Prostitusi

10 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Setiap orang mempunyai pandangan tersendiri terhadap kehidupan pelacuran dalam dimensinya masing-masing ada yang mengutuk ada yang bersimpati terhadap pelacur. Tetapi bagaimana beragamnya pandangan, kegiatan prostitusi tetap akan berlangsung terus.

Kata prostitusi identik dengan kata asing, (dalam bahasa latin: pro-stituere atau pro-staures) berarti membiarkan diri berbuat zina, melakukan perbuatan persundalan, percabulan dan pengendakan. Sementara itu Soedjono D mengatakan bahwa prostitusi sebagai perilaku yang terang-terangan menyerahkan diri pada “perzinahan”.

Sejalan dengan pendapat tersebut di atas, akan diketengahkan pula berbagai interprestasi dari beberapa ahli tentang pelacuran atau prostitusi itu, antara lain:

  1. W. A. Bonger, dalam bukunya “Versprede Geschiften” antara lain mengemukakan: “prostitutie het maatshapelijke vershijnsel dat vrowen zich beroepsmatig tot hel plegen van sexuele handelingen”(prostitusi adalah gejala sosial, dimana wanita menyediakan dirinya untuk perbuatan sexuil sebagai mata pencahariannya).
  2. F. J. De Bruine van Amstel menyatakan, prostitusi adalah penyerahan diri wanita kepada banyak laki-laki dengan pembayaran.
  3. Iwan Bloch berpendapat, pelacuran adalah suatu bentuk perhubungan kelamin diluar pernikahan dengan pola tertentu, yakni kepada siapapun secara terbuka dan hampir selalu dengan pembayaran baik untuk persebadanan maupun kegiatan sex lainnya yang memberikan kepuasan yang diinginkan oleh yang bersangkutan.
  4. Walker C. Reckles mengemukakan: “prostitution is the practices of selling sexual intercours or other subtite forms sexual grafitication”.
  5. George Ryley Scott mengemukakan bahwa: “Pelacuran adalah seorang laki-laki atau perempuan, yang karena semacam upah, baik berupa uang atau lainnya tau karena semacam kesenangan pribadi dan sebagian atau keseluruhan pekerjaannya, mengadakan perhubungan kelamin yang normal atau tidak normal dengan berbagai jenis orang, yang sejenis atau berlawanan jenis dengan pelacur itu”.
  6. Commenge mengatakan: “Prostitusi atau pelacuran itu adalah suatu perbuatan seorang wanita memperdagangkan atau menjual tubuhnya, yang dilakukan untuk memperoleh pembayaran dari laki-laki yang datang; dan wanita tersebut tidak ada pencarian nafkah lainnya kecuali diperolehnya dari perhubungan sebentar-sebentar dengan banyak orang”.

Jadi yang dimaksud dengan prostitusi, pelacuran, penjajaan sex atau persundalan adalah: “Peristiwa penyerahan oleh wanita kepada banyak laki-laki (lebih dari satu) dengan imbalan pembayaran guna disetubuhinya dan sebagai pemuas nafsu sex si pembayar, yang dilakukan di luar pernikahan”. Sedangkan yang dimaksud dengan pelacur adalah wanita yang pekerjaannya menjual diri kepada siapapun saja atau banyak laki-laki yang membutuhkan pemuasan sexuil.

Dalam kegiatan pelacuran tersebut terdapat pula germo yang berperan penting. Adapun yang dimaksud dengan germo adalah orang (biasanya adalah laki-laki atau perempuan) yang mata pencahariannya baik sambilan maupun sepenuhnya menyediakan, mengadakan atau turut serta mengadakan, membiayai, menyewakan, membuka dan memimpin serta mengatur tempat untuk bersetubuh. Dan dari pekerjaan ini sang germo mendapat sebagian (besar) dari hasil uang yang diperoleh wanita pelacur.

Atau dengan kata lain germo atau micukari adalah orang yang pekerjaannya memudahkan atau memungkinkan orang lain (laki-laki) untuk mengadakan atau memungkinkan hubungan kelamin dengan pihak ketiga (wanita), yang lewat cara kerja ini sang germo mendapat bagian hasil yang diperoleh wanita dari laki-laki yang menyetubuhinya. Sang germo masih terdapat pihak-pihak yang terlibat dalam pelacuran seperti pedagang atau penjual wanita dan calo atau perantara yang mempertemukan wanita pelacur dengan si pemakainya.

