Perubahan Fraksi Harga Saham atau Tick Size Terhadap Likuiditas dan Volatilitas

10 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Tick size merupakan ukuran minimal yang diperbolehkan untuk menentukan harga dalam tawar menawar saham. Setiap pasar modal mempunyai tick size yang berbeda-beda. Di Bursa Efek Indonesia (BEJ), tick size ini disebut dengan fraksi harga saham dan PT Bursa Efek Indonesia telah melakukan perubahan sebanyak dua kali selama tahun 2000.

Berdasarkan ketentuan C.2.c Peraturan Nomor II. Tentang Perdagangan Efek yang menyatakan bahwa Bursa dapat mengubah satuan perubahan harga dengan memperhatikan kondisi perdagangan di Bursa Efek Indonesia, maka Bursa Efek Indonesia telah melakukan perubahan tick size (fraksi harga saham) sebanyak dua kali. Berdasarkan Keputusan Direksi PT. BEJ Nomor 314/BEJ/06-2000, tanggal 27 Juni 2000 menyatakan bahwa mulai tanggal 3 Juli 2000, satuan perubahan harga (fraksi) dalam melakukan tawar menawar saham di Bursa Efek Indonesia ditetapkan Rp5,00 (lima rupiah). Ini berarti tick size (fraksi harga) saham di Bursa Efek Indonesia berubah dari Rp25,00 (dua puluh lima rupiah) menjadi Rp5,00 (lima rupiah). Adapun maksud dari perubahan ini dalam rangka menciptakan perdagangan yang teratur, wajar dan efisien serta untuk lebih meningkatkan likuiditas perdagangan efek. Penelitian di Bursa lain menunjukkan bahwa penurunan fraksi harga saham menyebabkan peningkatan volume perdagangan saham dan penurunan rentang tawar menawar (bid-ask spread).

Selanjutnya pada tanggal 16 Oktober 2000, Direksi Bursa Efek Indonesia mengeluarkan Keputusan Direksi Nomor: Kep-331/BEJ/092000, yang menyatakan bahwa Bursa Efek Indonesia mulai tanggal 20 Oktober 2000 akan memberlakukan perubahan satuan perubahan harga saham (fraksi saham) dari fraksi tunggal sebesar Rp5,00 (lima rupiah) menjadi multi fraksi. Satuan perubahan harga saham atau fraksi dalam melakukan tawar-menawar saham di BEJ ditetapkan dalam tiga kategori, yaitu:

  1. Untuk harga saham kurang dari Rp500,00 (lima ratus rupiah), ditetapkan fraksi sebesar Rp5,00 (lima rupiah) dengan setiap kali maksimum perubahan sebesar Rp50,00 (lima puluh rupiah).
  2. Untuk harga saham dengan rentang dari Rp500,00 (lima ratus rupiah) sampai dengan kurang dari Rp5.000,00 (lima ribu rupiah), ditetapkan fraksi sebesar Rp25,00 (dua puluh lima rupiah) dengan setiap kali maksimum perubahan sebesar Rp250,00 (dua ratus lima puluh rupiah).
  3. Untuk harga saham Rp5.000,00 (lima ribu rupiah) atau lebih, ditetapkan fraksi sebesar Rp50,00 (lima puluh rupiah) dengan setiap kali maksimum perubahan sebesar Rp500,00 (lima ratus rupiah).

Perubahan fraksi harga saham ini didasarkan atas pertimbangan bahwa Bursa Efek Indonesia harus melakukan adaptasi terhadap faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi industri pasar modal nasional dan regional. Pertimbangan penyesuaian tersebut adalah untuk meredam volatilitas pasar dan meningkatkan likuiditas perdagangan yang diakibatkan oleh sentimen bearish yang tengah mewarnai Bursa-bursa regional.

Dari kedua keputusan Bursa Efek Indonesia tersebut di atas, maka terlihat bahwa Bursa Efek Indonesia memakai perubahan tick size atau fraksi harga saham sebagai instrumen untuk meningkatkan likuiditas (penurunan bid-ask spread dan peningkatan volume perdagangan) dan meredam volatilitas harga.

