PT Kereta Api (PT KA) Daerah Operasi VI Yogyakarta Gugat Perusahaan Bus PO Hadi Mulyo

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) PT Kereta Api (PT KA) Daerah Operasi (Daop) VI Yogyakarta akan menggugat perusahaan bus PO Hadi Mulyo terkait tabrakan dengan KA rel diesel 759 rute Surakarta-Yogyakarta, Prambanan Ekspres (Prameks) yang menewaskan 15 orang di pintu pelintasan KA Bulak Mbah Ruwet di Desa Jombor, Klaten, Jawa Tengah, pada Minggu 5 Juli 2009. Sopir bus dinilai lalai sehingga menyebabkan kerugian cukup besar pada kedua belah pihak.

Langkah hukum yang ditempuh PT KA Daop VI Yogyakarta tersebut diambil sebagai terapi kejut agar di kemudian hari dengan harapan kereta api tidak selalu disalahkan. Kepala Humas PT Kereta Api (KA) Daerah Operasi VI Eko Budiyanto mengatakan bahwa kereta api telah memiliki jalur dan regulasi sendiri.

Pihak PT KA menyetakan menderita kerugian cukup besar dalam kecelakaan di Klaten tersebut. Kerusakan, antara lain, terjadi di kabin masinis, bemper lokomotif, dan pipa angin KA Prambanan Ekspres (Prameks) yang naas tersebut. Selain itu, bantalan rel juga banyak yang patah. Asisten Masinis KA Prameks, Budi Mardi Sanyoto (50), mengalami gegar otak, sementara bus PO Hadi Mulyo bernomor polisi (nopol) AD 1444 BE hancur, sedangkan 15 penumpangnya tewas dan tujuh lainnya luka.

Gugatan yang dilakukan PT KA melalui Pengadilan Negeri Klaten, bertujuan bukan semata-mata didasarkan pada kerugian materi yang dialami PT KA, namun lebih ditujukan ke depan jangan sampai terjadi kecelakaan lagi. Masyarakat harus lebih waspada ketika melintasi rel kereta.

Menanggapi gugatan tersebut, pihak pemilik PO Hadi Mulyo, Purwo Atmojo, mengatakan bahwa kecelakaan yang terjadi adalah musibah yang tidak bisa ditolak manusia. Kendaraan yang digunakan secara operasional layak dan memenuhi persyaratan, seperti syarat dari Samsat, Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan, STNK, KIR (bus) juga ada. Sopir yang bertugas sudah berpengalaman dan bukan sopir ugal-ugalan serta mengantongi SIM B2 Umum. Selain itu juga ikut asuransi Jasa Raharja.

405 Jalan Tikus

Kecelakaan maut terjadi di lintasan kereta api Mbah Ruwet, Ceper, Klaten, Jawa Tengah, karena Kereta rel diesel Prambanan Ekspres (Prameks) 759 rute Surakarta-Yogyakarta menghantam minibus di perlintasan tersebut terjadi pada pukul 10.35 WIB. Minibus nahas membawa rombongan yang akan menghadiri hajatan di Dusun Sragon, Desa Mlese, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten. Sedangkan para korban berasal dari Kampung Bronto, Janti, Sumberlawang, Sragen, Jawa Tengah. Dari 15 penumpang yang tewas, 11 di antaranya meninggal di tempat. Sedangkan empat orang lainnya meninggal di RS Islam Klaten. Setelah dirawat di ICU (intensive care unit), ada empat orang yang akhirnya meninggal.

Lintasan kereta api Mbah Ruwet merupakan lintasan liar yang tidak dikelola PT Kereta Api sehingga tidak ada penjaga pintu palang kereta api. Saat kereta api Prameks melintas, sebuah minibus bernomor polisi AD 1444 BE yang penuh penumpang juga melintasi lintasan kereta api tersebut, akibatnya, tabrakan keras tak terhindarkan. PT KA mengatakan bahwa perlintasan liar seperti di perlintasan Mbah Ruwet, Ceper, Klaten, seharusnya ditutup. Selain sangat membahayakan perjalanan kereta dan membahayakan pengendara yang melintas. Apalagi frekuensi perjalanan kereta saat ini cukup padat, setidaknya ada 62 perjalanan kereta biasa, 26 Prameks, kereta barang, dan kereta pengangkut bahan bakar minyak.

Dari 518 buah palang kereta api yang ada di wilayahnya, hanya 113 buah yang dijaga petugas. Sedangkan yang lainnya dianggap liar. Palang pintu liar tersebut merupakan jalan tikus maupun jalan-jalan yang dibuat masyarakat untuk mempermudah atau memotong jalan. PT KA mencatat awal tahun 2009 hingga awal Juli 2009, tercatat terjadi lebih dari 10 kecelakaan di jalur perlintasan yang menyebabkan korban meninggal. Untuk meminimalkan terjadinya petaka, PT Kereta Api akan menertibkan palang pintu kereta liar di beberapa titik.

Underpass Adalah Solusi

Solusi lain yang dianggap sebagai ”win-win solution” adalah membuat underpass, seperti yang ada di jembatan Kewek, Yogyakarta, atau di daerah Temon, Bantul. Pembuat underpass, diharapkan perjalanan kereta tidak terganggu. Di sisi lain, masyarakat tetap mendapatkan kebebesan mendapatkan akses jalan pintas yang lebih efesien dari pada harus memutar atau menempuh jalan lebih jauh.




Kompas, ”PT KA Akan Gugat Bus HM”, Selasa 7 Juli 2009.
Koran Tempo, ”Kereta Hantam Minibus, 15 Tewas”, Senin 6 Juli 2009.

Iklan