PROSTITUSI DAN GEJALA SOSIAL

Masyarakat seolah-olah sudah memiliki semacam kesepakatan ini, yaitu memberikan warna hitam terhadapnya, kehidupan yang berlumpur dan bernoda yang dikutuk masyarakat. Tetapi disisi lain, dilihat dunia pelacuran menjanjikan sejuta impian. Impian yang harus ditebus dengan cara yang total oleh wanita-wanita yang ingin mewujudkannya dalam mempertahankan realitasnya dan keluarganya. Sementara para ahli ilmu sosial sepakat mengkategorikan pelacuran ini kedalam “Patologi Sosial” atau penyakit masyarakat yang harus diupayakan penanggulangannya.

Prostitusi dipandang dari segi kehidupan sosial, seperti yang dikatakan J. Verkuyl bahwa: “Kita melarang pelacuran, tetapi sebaliknya kita dapat terima juga sebagai sesuatu yang tak dapat dielakkan …. kita memandang pelacuran sebagai sesuatu yang hina tetapi sebaliknya kita hargai pula sebagai katup pengamanan yang sangat diperlukan.

Pemisahan lain juga diperlukan antara pelacuran secara keseluruhan (yang jelas dikutuk) dan si pelacur sendiri sebagai pribadi dengan liku-liku sejarah dan latar belakang hidupnya masing-masing; yang tidak jarang menjadi korban suatu keadaan. Pelacuran diperlukan sebagai semacam saluran yang kotor agar tidak mengganggu masyarakat secara keseluruhan. Seperti yang dikatakan oleh Thomas Aquinas yang menyitir pandangan Agustinus: “Daarom zegt Agustinus, dat de hoer in de wereld de zelfde rol speelt als het riool wij en gij zul het palais vol stank gemaakt hebben en het overeenkoms tige geldt voor het groonsop. Heen de hoeren uit de wereld weg. En gij zult er de oorzaak van zijn, dat vol ontucht gevorden is.” (Itu sebabnya menurut Agustinus pelacuran adalah sama pentingnya dengan selokan atau riool di dalam sebuah istana. Mungkin tanpa selokan sebuah istana indah atau bagaimanapun megahnya lambat laut akan mesum karena tidak ada jalan untuk membuang kotoran didalamnya).

Demikianlah pelacuran berfungsi untuk menyelamatkan “bangunan istana megah” alias bangunan masyarakat.

DINAMIKA PROSTITUSI DALAM MASYARAKAT

Pola Prostitusi

Dalam bagian ini akan diketengahkan secara garis besar beberapa pola prostitusi sebagai berikut:

  1. Pelacur Bordil: Yaitu praktek pelacuran, dimana para pelacur dapat dijumpai di tempat-tempat tertentu, berupa rumah-rumah yang dinamakan bordil, yang mana umumnya di tiap bordil dijumpai dimiliki oleh orang-orang yang namanya germo.
  2. Pelacur Panggilan (Call Girl Prostitution): Praktek pelacuran, dimana si pelacur dipanggil oleh di pemesan ke tempat lain yang telah ditentukan, mungkin di hotel atau wisma di daerah pariwisata. Pelacuran panggilan biasanya dikoordinir secara rapi dan terselubung. Namun ada pula wanita-wanita yang secara individual berprofesi sebagai “gadis panggilan” yang biasanya dihubungi pertelepon atau perantara-perantara (calo-calo)
  3. Pelacuran Jalan (Street Prostitution): Ini merupakan bentuk prostitusi yang menyolok. Di kota-kota besar kerapkali orang dengan mudah dapat menjumpai wanita yang berdandan dan berias menyolok, seolah-olah menjajakan diri, untuk dibawa oleh yang menghendakinya. Biasanya pelacur yang dijalan dibawa ke hotel-hotel murahan, atau ke bordil atau kemana saja sesuka yang membawa.

Di samping itu terdapat prostitusi “Prostitusi Semu” atau prostitusi terselubung, biasanya berkedok pada beberapa kegiatan yang diijinkan atau diabaikan seperti umpamanya tukang pijat muda dan cantik yang menunggu di hotel-hotel ada diantaranya yang melakukan pelayanan lebih dari sekedar memijat, juga di beberapa tempat-tempat mandi uap pun ada seperti yang di klab-klab diantaranya yang melakukan tugas sampingan lebih sekedar dansa atau sekedar teman minum.