Dalam beberapa tahun terakhir banyak peneliti telah melakukan studi empiris terhadap pasar modal yang melakukan perubahan tick size. Goldstein dan Kavajecz (2000) melakukan analisis di New York Stock Exchange (NYSE) Amerika Serikat, yang melakukan penurunan tick size pada tanggal 24 Juni 1997 dari $1/8 menjadi $1/16. Penelitian di Toronto Stock Exchange tentang penurunan tick size setelah Toronto Stock Exchange (TSE) Kanada, menurunkan tick size pada tanggal 15 April 1996.

Studi juga dilakukan untuk mengetahui pengaruh dan hubungan tick size terhadap Bid-ask spread (market width), market depth dan volume perdagangan di Stockholm Stock Exchange (SSE). Studi yang lain dilakukan untuk mengetahui pengaruh tick size terhadap volume perdagangan di Stock Exchange of Singapore (SES). Studi di New York Stock Exchange (NYSE) terhadap hubungan antara tick size, harga saham dan stock split sebagai tindakan yang dilakukan oleh perusahaan agar saham berada pada range harga dengan tick size yang tepat. Berbagai studi tersebut sepakat bahwa spread dalam berbagai ukuran menurun secara signifikan setelah bursa melakukan penurunan tick size, dan penurunan spread lebih banyak pada saham-saham yang harganya rendah dan aktif diperdagangkan.

Keputusan yang dilakukan oleh Bursa Efek Indonesia mengacu pada studi empiris yang dilakukan di berbagai pasar modal. Namun demikian hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa sistim perdagangan di New York Stock Exchange dan Toronto Stock Exchange didesign dengan adanya market maker yaitu specialist, yang berfungsi sebagai penyedia likuiditas. Sistim perdagangan di Stockholm Stock Exchange (SSE) dan Stock Exchange of Singapore (SES) mempunyai kesamaan dengan sistim perdagangan di Bursa Efek Indonesia dengan tidak di design adanya market maker.

Sebagai penyedia likuiditas, specialist dapat melakukan stopping order, yaitu menghentikan sebuah market order dengan menjamin order dapat dieksekusi pada harga terbaik saat ini, dan kemudian specialist mengusahakan agar order dapat dieksekusi pada harga yang lebih baik dan tindakan yang dilakukan oleh specialist ini tidak dapat dilakukan oleh investor/pedagang publik. Dengan melihat mekanisme perdagangan yang dapat dilakukan oleh specialist tersebut di atas, maka peranan specialist sangat besar dalam perdagangan saham. Di BEJ, aturan pengurutan order investor ke dalam limit order book disediakan oleh Jakarta Automated Trade System (JATS) dengan sistem prioritas harga/waktu (price/time priority), artinya seorang investor dapat menampilkan limit ordernya pada urutan pertama/terbaik jika harganya terbaik dibandingkan harga seluruh investor yang lain, sedangkan apabila ada dua investor atau lebih mempunyai harga order terbaik, maka prioritas diberikan kepada investor yang paling dahulu memasukkan order. Melihat perbedaan mekanisme perdagangan yang ada antara New York Stock Exchange dan Toronto Stock Exchange dengan Jakarta Stock Exchange.

Berbagai pendapat telah diajukan berkaitan dengan penurunan tick size, bahwa tick size yang semakin kecil merupakan keuntungan bagi peminta likuiditas, karena sebagai kompetisi antar penyedia likuiditas yang lebih menyukai untuk menekan penurunan bid-ask spread. Argumentasi yag lain bahwa perubahan tersebut mungkin merupakan keuntungan bagi peminta likuiditas, tetapi tidak bagi penyedia likuiditas, sebab hal tersebut akan dapat menyebabkan kenaikan biaya mereka sehingga akan mengurangi keinginan untuk menyediakan likuiditas.

Beberapa model teoritis telah diajukan berkaitan dengan tick size yang optimal bahwa ketika price grid kecil, depth kumulatif dari limit order book menurun seperti halnya penurunan minimal tick size. Selanjutnya walaupun investor kecil lebih menyukai price grid yang lebih kecil sedangkan investor besar lebih menyukai price grid yang lebih besar, namun kedua kelompok tersebut juga tidak menginginkan price grid yang terlalu kecil maupun terlalu besar. Penurunan tick size akan mengakibatkan penurunan likuiditas. Penurunan tick size akan menurunkan spread pada saham tertentu, tetapi juga akan menurunkan depth, sebab penurunan margin profitabilitas bagi penyedia likuiditas.

