apa perbedaan antara pengetahuan dan keyakinan?” “Dapatkah kita mengetahui sesuatu dengan pasti?” “Apakah fungsi relatif dari intuisi dan pengalaman-indera?”

CABANG-CABANG STUDI YANG TERKAIT

Logika. Cabang ilmu ini sulit dipisahkan dari epistemologi namun secara umum dianggap sebagai disiplin yang berbeda. Logika adalah studi tentang berbagai jenis pro­posisi yang berbeda dan hubungan di antara mereka yang menjustifikasi kesimpulan. Beberapa bagian dari studi ini berhubungan erat dengan matematika, sebagian yang lain mungkin bisa diklasifikasikan termasuk ke dalam epistemologi.

Etika atau Filsafat Moral. Berhubungan dengan nilai-nilai dan konsepsi tentang “seharusnya”. Studi ini mengajukan pertanyaan seperti “Apakah kebaikan yang utama?” “Apakah definisi tentang baik?” “Apakah kebenaran suatu tindakan hanya bergantung pada konsekuensinya?” Apakah penilaian kita tentang apakah yang seharusnya kita lakukan bersifat subyektif atau obyektif?” “Apakah fungsi dari hukuman?” “Apakah alasan utama kenapa kita seharusnya tidak berbohong?”

Filsafat Politik. Aplikasi filsafat (terutama etika) pada persoalan yang berhubungan dengan individu-individu yang terorganisir di dalam suatu negara. Filsafat ini mernpertimbangkan pertanyaan seperti “Apakah individu memiliki hak ketika berhadapan dengan negara?” “Apakah negara melampaui dan berada di atas individu?” “Apakah demokrasi adalah bentuk terbaik pemerintahan?”

Estetika. Aplikasi filsafat pada persoalan seni dan keindahan. Estetika mengajukan pertanyaan seperti “Apakah keindahan bersifat subyektif atau obyektif?” “Apakah fungsi seni?” Sisi manakah dari kodrat kita yang tertarik oleh berbagai jenis keindahan?”

Teori Nilai. Kadangkala digunakan untuk mencakup studi tentang nilai, kendati istilah ini mungkin diletakkan di bawah heading etika atau filsafat moral. Tentu kita bisa menganggap nilai sebagai konsepsi umum, spesies-spesies tertentu dan aplikasi dari nomer (2), (3) dan (4).

Filsafat dan Kebijaksanaan Praktis

Filsafat telah dihubungkan dengan kebijaksanaan praktis dan teoretis, seperti dalam frase “memahami segala sesuatu secara filosofis”. Sebenarnya keberhasilan dalam filsafat teoretis belum memberikan jaminan bahwa seseorang akan menjadi filosofis dalam pengertian praktis ini atau bertindak dan merasakan dengan cara yang benar dalam suatu situasi praktis. Socrates memiliki doktrin favorit yang menyatakan bahwa, jika kita mengetahui apakah kebaikan itu, kita harus mengerjakannya. Namur doktrin ini benar hanya jika kita memasukkan realisasi dari apa yang kita ketahui secara teoretis dengan semangat emosional yang tepat ke dalam makna istilah “tahu”. Saya mungkin sangat sadar atau meyakini bahwa mengerjakan sesuatu yang ingin saya kerjakan akan mendatangkan lebih banyak penderitaan bagi seseorang, katakanlah A, daripada kesenangan bagi diriku dan oleh karenanya merupakan suatu kekeliruan bila melakukannya, tetapi saya mungkin melakukannya karena saya tidak merasakan keprihatinan atas penderitaan A dalam derajat yang sama seperti saya sendiri merasakan kerinduan akan sesuatu yang sangat saya idam-idamkan. Karena mustahil bagi manusia untuk merasakan penderitaan orang lain sebagaimana is merasakan penderitaannya sendiri, maka selalu ada kemungkinan pengabaian kewajiban seseorang. Untuk mengalahkan kemungkinan ini tidak hanya dibutuhkan pengetahuan, tetapi juga pelaksanaan kehendak. Begitu pula, kita tidak yakin bahwa selalu mudah menentang keinginan yang kuat, termasuk demi kebahagiaan kita sendiri, apalagi kebaikan moral kita. Filsafat bukanlah jaminan kebenaran berperilaku atau kebenaran penyesuaian emosi kita pada keyakinan-keyakinan filosofis. Dan bahkan dari sisi kognitif filsafat sendiri tidak bisa memberitahu kita apa yang seharusnya kita lakukan. Karena untuk hal ini, selain prinsip-prinsip filsafat, kita juga membutuhkan pengetahuan empiris tentang fakta-fakta yang relevan dan kemampuan untuk memprediksi konsekuensi-konsekuensi yang mungkin terjadi, serta wawasan tentang situasi tertentu sehingga kita bisa menerapkan prinsip-prinsip kita secara tepat.

Tentu tidak mengatakan bahwa filsafat tidak bisa memberikan bantuan untuk menjalani hidup secara benar, tetapi hanya mengatakan bahwa filsafat sendiri tidak bisa membuat kita hidup secara benar, atau bahkan memutuskan apakah kehidupan yang benar tersebut. Filsafat setidaknya bisa memberikan petunjuk-petunjuk yang sangat berguna.

Ada keterbatasan ruang di mana metafisika atau filsafat kritis bisa membantu kita dalam mem.utuskan apa yang seharusnya kita lakukan. Ruang tersebut bisa menggiring pada konklusi yang akan mempermudah kita untuk menanggung kemalangan dengan senang hati, tapi hal ini bergantung pada filsafat. Sayangnya, tidak ada kesepakatan universal di antara para filsuf dalam persoalan apakah pandangan optimistik tentang dunia bisa dibenarkan secara filosofis. Tapi kita harus mengikuti kebenaran ke mana pun pergi, karena, ketika dibangkitkan, pikiran tidak bisa berhenti pada sesuatu yang tidak boleh dipikirkannya yang mungkin bukan merupakan suatu kesalahan. Pada saat bersamaan, kita harus mempelajari dan tidak mengabaikan klaim orang-orang yang berpikir bahwa mereka telah mencapai kebenaran yang membangkitkan semangat dan memuaskan tentang realitas dengan menggunakan sarana yang tidak bisa dipraktekkan dalam kategori-kategori common-sense. Kita tidak boleh menerima begitu saja pernyataan bahwa klaim-klaim kognisi yang genuine dalam pengalaman mistik dan religius dari suatu aspek realitas yang berbeda harus dihilangkan dan dianggap salah hanya karena klaim-klaim tersebut tidak bersesuaian dengan materialisme yang disarankan, tetapi sama sekali tidak dibuktikan atau bahkan benar-benar didukung oleh ilmu pengetahuan modern.