Penggolongan Pelacur

Walter Reckless membagi pelacur-pelacur dalam beberapa golongan sebagai berikut:

  1. Brothel Prostitute. Cara pelacuran ini adalah praktek-praktek pelacuran dimana pelanggan datang ke bordil-bordil. Si pelacur diatur oleh germo pemilik bordil, sehingga penghasilannya sebagian untuk germonya, mereka hanya menerima 40% atau mungkin lebih kecil lagi bila si germo membiayai kehidupan pelacur di rumahnya.
  2. Call-girl Prostitute. Yaitu pelacur yang biasanya diundang atau dipakai ke hotel-hotel, di tempat tinggal si pemesannya, mereka dihubungi melalui perantaraannya atau pertelpon. Sebagian dari hasil biasanya dipotong beberapa prosen dari hasilnya oleh pelayan. Call-girl dikategorikan sebagai semi-profesional.
  3. Street or Public Prostitute. Yaitu pelacuran dimana si pelacur dalam mencari kliennya di jalanan atau tempat-tempat umum, selanjutnya menuju tempat yang mereka tentukan. Kadang-kadang juga di kendaraan kliennya.
  4. Unargonised Profesional Prostitute. Suatu cara dimana si pelacur beroperasi di tempat yang disewanya, mempunyai pelindung-pelindung, dimana sopir taksi bertindak sebagai perantara khusus.

Burnes and Teeter dalam Horizon in Criminology, Ben Reitman menyebut beberapa jenis pelacuran sebagai berikut: Juvehile, Potential, Amaetur, Youth profesional, Old Profesional, Boulevard women or gold-diggers, Field wolkers or street wolkers, Bats or Suoranmanted, Loose married women, Call girl.

Pelacuran meliputi yang dilakukan secara terang-terangan dan secara diam-diam. Dalam golongan pertama dapat dimasukkan pelacur dalam arti sempit, yang menjalankan pelacuran baik sebagai pekerjaan yang tetap atau tidak tetap. Menurut tempat dan tarif yang mereka pungut, maka mereka dapat dibagi lagi dalam 3 golongan yaitu:

  1. Golongan rendah. (a) Pelacur yang bergelandangan sepanjang tempat-tempat umum dan bisa disebut street prostitute. (b) Pelacur yang bersarang di tempat pelacuran di kampung atau di pinggir kota (hoerekrotten): tarifnya amat rendah. Sebagai langganan umumnya adalah buruh-buruh pabrik, pedagang kecil, tukang becak yang berpenghasilan kecil. Tetapi kadang-kadang terdapat pula tingkat yang punya duit atau pemuda-pemuda iseng yang hanya ingin melepaskan sexuilnya dengan pelacur-pelacur tersebut. Golongan ini merupakan bahaya dari masyarakat baik oleh karena itu sebagian besar dihinggapi penyakit kelamin karena tidak ditempatkan dibawah pengawasan dokter, maupun karena merusak jiwa dan kesehatan pemuda-pemuda yang berdarah keras.
  2. Golongan Menengah. Pelacuran yang bersarang di rumah-rumah penginapan atau rumah-rumah bordil yang cukup baik miliunya biasanya tempangnya, berparas cantik, berdandan baik dan mempunyai tingkah laku yang lebih sopan, tarifnya lebih tinggi dari golongan (a), yang menjadi lagi umumnya yang berduit. Pada golongan ini dapat dimasukkan pula pelacur yang terdapat di kota-kota pelabuhan yang mencari mangsanya dikala pelaut atau orang asing yang bermukim. Karena mereka itu sudah pengertiannya tentang pemeliharaan kesehatan dan mempunyai kemampuan finansial melaksanakannya maka tidak sedikit jumlahnya atas kemauan sendiri pada waktu-waktu tertentu memeriksakan dirinya ke dokter. Dilihat dari sudut medis bahaya terhadap penularan penyakit kelamin dibanding dengan golongan rendah agak berkurang.
  3. Golongan atas. Pelacur yang bersarang di hotel-hotel besar, rumah-rumah makan yang mentereng, atau pelacur yang mempunyai rumah sendiri. Paras pakaiannya lebih sempurna jika dibandingkan dengan golongan menengah, tarifnya lebih tinggi. Didalam golongan ini dapat dimasukkan pelacur-pelacur yang menyediakan dirinya untuk dipanggil atau pesanan, umumnya mereka memperhatikan perawatan medis.