Tanggapan dari penyedia likuiditas terhadap penurunan tick size minimal dan dampaknya terhadap spread dan depth adalah tidak pasti. Satu tanggapan yang mungkin adalah selama penyedia likuiditas mensuplai pada depth baru yang lebih kecil, spread penawaran yang sempit, mungkin mereka melanjutkan untuk mensuplai likuiditas yang sama pada harga sebelumnya. Selama depth dan spread penawaran akan berkurang, depth kumulatif pada harga tertentu, didefinisikan sebagai sejumlah depth untuk semua limit order sampai dengan dan termasuk pada harga tersebut, akan tidak terpengaruh. Depth kumulatif diilustrasikan sebagai perhitungan dengan menambahkan semua saham pada harga tersebut atau harga yang lebih baik. (Sebagai contoh jika ada 200 lembar saham pada harga 20, 300 lembar saham pada harga 20 1/16, dan 600 lembar saham pada harga 20 1/8, maka depth kumulatif pada harga 20 1/16 adalah 500 lembar saham dan depth kumulatif pada 20 1/8 adalah 1100 lembar saham).

Kemungkinan lain adalah penyedia likuiditas dapat mengganti limit order mereka pada beberapa harga dari beberapa penawaran atau jika biaya bagi penyedia likuiditas cukup meningkat, mereka memilih untuk meninggalkan pasar sama sekali. Sebagai hasilnya, sejumlah penyedia likuiditas dapat turun seluruhnya. Akibatnya tidak hanya depth pada penawaran bid dan ask turun, tetapi depth kumulatif turun juga. Pertanyaannya adalah apakah perubahan tick size akan mengakibatkan perubahan berarti pada depth kumulatif untuk menaikkan biaya bagi order besar sedangkan menurunkan biaya untuk order kecil.

Penelitian di New York Stock Exchange menyimpulkan bahwa setelah penurunan tick size di NYSE bidask spread turun, depth kumulatif turun pada semua saham dalam sampel dan harga turun sebesar 50 sen dari harga tengah. Biaya eksekusi untuk order kecil menurun, biaya eksekusi untuk order besar tidak terlihat adanya keuntungan atau meningkat. Selanjutnya likuiditas menurun, baik dari specialist maupun dari publik yang menawarkan likuiditas sesuai dengan limit order book, sehingga semakin sedikit yang disediakan bagi peminta likuiditas.

Studi penurunan tick size di Toronto Stock Exchange (TSE) dan biasa disebut dengan decimalization menyimpulkan bahwa decimalization yang dilakukan oleh TSE menghasilkan keuntungan bagi investor. Spread efektif sebagai biaya tetap perlembar saham yang ditransaksikan turun secara signifikan, namun berbeda dengan prediksi para pengamat sebelumnya, dampak terhadap harga yang diperdagangkan pada saham perusahaan yang mengalami decimalization ternyata tidak secara signifikan berubah. Namun secara keseluruhan memperlihatkan hasil bahwa penurunan tick size memberikan keuntungan bagi investor dan membantu bursa untuk menahan aliran order dalam era persaingan antar bursa saham.

Rata-rata jumlah embar saham ang diperdagangkan semakin meningkat setelah dilakukan ecimalization, dan ini menunjukkan bahwa investor menjadi semakin sering elakukan transaksi setelah pemberlakuan decimalization yang disebabkan oleh emakin rendahnya biaya transaksi.

Penelitiannya tentang penurunan tick ize di Stock Exchange of Singapore (SES), menyatakan bahwa tick size yang emakin kecil akan meningkatkan jumlah harga penawaran dan permintaan yang ungkin. Hal ini akan menghasilkan penawaran dan permintaan yang lebih kecil ang diserahkan pada setiap harga, jika setiap investor memanfaatkan keseluruhan arga yang mungkin dan selanjutnya probabilitas pada setiap penawaran yang ertemu dengan permintaan pada harga yang tepat sama menjadi lebih rendah, sehingga rata-rata waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan sejumlah perdagangan akan bertambah.

