Pertamina Kalah dalam Gugatan Arbitrase International Chamber of Commerce (ICC) oleh Lirik Petroleum

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjatuhkan vonis kepada PT Pertamina, badan usaha milik negara, harus membayar ganti rugi 34,49 juta dollar AS atau sekitar Rp.344,9 miliar kepada Lirik Petroleum atas keputusan arbitrase yang mengabulkan tuntutan Lirik Petroleum. Lirik Petroleum adalah mitra Pertamina dalam pengelolaan lapangan Lirik lewat mekanisme badan operasi bersama atau join operating body (JOB) pada tahun 1995.

Saat itu Lirik Petroleum mengajukan kewenangan pengelolaan untuk empat blok yang berlokasi di Sumatera, yaitu Lirik, North Pulai, South Pulai, dan Molek. Namun, hanya lapangan Lirik yang disetujui. Lirik Petroleum menggugat potensi kerugian mereka karena tak mendapat pengelolaan tiga lapangan yang lain. Pihak Pertamina menyatakan bahwa posisi Pertamina waktu itu seperti BP Migas. Dari empat lapangan yang diminta untuk dikelola, Pertamina menilai hanya satu yang memenuhi syarat dan berhak menolak rencana kerj a kalau tidak memenuhi syarat.

Pihak Pertamina meminta agar ada mediasi terlebih dulu atas putusan itu karena ada beberapa hal yang dinilai berlebihan, misalnya panel memutuskan ganti rugi 34 juta dollar AS, sementara penggugat hanya mengajukan 9 juta dollar AS. Selain itu, patut dipertanyakan mengapa baru sekarang pihak Lirik Petroleum mengajukan. Pertamina EP dan Pertamina menjadi tergugat dalam kasus tersebut. Pertamina menilai cara pandang arbitrase yang menempatkan status Pertamina sebagai kontraktor kerja sama keliru sebab masalah dengan Lirik Petroleum terjadi pada 1995-1996 saat status Pertamina sebagai pemegang kuasa pertambangan migas mewakili pemeriritah. Lapangan Lirik sudah kembali dikelola Pertamina setelah kontrak pengelolaannya berakhir.

Sementara itu, pengamat perminyakan, Pri Agung Rakhmanto, mengatakan, panel arbitrase mungkin menilai Pertamina saat itu bukan regulator, tetapi kontraktor, karena adanya kontrak JOB.

Kasus ini menjadi bagian dari beberapa kekalahan Pertamina pada ajang arbitrase internasional. Pertamina, pada Oktober 2006, kalah menghadapi tuntutan Karaha Bodas dan harus membayar 265 juta dollar AS atas pembatalan Proyek Listrik Tenaga Panas Bumi di Garut, Jawa Barat. Pertamina pernah terlibat kasus perebutan harta mantan Direksi Pertamina Achmad Thahir yang berakhir pada 1992.

Proses Hukum Pertamina dengan Lirik Petroleum

1995, Pertamina membentuk JOB dengan Lirik Petroleum untuk mengelola sejumlah lapangan. Dari empat lapangan yang direncanakan, yaitu Molek, North Pulai, South Pulai, dan Lirik, hanya satu lapangan yang diserahkan pengelolaannya kepada Lirik Petroleum.

2008, Lirik Petroleum mengajukan gugatan ke arbitrase International Chamber of Commerce (ICC) terhadap PT Pertamina dan Pertamina EP karena menilai telah dirugikan setelah tidak mendapat hak mengelola tiga blok tersebut.

27 Februari 2009, Arbitrase dalam perkara antara PT Lirik dan PT Pertamina dan Pertamina EP memutuskan tergugat membayar ganti rugi total 34.495.428 dollar AS kepada PT Lirik. Jumlah itu mencakup ganti rugi atas pelanggaran terhadap Enhanced Oil Recovery Contract, masalah komersialitas, kegagalan jalur pipa, dan klaim lain, termasuk biaya yang dikeluarkan PT Lirik dalam proses arbitrase. (Sumber: Kompas, “Pertamina Harus Bayar”, Sabtu 13 Juni 2009).

Iklan