Dalam golongan kedua dapat disebut mereka yang tidak secara terang-terangan tetapi secara diam-diam melakukan pelacuran, mereka yang sekedar mencari tambahan penghasilan merupakan amatrices, luasnya pelacuran semacam ini sukar diketahui dan merupakan bahaya yang tak tampak. Dalam golongan ketiga dapat dimasukkan mereka yang melakukan pelacuran sekedar mencari pengalaman, yang bisa dilakukan oleh orang baik-baik, kadang-kadang bersuami, dengan maksud untuk peningkatan status sosialnya. Di samping golongan-golongan tersebut terdapat pula disebut verkapte prostitutie yang bercorak ragamnya dari seorang babu sampai istri-istri simpanan.

Bentuk Prostitusi

  1. Pelacuran Yang Tidak Diorganisir, si pelacur bebas menentukan tindakannya baik dalam pembiayaan kebutuhan hidupnya maupun dalam penerimaan uang. Paling-paling ia membayar untuk perantara dan lain-lain, ia memodali dirinya untuk keperluannya dan tidak terikat oleh suatu pihak. Kalau kebetulan yang berada di bordil atau rumah seorang germopun hanya perjanjian dengan si germo saja mengenai pembagian hasil dan lain-lain. Namun setiap saat ia bisa kembali ke kampung atau pergi kemana saja.
  2. Pelacur Yang Diorganisir, pelacur-pelacur setelah datang ke suatu tempat tertentu, terikat atau mengikatkan diri pada suatu “pengusaha” tertentu yang akan mengurus segala sesuatunya dan menentukan tempat dimana si pelacur harus menjalankan peranannya. Para pelacur tidak berhubungan diri dengan masyarakat sekitarnya maupun dengan yang berwajib. Segalanya diurus oleh “si pengusaha” yang mempunyai kaki tangan yang bertindak sebagai perantara, pelindung dan lain-lain. Dalam suatu pelacuran yang terorganisir ini seorang pelacur yang telah diikat oleh organisasinya merupakan alat belaka, mereka tak berdaya dan leluasa untuk ebrtindak menurut kehendak sendiri.

FAKTOR-FAKTOR PENDORONG PROSTITUSI

Secara umum dapat dikatakan bahwa faktor-faktor yang memungkinkan timbulnya pelacuran sebagaimana telah dikemukakan pada bagian sebelumnya, adalah berhubungan dengan sifat-sifat alami manusia terutama faktor biologis. A. A. W. Brower berkata bahwa “jabatan” pelacur sudah sangat tua, sejak pernikahan menjadi suatu lembaga, sudah mulai terjadi pelacuran. Alasan utama katanya adalah alasan biologis. Kalau pernikahan menjadi lembaga, sang laki-laki harus menguasai dirinya pada waktu istrinya mengandung tua atau sakit. Karena tidak setiap orang sanggup untuk menguasai ddirinya terpaksa bapak mencari outlet (jalan keluar), karena “menguasai diri” tidak begitu gampang seperti yang diajarkan para pemuka agama. Baik tidak baik nyatanya berabad-abad para pameget memakai suatu lembaga yang resti atau tidak resmi : pelacuran.

George Riley Scott dalam buku “History of Prostitution” mengatakan bahwa: “Sebab yang sebenarnya dari pelacuran adalah keinginan seksuil laki-laki. Kegiatan ini menciptakan kehendak berzinah diluar perkawinan, dan kenyataan bahwa laki-laki itu bersedia membayar keperluan pemuas seksuilnya. Inilah yang menimbulkan adanya pelacuran profesionil”.

Seandainya tertutup kemungkinan penyaluran keinginan biologis melalui pelacuran ini, maka hal ini dapat menjadi ancaman yang cukup menggelsahkan dimana gadis-gadis dan wanita akan takut berada sendirian diluar rumah; seperti yang dikemukakan oleh A. Hijmans dalam bukunya yang berjudul “Vrouw en Man in De Prostitutie” bahwa : “Ik will U wel verklaren, dat ikut het niet wagen zou zels op klaarlichte dag met mijnvrouw en dochter to wan delen in een stad, waar geen bordelen zijn”. (Suka tidak suka seolah-olah pelacuran merupakan sesuatu yang diperlukan dalam kehidupan masyarakat, sebagai penyaluran sesuatu yang tidak baik, yang kotor agar tidak mengganggu masyarakat secara keseluruhan).