Biaya perdagangan lebih rendah ketika tick size berkurang, mungkin menaikan volume perdagangan. Namun demikian biaya negosiasi mungkin mengurangi kenaikan volume perdagangan, sampai biaya perdagangan menjadi lebih rendah. Oleh karena itu penurunan tick size mungkin tidak selalu menghasilkan kenaikan volume perdagangan. Sebagai contoh dalam kasus saham yang jarang diperdagangkan, kenaikan biaya negosiasi berkaitan dengan lebih tinggi atau rendahnya kemungkinan untuk lebih banyak bertemunya antara permintaan dan penawaran.

Rata-rata perbedaan antara harga tinggi dan rendah memberi kesan bahwa saham yang aktif diperdagangkan volatilitasnya menurun, hal ini kontras dengan saham yang tipis tingkat perdagangannya, ternyata tidak menunjukkan pengurangan volatilitas yang cukup signifikan.

Secara keseluruhan studi dalam kasus ini, menyatakan bahwa penurunan tick size di Stock Exchange of Singapore meningkatkan rata-rata perdagangan, menurunkan volatilitas harga dan menurunkan biaya perdagangan hanya untuk sekuritas yang sangat aktif diperdagangkan.

Penelitian yang mengkaitkan antara tick size, harga saham dan stock split di New York Stock Exchange menyatakan bahwa tick size sebagai fraksi harga saham lebih besar pengaruhnya dalam membuat trend kenaikan harga saham jangka panjang dengan cara menurunkannya pada tingkat yang diinginkan. Jika tick size relatif terlalu kecil, perusahaan dapat memecahkan saham. Dengan tick size absolut yang konstan, seperti banyak kasus untuk sebagian besar saham di Amerika Serikat, pemecahan saham mempunyai dampak pada peningkatan tick size relatif terhadap harga saham. Tick size yang optimal adalah tidak nol dengan berbagai alasan.

Tick size yang tidak nol membuat investor mempunyai sekumpulan informasi yang mudah, mengurangi waktu untuk mencapai posisi tawar. Kedua merupakan hal yang penting dengan adanya tick size dalam menyelenggarakan prioritas waktu dan harga saham dalam limit order book, memberikan insentif pada investor agar menyediakan likuiditas dengan limit order. Selanjutnya tick yang tidak nol memberikan landasan pada bid-ask spread, yang menyediakan insentif bagi dealer untuk menciptakan pasar dan meningkatkan likuiditas. Namun demikian kenaikan bid-ask spread minimum juga menaikkan biaya transaksi bagi investor, mengurangi insentif bagi dealer.

Tick size optimal mewakili trade-off antara keuntungan dari tick size tidak nol dan biaya yang dihasilkan oleh tidak adanya tick. Argumentasi tersebut membantu menjelaskan kenapa perusahaan lebih menyukai suatu rentang harga tertentu untuk sahamnya. Sejak tick size absolut ditetapkan oleh peraturan atau tradisi di pasar modal, tick size relatif terhadap harga saham akan menjadi dekat dengan optimal hanya dalam satu rentang harga yang pasti dan perusahaan dapat memeliharanya melalui keputusan stock split.

Sejak pasar dari berbagai negara memakai ketentuan yang berbeda tentang tick size, maka harga saham akan berbeda antar negara, namun demikian tick size relatif antar negara hampir sama. Diskusi tentang dampak dari tick size, menyatakan perlu diakui bahwa ketika agen secara bebas memilih harga, skema harga yang berbeda akan muncul. Untuk perdagangan dengan banyak aset, perbedaan yang terjadi bukan karena diatur, tetapi memang merupakan hasil dari perbedaan biaya.

Pada kebanyakan pasar modal, tick size berhubungan langsung dengan tingkat harga saham. Tingkat harga saham mempunyai pengaruh tidak langsung terhadap prestasi saham. Sesungguhnya ada beberapa pengaruh tick size. Salah satunya adalah jika tick size terlalu besar, mungkin akan membentuk suatu ikatan dengan bid/ask spread. Pengaruh kedua adalah peraturan untuk tick size yang besar mungkin menghindari perdagangan tertentu yang akan mengambil tempat jika rekan perdagangan dapat secara bebas memilih harga.

