Pro dan Kontra Penggunaan Rekayasa Kebumian Atau Geoengineering Dalam Upaya Atasi Perubahan Iklim

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Saat Simposium Nobel Laureate di London akhir Mei 2009, Menteri Energi Amerika Serikat Prof Steven Chu melontarkan ide kontroversial, yaitu mengusulkan atap-atap rumah dan jalanan dicat putih dalam upaya mengurangi dampak pemanasan global. Peraih Nobel Fisika tahun 1997 tersebut mengatakan bahwa mencerahkan warna seluruh atap dan jalan, setara dengan menghilangkan seluruh kendaraan di dunia dari jalanan selama 11 tahun. Permukaan atap atau jalanan yang berwarna lebih cerah akan meningkatkan kemampuan albedo, yaitu kemampuan Bumi memantulkan kembali radiasi sinar Matahari ke luar angkasa.

Tingkat Albedo

Atap berwarna putih memiliki tingkat albedo hingga 0,8 (80 persen), juga membuat rumah lebih dingin sehingga mengurangi pemakaian energi listrik. Sedangkan permukaan atap biasa albedonya hanya 0,2. Semakin rendah albedo, semakin tinggi pula Bumi menyerap radiasi sinar Matahari. Suhu di Bumi pun semakin panas. Materi yang memiliki kemampuan tinggi merefleksi radiasi sinar matahari adalah es, sementara yang terendah di antaranya lautan dan hutan lebat.

Berdasarkan data rekaman Clouds and Earth Radiant Energy System (CERES), salah satu instrumen satelit milik NASA, rata-rata tingkat albedo Bumi saat ini adalah 0,3. Penurunan 0,001 point saja bakal berdampak besar bagi iklim di Bumi. Seperti dilaporkan American Journal of Science, tingkat albedo Bumi terus melemah, dalam kurun waktu empat tahun saja (2000-2004), CERES mencatat albedo Bumi turun 0,0027 poin, setara dengan peningkatan energi tertahan di Bumi sebesar 0,9 watt per meter persegi. Suhu rata-rata di Bumi pun semakin meninggi.

Rekayasa Kebumian Atau Geoengineering

Gerakan mengecat putih atap dan jalanan adalah bagian dari upaya yang kini tengah populer diperdebatkan, yaitu geoengineering (rekayasa kebumian). Paradigma baru melawan gejala pemanasan global dengan menggunakan bantuan rekayasa teknik dan geologi guna membalikkan efek pemanasan. Memanipulasi iklim Bumi, baik melalui unsur fisik, kimia, maupun biologis, khususnya komposisi atmosfer di Bumi secara drastis, demi membalikkan efek pemanasan global adalah tujuan dari paradigma ini.

Mereka yang pro paradigma berpandangan, penguasaan iptek mengizinkan manusia untuk bertindak, berbuat sesuatu, demi kelangsungan hidup mereka. Termasuk di antaranya adalah memanipulasi iklim. American Meterorological Society telah memasukkan geoengineering sebagai salah satu dari tiga strategi proaktif untuk mengurangi risiko kehidupan akibat dampak pemanasan global. Geoengineering adalah opsi paling ekstrem untuk mengatasi efek pemanasan global dibandingkan dengan dua strategi lainnya, yaitu mitigasi (mengurangi emisi gas COa) dan adaptasi.

Usulan geoengineering meliputi tiga kategori penting. Pertama, mengurangi level efek rumah kaca di atmosfer lewat manipulasi dalam skala global, misalnya, melalui penumbuhan spesies fitoplankton nonhabitat asli secara besar-besaran atau menabur bijih besi di lautan untuk meningkatkan skala penyerapan gas Co2 di udara. Kedua, mendinginkan Bumi dengan cara memperbesar albedo Bumi melalui pembuatan kaca-kaca pemantul radiasi sinar matahari atau menginjeksikan sulfur dioksida (So2) ke dalam lapisan stratosfer ataupun ke permukaan laut. Ketiga, manipulasi skala besar lainnya, misalnya, pembuatan megaproyek pipa vertikal di lautan lepas yang didesain meningkatkan proses transfer absorb panas dari permukaan laut ke tanah.

Pro dan Kontra Geoengineering

Persoalannya, opsi-opsi geo-engineering ini juga berisiko besar menghasilkan ketidakseimbangan ekologis ataupun ekosistem di Bumi. Injeksi sulfur dioksida (So2) ke lapisan stratosfer berisiko menciptakan hujan asam. Alan Robock, Direktur Meteorologi di Pusat Prediksi Lingkungan Rutgers University New Jersey, mengatakan, ada 20 alasan bahwa geoengineering justru bisa jadi ancaman global baru, seperti mengubah iklim lokal, pengasaman air laut, penipisan ozon, pengerdilan tanaman, berkurangnya bahan baku energi alternatif surya, hingga kekhawatiran terhadap faktor human error di dalam melaksanakan proses rekayasa.

Terlepas dari mendesaknya penanganan akan pemanasan global mengingat laju peningkatan konsentrat Co2 di udara terus meningkat, hingga melampaui 80 ppm dari konsentrasi ideal, Alan menyarankan perlunya alternatif lain. Upaya pengurangan dampak pemanasan global lebih berat pada nuansa politis ketimbang nuansa teknisnya, misalnya mendorong masyarakat lebih menggunakan energi putih (energi alternatif). Serta, secara bersamaan membiarkan Bumi untuk memulihkan dirinya sendiri. Namun, pandangan ini ditentang mereka yang pro dengan paradigma geoengineering.

James Lovelock, ilmuwan sekaligus pemerhati lingkungan yang bekerja untuk NASA mengatakan, jika manusia tidak melakukan apa pun, secara alamiah Bumi memang bisa memulihkan dirinya sendiri. Tetapi membutuhkan waktu ratusan hingga ribuan tahun dari sekarang, seperti terjadi 55 juta tahun lalu. Persoalannya, apakah manusia bisa bertahan selama itu? Upaya pemulihan diri Bumi terhadap pemanasan global harus dibantu percepatannya melalui tangan manusia. Tanpa suatu upaya revolusioner, pemanasan global ke depan akan kian parah. Saat itu akan melampaui suatu titik di mana efek (pemanasan global) tidak bisa lagi dibalikkan.

Di tengah segala pro-kontra yang terjadi mengenai geoengineering, Chu mencoba mengambil titik tengah. Usulan gerakan memutihkan atap dan jalan termasuk ke dalam geoengineering lunak. Karena, langkah itu relatif tidak menghasilkan risiko perubahan ekologi atau ekosistem Bumi. Memutihkan atap dan jalanan adalah satu-satunya usulan geoengineering yang akan disikapi secara serius oleh Pemerintah AS saat ini. Jika diterapkan di 100 kota besar di dunia, dampak gerakan ini setara dengan menghilangkan 44 miliar ton CO2 di udara. Kebijakan ini telah diimplementasikan secara bertahap di Negara Bagian California, AS. Usulan yang terdengar sederhana, tetapi tampaknya bakal sulit diterapkan jika tidak diikuti kesadaran tinggi dari manusia untuk sedikit berkorban demi masa depan Bumi (Yulvianus Hardjono, Geoengineering Sebagai Solusi, Kompas, Selasa 4 Agustus 2009)

Iklan