Thomas Aquinas mensitir pandangan yang dikemukakan Agustinus bahwa pelacuran sama pentingnya dengan selokan atau riool didalam sebuah istana. Mungkin tanpa selokan sebuah istana indah atau bagaimanapun megahnya lambat laun akan mesum karena tidak ada jalan untuk membuang kotoran yang ada di dalam istana itu.

Riley Scott beranggapan bahwa laki-laki pada hakekatnya adalah poligam dalam relasi hubungan dengan kenyataan sosial maka seolah-olah terjadi suatu perestuan sesuatu yang tidak layak dalam masyarakat, yang memungkinkan tercegahnya ketidakwajaran sampai batas-batas yang minimal. Pelacuran merupakan jalan keluar yang mentralisir ketegangan-ketegangan yang ditimbulkan oleh perkawinan monogami yang keras, yang mana seakan-akan ada hubungan kausalitas antara penegakan norma perkawinan dan penerimaan secara diam-diam prostitusi di lain pihak.

Memang kodrat manusia dengan sifat-sifat yang melekat pada pribadinya tidak dapat begitu saja diatur oleh patokan norma. Sehingga masuk akal kalau pelacuran adalah jalan keluar dalam menyalurkan perkawinan monogami yang keras tadi. Tetapi mau tidak mau orang juga harus mengakui terdapat laki-laki yang berpoligami berdasarkan penghalalan hukum dan agama terdapat diantaranya yang juag berhubungan dengan pelacur.

Alasan-alasan mengapa seorang laki-laki pergi ke pelacuran

Kingsey dari hasil penelitiannya terhadap dua belas ribu orang, mengemukakan alasan-alasan mengapa laki-laki berhubungan dengan pelacuran sebagai berikut:

  1. Sebab tidak atau kurangnya jalan keluar bagi kebutuhan seksuil mereka.
  2. Sebab berhubungan dengan pelacur, lebih mudah dan lebih murah dianggap oleh mereka yang butuh penyaluran.
  3. Sebab berhubungan dengan pelacur secara bayaran, begitu selesai dapat segera melupakannya.

Alasan wanita menjadi pelacur

  1. Karena tekanan ekonomi, seorang tanpa pekerjaan tentunya tidak akan memperoleh penghasilan untuk nafkahnya, maka terpaksalah mereka untuk hidup menjual diri sendiri dengan jalan dan cara yang paling mudah.
  2. Karena tidak puas dengan posisi yang ada.
  3. Walau sudah mempunyai pekerjaan, tetapi belum puas karena tidak sanggup membeli barang-barang perhiasan yang bagus-bagus.
  4. Karena kebodohan, tidak mempunyai pendidikan dan intelegensi
  5. Karena cacat dalam jiwanya
  6. Karena sakit hati, ditinggalkan oleh suami atau si suami beristri lagi sedangkan dia tak rela dimadu.
  7. Karena tidak puas dengan kehidupan sex, sebab bersifat hypersexuil.

Keenam faktor tersebut yang secara umum dikenal sebagai sebab atau alasan seorang perempuan terjun dalam pentas pelacuran. Seorang pekerja sosial Inggris telah mengadakan penelitian dan dimuat dalam buku “Women of The Streets” tentang keadaan individu dan sosial yang menyebabkan seorang wanita menjadi pelacur sebagai berikut:

  1. Rasa terasing dari pergaulan atau rasa diasingkan dalam pergaulan hidup pada suatu masa tertentu di dalam hidupnya.
  2. Faktor-faktor dalam aktif dalam keadaan sebelum diputuskan untuk melacurkan diri; dalam kenyataan ini merupakan sebab langsung, tetapi hampir selalu dan hanya mungkin terjadi karena keadaan sebelumnya yang memungkinkan hal tersebut terjadi.
  3. Tergantung dari kepribadian wanita itu sendiri, yang berhubungan erat dengan past experience, plus present situation, plus personal interpretation of them both.

SYMTOM PROSTITUSI

Dengan pendekatan deskriptif untuk pengungkapan fenomena sosial yang bernama pelacuran atau prostitusi ini, sudah dapat diperkirakan symtom yang dominan sebagai faktor yang mendorong timbulnya pelacuran.