Tick size mempunyai beberapa dampak. Yang pertama dapat mempengaruhi secara langsung terhadap spread. Kedua dapat mempengaruhi depth pasar dan ketiga mungkin volume transaksi. Pertama, ada kenyataan yang kuat bahwa tick size mempunyai pengaruh ekonomis yang sangat penting dengan bid/ask spread. Tick size yang tinggi mempunyai ikatan yang kuat dengan spread yang besar dan selanjutnya berkaitan dengan likuiditas pasar. Kedua, sebaliknya kenyataan menunjukkan bahwa depth pasar meningkat dengan tick size yang relatif tinggi. Pengaruh terhadap likuiditas keseluruhan dari tick size yang diamati adalah tidak pasti. Akhirnya ada kenyataan bahwa tick size yang tinggi menyatu dengan volume perdagangan yang rendah.

Penurunan tick size akan menguntungkan investor kecil, dari mengecilnya bid/ask spread. Penurunan tick size mungkin menguntungkan bagi perusahaan yaitu penurunan cost of capital (sebagai konsekuensi dari penurunan biaya transaksi) dan bagi bursa saham semenjak volume perdagangan meningkat. Efek bagi dealer tidak pasti, keuntungan yang mereka dapatkan sejak tick size yang lebih kecil menjadi turun dari besarnya bid/ask spread. Sebaliknya, keuntungan mereka meningkat sejak volume perdagangan meningkat dengan tick size yang lebih kecil.

Penelitian di London Stock Exchange dan New York Stock Exchange, perbedaan mendasar di antara kedua pasar tersebut adalah di New York Stock Exchange ada peraturan tick size minimal yang diperbolehkan dalam perdagangan saham, dan di London Stock Exchange tidak ada peraturan tentang tick size. Dalam penelitian tersebut Huang dan Stoll menyimpulkan bahwa spread di London lebih tinggi daripada di New York pada saham yang sama. Tanpa tick minimum (atau ukuran perdagangan minimal), sebuah limit order dapat secara mudah dikalahkan oleh limit order yang lain atau penawaran dari dealer. Jika tidak ada tick minimal, terlalu mudah untuk mengabaikan prioritas waktu. Pasar dealers tidak memperhatikan prioritas waktu terhadap sesama dealer dan mereka hanya memerlukan tick minimal yang lebih kecil. Namun demikian setiap penawaran dealer dalam hal depth, walaupun tanpa peraturan tick size, tetap berharap dapat memelihara reputasi likuiditasnya atau pasar dealer melakukan standarisasi depth. Tingginya spread di London Stock Exchange diikuti dengan tingginya depth.

Penelitiannya di Jakarta Stock Exchange menyatakan bahwa rata-rata spread rupiah turun dari Rp.72,54 menjadi Rp59,90 setelah penurunan tick size, atau turun sebesar Rp12,64 atau 17,42%. Spread persentase juga turun sebesar –5,30% (dari 10,123% menjadi 4,691%) atau sebesar 52,66%. Setelah tick size diturunkan, depth untuk penawaran jual terbaik turun sebesar 59,32% dari periode sebelum penurunan tick size, dan penawaran beli terbaik juga turun sebesar 52,51%. Penurunan ask depth dan bid depth yang hampir sama besar, menunjukkan adanya penurunan yang simetris. Penurunan spread dan depth tersebut signifikan jika diuji dengan parametric paired t test maupun nonparametric sign test.

Dalam hal aktivitas perdagangan, rara-rata frekuensi perdagangan meningkat 3,85 kali perhari atau meningkat sebesar 4,93% dari 78,13 pada periode sebelum penurunan tick size, menjadi 81,99 pada periode sesudah penurunan tick size. Dalam uji statistik dengan parametric paired t test maupun nonparametric sign test ternyata tidak ada perubahan yang cukup signifikan antara sebelum dan setelah penurunan tick size. Rata-rata volume perdagangan juga meningkat sebanyak 33,04% dari 1.721.743 lembar pada periode sebelum penurunan tick size menjadi 2.290.617 lembar setelah penurunan tick size. Dalam uji statistik peningkatan tersebut tidak signifikan pada uji paired t test. Sedangkan persentase saham dalam sampel yang mengalami peningkatan signifikan lebih kecil daripada yang menurun pada uji sign test. Rata-rata nilai rupiah perdagangan
per hari mengalami penurunan sebesar 36,53% sesudah penurunan tick size dan penurunan ini signifikan pada parametric paired t test maupun nonparametric sign test.

