Pulau Jawa Berpotensi Diguncang Gempa Berkekuatan 9 Skala Richter (SR)

10 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Tinggal menunggu waktunya, tekanan lempeng samudra di selatan Jawa akan terakumulasi. Awal September 2009, giliran gempa bumi mengguncang Jawa Barat. Pusatnya berada di perairan barat daya Kabupaten Tasikmalaya dengan kekuatan 7,3 skala Richter (SR).

Pakar gempa dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Danny Hilman Natawidjaja, Kamis 3 September 2009, mengatakan bahwa penyebab setelah diteliti, rupanya gempa tidak berpusat pada tumbukan lempeng-lempeng Australia dan Eurasia di dasar samudra alias gempa berada di luar zona Batas lempeng (subduksi). Artinya, masyarakat Jawa Barat baru saja terhindar dari gempa bumi dahsyat yang bisa mencapai kekuatan 9 SR.

Sesungguhnya, Pulau Jawa bisa mengeluarkan energi gempa hingga 9 SR. Banyak sumber-sumber gempa matang yang saat ini ada di daratan dan perairan. Tinggal menunggu titik jenuh, magnitude gempa akan naik. Pernyataan senada diutarakan juga oleh ahli geoteknik ITB dan koordinator tim penyusunan peta zonasi gempa, I Wayan Sengara bahwa gempa Tasikmalaya bukan yang terbesar dalam sejarah. Tinggal menunggu waktunya, tekanan lempeng samudra di selatan Jawa akan terakumulasi.

Saat ini sumber gempa besar di sekitar zona subduksi Jawa belum diketahui semua. Apalagi yang di darat. Kalau mau dibandingkan dengan kerapatan data kegempaan Sumatera, rasionya 1:10. Intinya, minimnya data tersebut bisa berakibat fatal bagi mitigasi bencana. Maka dari itu, rencananya pada 2010 akan terbit peta zonasi gempa Indonesia yang baru untuk merevisi peta lama dalam PP Nomor 36/2005 tentang peraturan pelaksanaan UU 28/2002 tentang bangunan gedung.

Peta yang lama sudah tidak relevan lagi, belum diperbarui lagi sejak 2002. Contohnya, patahan Opak yang merupakan sumber gempa tahun 2006 di Yogyakarta tidak terdeteksi. Saat ini metodologi untuk mengkaji sumber gempa sudah bertambah canggih. Itulah yang akan diterapkan dalam peta baru, sekaligus menghimpun sejumlah laporan kegempaan yang tercecer di banyak lembaga.

Kota Pangalengan, Kabupaten Bandung, rusak parah mesti dirobohkan karena tidak layak huni. Selain wilayah ini masuk zona yang berguncang hebat saat terjadi gempa Tasikmalaya, kerusakan parah lebih karena rumah tidak dibangun mengikuti ketentuan tahan gempa. Ini tipikal sekali di Indonesia, sosialisasi bangunan tahan gempa belum jalan. Tak cuma Pangalengan, sejumlah besar kerusakan pascagempa di kawasan yang kerap berkecamuk seperti Yogyakarta, Aceh, Nias, dan Bengkulu juga disebabkan kebanyakan warga membangun rumah dengan konstruksi yang kacau balau. Belum lagi kalau mengingat amplifikasi getaran yang berasal dari kondisi tanah. Bangunan yang didirikan di atas tanah yang lunak seperti cekungan Bandung akan berguncang 2-3 kali lebih hebat ketimbang bangunan yang berdiri di atas lapisan tanah yang sudah keras.

Perlu diketahui, tak cuma minim informasi kegempaan, Pulau Jawa pun minim alat deteksi dini tsunami. Asisten Deputi Menteri Riset dan Teknologi Urusan Analisis Kebutuhan Iptek, Edie Prihantoro, mengatakan bahwa saat ini belum ada buoy di zona subduksi selatan Jawa. Idealnya ada tiga, masing-masing satu setiap jarak 200-300 kilometer. Adapun, saat ini peringatan gempa untuk wilayah tersebut masih mengandalkan observasi gelombang laut dengan tide gauge milik Bakosurtanal. Seandainya sudah ada buoy pelaporan bahaya tsunami hanya butuh waktu 2 menit.

Bilamana terjadi gempa, dalam waktu 5 menit Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika akan menghitung kekuatan dan mencari tahu lokasinya. Untuk potensi tsunami, batasannya yaitu gempa berpusat di perairan dangkal (kedalamannya kurang atau sama dengan 30 kilometer) dan kekuatannya mencapai 7 SR. Buoy yang terpasang di batas lempeng bisa dalam waktu singkat mendeteksi potensi tsunami dan mengirim sinyal ke darat.

Sementara dalam gempa Tasikmalaya, konfirmasi tsunami baru didapat 30-40 menit kemudian setelah gelombang menempuh jarak 250-300 kilometer dan mencapai tide gauge di pantai. Dan, pascagempa Tasikmalaya, stasiun pasang surut di Pamengpeuk dan Pelabuhan Ratu mencatat terjadi perubahan gelombang yang disebabkan gempa sebesar 0,2-1 meter atau terjadi tsunami lokal di sekitar pesisir Garut dan Pelabuhan Ratu (Media Indonesia, Jawa Berpotensi Diguncang Gempa 9 SR, Jumat 4 September 2009)

Iklan