Perusahaan Semakin Gemar Cari Utang ke Luar Negeri

9 tahun ago kesimpulan 0

+ Perusahaan yang utang ke luar negeri 2008 (1.489) dan Mei 2009 (1.624)
+ Bunga utang luar negeri lebih rendah
+ Dolar AS masih pakai LIBOR+5 dan jatuhnya 9%

(kesimpulan) Bunga utang di luar negeri yang lebih murah terus mendorong perusahaan di Indonesia mencari pembiayaan ke luar negeri. Utang luar negeri tampaknya masih menjadi pilihan terbaik bagi banyak perusahaan di Indonesia. Hingga Mei 2009, terdapat 1.624 perusahaan yang melakukan pinjaman ke luar negeri. Keseluruhan pinjaman tersebut mencapai US$61,6 miliar.

Angka terus meningkat cukup tajam jika dibandingkan dengan banyaknya perusahaan Indonesia yang melakukan pinjaman luar negeri pada tahun 2008 yang hanya 1.489 perusahaan. Deputi Direktur Direktorat Internasional BI, Dian Ediana Rae menyebutkan laporan per Mei 2009 mayoritas pembiayaan asing tersebar pada sektor manufaktur, transportasi dan komunikasi, serta pertambangan.

Alasan banyaknya perusahaan asing mengambil pinjaman dari luar negeri adalah karena suku bunga relatif rendah, kebutuhan valas dalam jumlah besar, dan memanfaatkan fasilitas pinjaman dari induk perusahaan. Para kreditur yang memberikan pinjaman tersebut berasal dari bank, lembaga keuangan bukan bank, dan perusahaan induk yang berasal dari beberapa negara seperti Singapura, Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat.

Bagi para kreditur dan investor asing yang memilih untuk memberikan pinjaman dan menginvestasikan dana mereka di Indonesia karena seiring dengan baiknya kondisi perekonomian di dalam negeri. Kepercayaan kreditur luar negeri terhadap perusahaan dan prospek usaha di Indonesia juga mengalami peningkatan. Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 4%, inflasi yang cukup rendah, dan nilai tukar rupiah yang stabil diperkirakan appetite investasi asing, baik terhadap investasi portofolio maupun FDI.

Pengamat ekonomi, Djoko Retnadi menilai peningkatan hutang swasta tersebut tidak akan menjadikan masalah sepajang secara serius dikelola dengan baik, hal ini merupakan konsekuensi dari globalisasi. Perusahaan asing yang berada di Indonesia juga lebih memilih untuk melakukan pinjaman ke luar, khususnya negara asal mereka, karena suku bunganya lebih murah. Sebagai contoh, perusahaan asal Jepang akan lebih memilih meminjam uang dari negerinya karena suku bunga di Jepang 0%. Inilah yang membuat banyak perusahaan memilih untuk meminjam ke luar negeri.

Di pihak lain, Dirut Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk, Gatot Suwondo mengatakan bahwa kredit valas yang diperoleh dari luar negeri juga berbunga tinggi, jadi bukan disebabkan karena bunga. Menurut Gatot, posisi dolar sampai saat ini masih belum stabil dan masih tinggi. Jika melayani peminjaman valuta asing, bunganya akan menjadi besar. Selama ini dolar AS saja masih pakai LIBOR+5 dan jatuhnya akan 9%. Selain itu, kenaikan utang perusahaan ke luar negeri tersebut lebih disebabkan kebutuhan uang dalam bentuk dolar dan perbankan di Indonesia masih belum bisa memenuhi.

Pengamat ekonomi, Dradjad Wibowo, mengatakan selain faktor suku bunga, penyebab perusahaan di Indonesia mencari pembiayaan luar negeri adalah karena adanya ekspektasi bahwa rupiah masih undervalued. Dengan menggunakan pinjaman dari luar negeri, debitur akan mendapat dua keuntungan, yakni selisih kurs dan suku bunga. Disarankan kepada Bank Indonesia agar mendorong perusahaan sebagai debitur valas untuk melakukan manajemen risiko nilai tukar yang bagus, sehingga bisa mencegah agar tidak terjadi gejolak akibat pembayaran utang valas yang berisiko tinggi. (Media Indonesia, Swasta Juga Gemar Berburu Utang Luar Negeri, Kamis 16 Juli 2009).

Iklan