Dalam hal volatilitas dengan empat ukuran volatilitas harian yang menggunakan selisih harga tertinggi dan terendah dibagi dengan midpoint, deviasi standar return harga penutupan, deviasi standar return harga pembukaan dan deviasi return harga midpoint, ternyata menunjukkan penurunan volatilitas dan signifikan secara statistik dengan uji parametric paired t test maupun nonparametric sign test antara sebelum dan sesudah penurunan tick size. Penurunan tick size di BEJ meningkatkan likuiditas saham-saham harga rendah, akan tetapi menurunkan likuiditas saham-saham harga tinggi.

Dalam pasar modal tanpa designated market maker seperti Stock Exchange of Singapore, Stock Exchange of Hongkong, Stockholm Stock Exchange dan Bursa Efek Indonesia, seluruh likuiditas dari para investor/pedagang publik. Investor menyediakan likuiditas ketika mereka ingin membeli sejumlah saham pada suatu harga tertentu sesuai dengan limit order dan investor juga menginginkan likuiditas pada saat mereka menginginkan untuk menjual sejumlah saham pada harga tertentu dengan menggunakan market order. Dengan demikian investor berfungsi sebagai liquidity supplier sekaligus liquidity demander.

Aturan pengurutan order investor ke dalam limit order book disediakan oleh Jakarta Automated Trade System (JATS) dengan sistem prioritas harga/waktu (price/time priority), artinya jika seorang investor ingin menampilkan limit ordernya pada urutan pertama/terbaik, maka investor tersebut harus memberikan penawaran dengan harga terbaik dibandingkan harga seluruh investor yang lain. Tetapi jika ternyata harga investor tersebut sama dengan harga order terbaik, maka prioritas diberikan kepada investor yang paling dahulu memasukkan order. Jika ternyata investor tersebut ingin mendapat prioritas yang lebih baik dari investor yang lain untuk menjual sahamnya, maka investor tersebut harus menurunkan harga order minimal sebesar satu tick.

Demikian juga jika investor tersebut ingin membeli saham, maka jika dia menempati harga paling tinggi saat menyerahkan order pembeliannya, maka dia akan menempati urutan terbaik, namun jika ternyata ada investor lain mempunyai harga yang sama, maka waktu yang terdahulu menempati urutan terbaik. Jika investor tersebut ingin mendapat urutan yang terbaik, maka dia harus memberikan penawaran pembelian saham dengan harga yang lebih baik minimal satu tick. Melihat pada aturan perdagangan di Jakarta Stock Exchange, maka terlihat besarnya peranan tick size dalam proses perdagangan dan transaksi perdagangan.

Pengaruh Perubahan Tick Size terhadap Spread

Tick size membatasi harga yang dapat diquote oleh investor, oleh sebab itu membatasi persaingan harga. Investor tidak dapat meningkatkan harga tawaran beli terbaik atau tawaran jual terbaik ketika spread tercapai sebesar satu tick. Dengan adanya penurunan tick size, maka akan terbuka kesempatan dan persaingan baru, karena investor dapat menurunkan harga tawaran jual atau menaikkan harga tawaran beli, sehingga hal ini mengarahkan pada penurunan spread. Sebagai contoh untuk saham yang berharga Rp250,00 dan menurut peraturan lama, tick size adalah Rp25,00, sehingga spread tidak mungkin kurang dari Rp25,00 dan investor hanya dapat membuat perubahan tawar menawar dengan perubahan minimal sebesar Rp25,00.

Kemudian tick size berubah menjadi Rp5,00, maka investor dapat membuat perubahan harga mendahului harga investor lain dengan sebesar Rp5,00 lebih baik atau kelipatannya. Studi penurunan tick size di Toronto Stock Exchange (TSE) dan biasa disebut dengan decimalization menyimpulkan bahwa decimalization yang dilakukan oleh TSE menghasilkan keuntungan bagi investor. Spread efektif sebagai biaya tetap perlembar saham yang ditransaksikan turun secara signifikan.