Faktor-faktor tersebut adalah faktor konditional sifat alami manusia terutama di bidang biologis sexuil antara nafsu pria dan wanita yang mana pria umumnya bersifat poligamis dihadapkan dengan kondisi wanita yang tidak selalu sanggup menerima dan memberi penyaluran nafsu laki-laki, seperti umpamanya masa datang bulan, masa kehamilan, sakit dan lain-lain.

Faktor konditionil yang terletak pada kehidupan manusiawi pria-wanita dihadapkan dengan faktor-faktor sosial-ekonomi dan kulturil melahirkan beberapa faktor yang mendorong laki-laki pergi ke pelacuran dan faktor-faktor yang mendorong wanita terdorong menjadi pelacur, sebagaimana diantaranya telah dikemukakan pendapat-pendapat yang telah diuraikan di atas dan tercermin dalam kondisi psikologis masyarakat tertentu.

Buku “Women of The Street” karya C. H. Rolph, tentang hasil penelitian yang berhubungan dengan pihak laki-laki dan wanita yang terjalin dalam praktek pelacuran sebagai berikut:

  1. The main factor ininfluencing their (is the prostitutes) activity is the number of man in search of prostitute and the amount of money the are prepared to spend on her. (Faktor utama yang mempengaruhi activiteit mereka ialah bilangan laki-laki yang mencari mereka dan jumlah uang yang disediakan laki-laki untuk si pelacur).
  2. Many prostitutes receive costumer who confess that they partially impotent with other women; I have met men who find relief in relations with a prostitute, for she is a women who the can despise and so dominate. The prostitute in turn is completely without physical or emotional for the man; in her ability to remain detached from relationship, she viluws the apparent self indulgance of the man with distate. There is tranference of guilt to the partner, the man frequently criticizies the prostitutex’s in fedelity to his wife. (Banyak pelacur menerima tamu yang mengakui bahwa mereka sebagian impoten dengan perempuan lain; saya bertemu dengan laki-laki yang memperoleh kelegaan dalam berhubungan dengan wanita pelacur, karena wanita pelacur adalah perempuan yang dapat mereka hinakan dan dengan ini mereka kuasai, berbuat sekehendak hati. Wanita pelacur sebaliknya adalah tidak mempunyai perasaan tertarik atau bernafsu terhadap laki-laki itu sama sekali; dalam kesanggupannya untuk melepaskan dirinya dari berhubungan, maka perempuan memandang si laki-laki memuaskan dirinya sendiri dengan nyata dan dengan perasaan jijik. Ada perasaan salah menyalahkan diantara pelacur dan tamunya. Si hidung belang sering mengecam si wanita pelacur sebaliknya menyalahkan si tamu karena tidak setia kepada istrinya
  3. Olive’s phsycal indefference led man to say gecasionally, “put a bit of life into it”, to wich she would reply, “Why should I?” it’s your moner; I want; she said generally however the man kut as indefferenct to her. (Sikap dingin dari seorang pelacur yang bernama Olive’s menyebabkan laki-laki kadang-kadang berkata “Ayo, aktif sedikit dong”, yang akan dijawabnya dengan, “Kenapa begitu? Uang tuanlah yang hanya saya ingini; “ dia berkata begitu pada umumnya untuk menunjukkan bagaimana tidak ada artinya laki-laki itu buat dia).

Symtom utama timbulnya pelacuran adalah terletak pada laki-laki ialah sifat biologisnya, yaitu keinginan pada perempuan dan kesediaannya untuk membayar, dan pada si pelacur kebutuhan pada tamunya adalah faktor uangnya dan tidak terletak pada faktor sexuilnya (pada umumnya; memang kekecualian tentu ada yang berhubungannya dengan faktor seks, dimana si pelacur mencintai kepada tamu-tamu tertentu, yang kadang-kadang jatuh cinta dan kawin).

Symtom prostitusi yang erat melakat pada ciri-ciri alamiah manusia laki-laki dan wanita serta berhubungan dengan berbagai aspek-aspek kehidupan masyarakat, mendesak adanya “permintaan yang dipenuhi oleh penawaran dalam pentas pelacuran sepanjang masa; sehingga berbagai cara tindakan tidak pernah berhasil melenyapkan sama sekali gejala sosial yang bernama pelacuran”.

