Polisi Lacak Dana Teroris Ada di 13 Bank

8 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Densus 88 Mabes Polri harus memeras otak menelusuri dana operasional yang digunakan jaringan terorisme. Termasuk dugaan bahwa pengeboman di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton itu menghabiskan dana miliaran rupiah. Penelitian Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menemukan sekitar 80 transaksi yang dicurigai polisi terkait dengan terorisme. Ketua PPATK Yunus Husein setelah mengikuti pengucapan sumpah Wakil Ketua PPATK Erman Suherman di Gedung Mahkamah Agung, 21 Agustus 2009 mengatakan, nilainya hanya ratusan ribu rupiah (per transaksi).

Jika dikumpulkan, menurut penelitian itu, transaksi yang dilakukan sepanjang lima tahun terakhir tersebut hanya bemilai jutaan rupiah. Terakhir, PPATK diminta polisi mengecek transaksi mencurigakan. Namun, PPATK juga menemukan bahwa transaksi yang dicurigai milik jaringan teroris tersebar di 13 bank. Transaksi tersebut terjadi di Jakarta, Bekasi, Solo, Makassar, dan Poso. Yunus tak merinci bank mana saja yang dimaksud. Hanya, aliran dana transaksi tersebut sangat mudah dibekukan jika ada permintaan dari kepolisian.

Namun, PPATK juga berupaya menelusuri setiap kecurigaan. Selama ini, mereka mendapatkan data, antara lain, dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengeluarkan UN Consolidated List. Dalam data itu disebutkan daftar teroris seluruh dunia. Di antaranya ada nama Indonesia. Perlu diwasparlai adalah aliran dana di luar sistem. Jika lewat sistem, akan mudah terdata. Kalau lewat dana cash dan kurir, sangat sulit terdeteksi. Pengiriman dana dan luar negeri sebenarnya bisa terdeteksi dari sistem di bea dan cukai. Sebab, jika seseorang membawa uang ratusan juta lewat pabean, ada kewajiban melapor. Persoalannya, Indonesia sangat luas. Banyak pintu masuk.

Prinsipnya, PPATK bisa mencurigai setiap transaksi keuangan jika terdapat keanehan pola transaksi. Misalnya, gaji Rp.25 juta, tapi terimanya miliaran. Lain lagi, misalnya, transaksi tunai Rp.500 juta, namun dipecah-pecah. Karena dipecah-pecah itu, justru dianggap mencurigakan. Banyak pertanyaan siapa yang mendanai teror di Indonesia. Sebab, teror bom membutuhkan dana besar. Polisi juga sedang giat mengusut pihak-pihak yang mendanai pengeboman tersebut.

Rencana Kunjungan Obama

Selain itu, polisi sejak dini mengawasi ketat rencana kunjungan Barack Husein Obama pada November 2009. Sebab, presiden Amerika Serikat itu sangat berpotensi menjadi target serangan kelompok Noordin M. Top. Obama mungkin mampir ke Indonesia setelah menghadiri KTT APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation) di Singapura. Serangan terhadap Obama direncanakan kelompok itu menggunakan teknik sniper. Presiden yang gemar nasi goreng itu menjadi target karena merupakan pemimpin AS yang dianggap kaum teroris sebagai negara musuh umat Islam. Noordin sudah menyiapkan calon penembak jitu. Senjatanya bisa menggunakan jenis MK-III buatan Rusia. Itu bisa diperoleh melalui jalur Moro atau pasar gelap di kawasan Pattani, Thailand.

Pengamat terorisme yang juga konsultan Densus 88 Mabes Polri, Dyno Cressbon, mengatakan, serangan terhadap Obama mungkin sudah dipersiapkan secara matang oleh Noordin. Tapi karena plot yang di Jatiasih terbongkar lebih dulu, mungkin saja mereka mengubah teknik. Yang jelas, mereka sudah berlatih. Mencari senjata, juga hal yang mudah bagi kelompok Noordin. Ada mekanisme saling bantu antar mujahidin. Jadi, mereka sudah punya link-link itu. Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Nanan Soekama mengaku belum tahu soal plot serangan terhadap Obama tersebut. Namun, kata jenderal berbintang dua itu, informasi tersebut akan dikembangkan. Itu merupakan informasi, masukan dan bahan pertimbangan.

Mencari senjata untuk aksi sniper memang gampang-gampang susah. Yang sudah punya “jalur” khusus akan sangat mudah mendapatkannya. Bahkan, di internet, ada situs khusus yang menjual senjata teroris itu melalui pemesanan lewat telepon. Situs yang beralamat di http:// terroristmecorp.blogspot.com itu menyediakan berbagai senjata sniper. Dalam profil web-nya, mereka menulis, “Kami adalah korporasi yang memerangi Amerika dan Israel dan menghancurkan kaum Zionist.”

Pemesan, menurut website itu, cukup mengontak dua orang yang disebut sebagai agen. Dedi P., nomor telepon +60122359547, dan Zaki S., nomor telepon +60166073981. Dilihat dan kodenya, dua nomor itu adalah nomor Malaysia. Di lingkungan antiteror TNI mengungkinpkan, peredaran senjata untuk ini menembak jitu memang masih ada. Terutama di wilayah Timur Indonesia. Kalau kamu butuh, dua hari pun bisa diusahakan. Senjata itu, disuplai dari daerah-daerah bekas konflik seperti Poso atau Papua. Di Kupang juga ada, tapi lebih susah mencarinya karena pintu dari Timor Leste sekarang ketat.

Namun, diragukan kemampuan kelompok Noordin melakukan serangan dengan teknik menembak jitu. “Tidak asal bisa menembak balon, terus bisa menembak Obama”. Dari file dan foto-foto yang disita Densus 88, teroris memang berlatih menembak dengan sasaran balon. Selain itu, teroris berlatih di atas perahu yang bergerak di sekitar Pulau Karimun Jawa. “Jiwa sniper itu sulit dibentuk. Kesabaran, ketelitian, terus kemampuan escape (lobos) dengan cantik dan bisa berbaur dengan masyarakat itu lama”. Selain itu, jenis senjata MK-III sudah tua. Pelurunya juga buatan Eropa. Sangat susah menyediakan senjata itu tanpa peluru sekaligus. Satu-satunya yang memungkinkan adalah senjata itu rampasan di Afghanistan dulu. Berarti, penembaknya mesti pernah ke Afghanistan dan familier. Tapi, penembak tersebut harus memperhitungkan kecepatan dan arah angin. Jarak efektif senapan MK-III itu hanya 500 meter. Mobilnya antipeluru. Bisa apa Noordin dengan itu.

Direktur Lembaga Studi Pertahanan dan Strategi, Rizal Darmaputera juga menilai serangan terhadap Obama nyaris tidak mungkin. Obama dilindungi sangat ketat oleh Secret Service dan seluruh kekuatan Amerika Serikat. Jarak satu kilometer sudah pasti steril. Selain itu, kelompok Noordin dinilai tak punya sumber daya yang cukup untuk melakukan serangan tersebut. Kalau sekadar gertakan, mungkin saja. Tapi, untuk direalisasikan, itu nyaris tidak mungkin (Jawa Pos, Dana Teroris Terlacak di 13 Bank, Sabtu 22 Agustus 2009)