Pengaruh Perubahan Tick Size terhadap Depth

Penting tick size di pasar modal yang menerapkan prioritas harga dan waktu. Jika tick terlalu kecil, maka prioritas waktu menjadi tidak penting lagi, karena pembeli dapat memperoleh harga terbaik dengan menawar pada harga yang sedikit lebih baik lebih tinggi dan penjual dapat menempati prioritas lebih baik dengan memberikan harga yang sedikit lebih rendah dari investor terbaik sebelumnya. Praktek ini disebut dengan stepping ahead of the book. Dengan kondisi yang demikian, investor besar dengan order besar akan mengekspos diri dimanfaatkan oleh investor kecil, sehingga mereka perlu melindungi diri antara lain dengan memecah ordernya menjadi beberapa order kecil. Hal ini mengakibatkan penurunan depth. Tick size yang kecil akan meningkatkan jumlah harga penawaran dan permintaan yang mungkin, sehingga hal ini akan menghasilkan penawaran dan permintaan yang lebih kecil yang diserahkan untuk setiap harga.

Pengaruh Perubahan Tick Size terhadap Aktifitas Perdagangan

Rata-rata jumlah lembar saham yang diperdagangkan semakin meningkat setelah dilakukan decimalization, dan ini menunjukkan bahwa investor menjadi semakin sering melakukan transaksi setelah pemberlakuan decimalization yang disebabkan oleh semakin rendahnya biaya transaksi. Biaya perdagangan lebih rendah ketika tick size berkurang, mungkin menaikan volume perdagangan.

Namun demikian biaya negosiasi mungkin mengurangi kenaikan volume perdagangan, sampai biaya perdagangan menjadi lebih rendah. Oleh karena itu penurunan tick size mungkin tidak selalu menghasilkan kenaikan volume perdagangan. Sebagai contoh dalam kasus saham yang jarang diperdagangkan, kenaikan biaya negosiasi berkaitan dengan lebih tinggi atau rendahnya kemungkinan untuk lebih banyak bertemunya antara permintaan dan penawaran.

Pengaruh Perubahan Tick size terhadap Volatilitas Harga

Varians perubahan harga terdiri dari tiga komponen, yaitu value innovations, bid ask bounce dan rounding errors. Jika investor akan melakukan pembulatan (rounding) pada tick selanjutnya, maka dengan tick size yang lebih kecil pembulatan yang terjadi juga lebih kecil. Dengan demikian maka tick size seharusnya menurunkan volatilitas harga. Penurunan tick size di Stock Exchange of Singapore meningkatkan rata-rata perdagangan, menurunkan volatilitas harga dan menurunkan biaya perdagangan hanya untuk sekuritas yang sangat aktif diperdagangkan.

Angel, J., 1997. Tick Size, Share Prices, and Stock Splits. The Journal of Finance.

Chordia, T. dan Subrahmanyam, A., 1995. Market Making, The Tick Size, and Payment-for-Order Flow: Theory and Evidence. Journal of Business.

Chung, K., Van Ness, B., dan Van Ness, R., 1999. Limit Orders and The Bid-Ask
Spread. Journal of Financial Economics.

Goldstein, M. dan Kavajecz, K., 2000. Eights, Sixteenths and Market Depth: Changes in Tick Size and Liquidity Provision on the NYSE. Journal of Financial Economics.

Hameed, A. dan Terry, E., 1998. The Effect of Tick Size on Price Clustering and Trading Volume. Journal of Business Finance & Accounting.

Hasbrouck, J., 1999. The Dynamics of Discrete Bid and Ask Quotes. The Journal
of Finance.

Huang, R. dan Stoll, H., 1999. Tick Size, Bid-Ask Spreads and Market Structure. Journal of Financial and Quantitative Analysis.

Huberman G., 2001. Sytematic Liquidity. Journal of Financial Research.

MacKinnon, G. dan Nemiroff, H., 1999. Liquidity and Tick Size: Does Decimalization Matter? Journal of Financial Research.

Niemeyer, J. dan Sandas, P., 1994. Tick Size, Market Liquidity and Trading Volum: Evidence from Stockholm Stock Exchange. Working paper, Stockholm School of Economics.

Peraturan Bursa Efek Indonesia, 1995. Jakarta Stock Exchange.

Purwoto, L., 2001. Penurunan Tick Size di Bursa Efek Indonesia. Tesis, Universitas
Gadjah Mada.

Iklan