PELACURAN MENURUT HUKUM PIDANA

Prostitusi merupakan dilema sosial yang universal yang juga dihadapi oleh Indonesia dimana KUHP tidak berdaya untuk diterapkan terhadap prostitusi, karena sangat minim dan sederhana sekali kaidah-kaidah yang berhubungan dengan masalah prostitusi. Pasal dalam KUHP yang mengatur mengenai prostitusi hanya tiga pasal yaitu Pasal 296, Pasal 297 dan Pasal 506 KUHP dan kenyataan mengenai KUHP sendiri tidak secara tegas mengancam hukuman pidana kepada si pelacur. Hal ini mungkin bahwa pembuat Undang-undang memahami si pelacur mungkin sebagian besar justru adalah korban situasi atau keadaan. Alasan tersebut di ataslah yang menyebabkan berbagai kota besar di Indonesia atas persetujuan Pemerintah Daerahnya mengeluarkan berbagai Perda yang mengatur mengenai pelacuran. Khususnya di Kodia Semarang dikeluarkan Perda No. U163/1/5 tahun 1958 yang melarang adanya pelacuran di jalan dan adanya kebijakan lokalisasi untuk rehabilitasi dan resosialisasi. Usaha itu ditempuh akibat meningkatnya angka kriminalitas seksual akibat dikeluarkannya Perda Kota Besar Semarang tanggal 4 Juni 1956 tentang Penutupan Tempat Pelacuran (diundangkan dalam Lembaran Propinsi Jawa Tengah tanggal 22 Mei 1956; tambahan serie B. No. 7).

Apabila dikaji lebih lanjut, KUHP benar-benar diterapkan terhadap para pelaku prostitusi, maka penjara-penjara akan kewalahan menampung mereka, sehingga dilakukan beberapa kebijakanmisalnya lokalisasi pelacuran, hal ini merupakan faktor kedua yang menyebabkan timbulnya berbagai lokalisasi pelacuran di berbagai kota di Indonesia, hal ini dilakukan karena adanya larangan terhadap pelanggaran kesusilaan seperti termaktub dalam Pasal 532 KUHP. Sehingga KUHP punya peranan ganda yakni sebagai pembebas terhadap tindakan prostitusi dan juga sekaligus sebagai alat pengendalian terhadap praktek prostitusi.

Ali Akbar. Pelacuran dan Penyakit Kelamin, Kumpulan Prasaran Muker Kesejahteraan Moral, JASOS, 1960

J. Verkuyl, Penyakit Kelamin dan Kesehatan Rakyat Mengenai Rohani dan Susilanya, Symposium Universitas Airlangga I. PT. Penerbitan Universitas Airlangga, Surabaya 1987.

Kartini Kartono, Pathologi Sosial I, CV. Rajawali, Jakarta, 1981

Kusumanto. Beberapa Rehabilitasi Prostitusi Ditinjau dari Sudut Psycopathologi, Kumpulan Prasaran Musyawarah Untuk Kesejahteraan Moral, JASOS, 1960.

M.A.W Brouwer. Antara Senyum dan Menangis, Hormatilah Pelacur, Gramedia, Jakarta.

Paul Moedigdo Moeliono, Kumpulan Prasaran Musyawarah Untuk Kesejahteraan Moral, JASOS, 1960.

R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) serta Komentar-komentarnya Lengkap Pasal demi Pasal, Politea, Bogor, 1964.

Soedjono D. Pelacuran Ditinjau dari Segi Hukum dan Kenyataan dalam Masyarakat, Karya Nusantara, Bandung, 1977

Soedjono D. Konsepsi Kriminologi dalam Penaggulangan Kejahatan, Alumni, Bandung 1990

Soedjono D, Pathologi Sosial, Alumni Bandung 1990

Soedjono Partodidjojo. Pemberantasan Pelacuran, Kumpulan Prasaran Musyawarah untuk Kesejahteraan Sosial-JASOS, Bagian Penyuluhan, 1960.

Siregar H. Membedah Dunia Pelacuran Surabaya, Grafiti Pers, Jakarta, 1983.

Sudarto, Hukum Pidana Jilid IA, Fak. Hukum Universitas Diponegoro, Semarang 1975

Tjahjo Pernomo dan Ashadi Siregar. Dolly, Membedah Dunia Pelacuran Surabaya, Kasus Komplek Pelacuran, Grafiti Pers, Jakarta.

Wirjono Prodjodikoro. Tindak-tindak Pidana Tertentu di Indonesia, PT. Eresco, Bandung. 1995.

Iklan