Pesona Wakatobi dan Laboratorium Biota Laut

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Wakatobi singkatan dari nama empat pulau utama: Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko terletak di kawasan perairan laut yang dulu dikenal sebagai Kepulauan Tukang Besi. Keindahan bawah laut Wakatobi memang mengundang decak kagum. Dengan keanekaragaman biota laut dan aneka jenis karangnya yang masih terjaga, Wakatobi jadi salah satu tujuan yang diidam-idamkan oleh para penjelajah bawah laut. Jajaran atol berikut laguna karang yang tersebar di banyak lokasi, serta dinding karang dengan beragam biota penyusunnya, tidak hanya menarik minat wisatawan mancanegara dan para penyelam profesional. Para ilmuwan kelautan pun menaruh perhatian besar pada keragaman hayati terumbu karang di kawasan Taman Nasional Wakatobi ini.

Operation Wallacea, sebuah lembaga ekspedisi riset dan konservasi yang berpusat di Inggris, telah menjadikan daerah ini sebagai pusat penelitian bawah laut dunia dengan membuka markas di Pulau Hoga selama musim penelitian. Setiap tahun Setiap tahun, jumlah peserta Operation Wallace yang datang ke pusat penelitian bawah laut dunia ini terus bertumbuh. Begitu musim liburan universitas di Eropa tiba, biasanya Maret-April dan September-Oktober, Pulau Hoga dipenuhi ratusan mahasiswa S-2 dan S-3 didampingi 10-12 profesor yang sengaja datang untuk serangkaian riset dengan biaya masing-masing. Periset dari Eropa ini juga mengamati dari dekat kehidupan orang-orang Bajo yang bermukim di perairan sekitar kawasan taman nasional Wakatobi tersebut.

Kabupaten Wakatobi adalah daerah hasil pemekaran dari Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, pada tahun 2003, perekonomian Wakatobi ibarat anak yang baru lahir. Pendapatan masyarakat yang sebagian besar mengandalkan hidup dari pekerjaan sebagai nelayan tradisional, sebagian kecil lainnya bertani, pedagang antarpulau, dan pegawai pemerintah, memang masih kental dipengaruhi model ekonomi tradisional yang masih bersifat subsisten.

Panorama alam bawah laut di sejumlah titik penyelaman di kawasan ini diakui indah memukau. Jajaran atol berikut laguna karang keras dan lunak, serta dinding-dinding dengan beragam biota penyusunnya merupakan suguhan lain yang tak kalah menarik. Aneka jenis terumbu karang dan fauna laut yang umumnya masih terpelihara menjadi daya tarik wisatawan. Hampir 90 persen dari sekitar 850 jenis terumbu karang di dunia ada di Wakatobi, dengan 942 spesies fauna laut yang didata oleh Operation Wallacea, suatu lembaga ekspedisi riset dan konservasi yang berbasis di Inggris. Jenis kuda laut moncong babi (Pigmy sea horse) yang hingga kini hanya ditemukan di laut Wakatobi.

Dengan keanekaragaman jenis terumbu karang dan hampir seribu spesies ikan dan biota laut lainnya, Jacques Costeau, ilmuwan kelautan dan salah satu perintis penjelajahan bawah laut menyebut Wakatobi kaya dan unik, tapi juga satu dari tujuan penyelaman paling indah di dunia. Bahkan ada penjelajah yang sampai memuji keindahan bawah laut Wakatobi bagaikan sepenggal surga di Bumi.

Sebagai kawasan wisata bahari, terutama sebagai lokasi penyelaman di jantung segitiga koral dunia, meski belum setenar Selat Lembeh dan Bunaken di Sulawesi Utara, ataupun Raja Ampat di Papua serta Tulamben dan Lembongan di Bali, namun kecenderungan wisatawan untuk mengunjungi gugusan kepulauan di perairan Wakatobi terus meningkat. Hasil survei dan sebaran angket yang dilakukan National Geographic Traveler Indonesia (NGTI, Volume 1, edisi 3, 2009) menempatkan Wakatobi di urutan ketujuh di antara 16 lokasi penyelaman terbaik Indonesia. Padahal, akses ke kawasan ini relatif sulit. Bahkan, dari aspek pelayanan, Wakatobi tidak ditandai responden lantar jasa layanan operator belum tersedia di kawasan ini. Pemerintah Kabupaten Wakatobi sudah mencanangkan terwujudnya tahun 2010 sebagai daerah tujuan wisata ekologi dunia. Dipayungi visi besar, ”terwujudnya surga nyata di jantung segitiga karang dunia”, pada akhirnya yang ingin disasar tak lain adalah kesejahteraan masyarakat yang ada di sana (Sumber: Kompas, Jumat 5 Juni 2009)


Iklan