Rancang Bangun Roket dengan Banyak Fungsi dan Biaya Murah

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Pengembangan roket mulai menyedot perhatian dunia ketika difungsikan sebagai peluru kendali pada Perang Dunia II dan menjadi wahana pengorbit Satelit Sputnik pada tahun 1957. Di luar itu masih ada beberapa aplikasi lain yang dapat dimuatkan pada roket uji cobanya dilakukan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) medio Agustus 2009 di Bantul. Pagi itu sekitar pukul 7 langit di Pandansimo, Kabupaten Bantul, masih sedikit berkabut, angin pun berembus lemah. Kembali di pantai selatan Bantul itu untuk tahun kedua akan dilakukan uji coba peluncuran roket bermuatan. Di kejauhan tampak jajaran roket-roket menghadap ke laut lepas Samudra Hindia. Roket itu tergolong kecil karena hanya berdiameter 100 milimeter dan panjangnya sekitar 1 meter. Roket-roket tersebut, meski satu ukuran, ternyata tak semuanya bermuatan serupa.

Modifikasi Cuaca

Pada kesempatan pertama akan diluncurkan roket yang dimuati tabung flare (suar) untuk modifikasi cuaca. Roket itu rancangan Prof Dr Untung Haryanto, peneliti dari Unit Pelaksana Teknik Hujan Buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Roket itu dapat menjangkau ketinggian hingga 3 kilometer, tepat berada di dasar awan hujan. Pada posisi itu gas didasar tabung roket akan mendorong keluar pipa flare di atasnya yang dilengkapi dengan parasut sehingga terjadi separasi. Flare itu bergaris tengah 6,5 sentimeter dan panjangnya 20 sentimeter.

Di salah satu ujung pipa flare terdapat bahan pemicu untuk membakar flare. Flare itu mengandung berbagai senyawa antara lain kalsium, kalium, dan klorida. Ketika melayang dengan parasut di dekat dasar awan, unsur-unsur tersebut akan masuk ke dalam awan terdorong arus udara naik. Bahan kalsium klorida (Ca-C12) yang bersifat higroskopis akan mengikat butiran-butiran uap air hingga membesar menjadi butiran air hujan.

Penggunaan kalsium klorida untuk TMC (Teknik Modifikasi Cuaca) pada musim kemarau, yang tingkat kelembabannya kurang dari 50 persen, lebih efektif dibandingkan dengan penggunaan garam natrium klorida. Karena itu, tingkat keberhasilan flare yang menggunakan CaC12 lebih besar dibandingkan penyemaian awan menggunakan NaC1 dari pesawat terbang.

Penggunaan roket, juga memiliki beberapa keuntungan. Untuk TMC, dengan roket akan menggeser penggunaan pesawat terbang, yang selain memerlukan landasan, juga terbatas beroperasi pada pagi dan siang hari. Dengan roket, penyemaian awan dapat dilakukan juga pada sore dan malam hari serta di kawasan pegunungan. Selain mudah, roket hujan buatan juga murah pengoperasiannya. Untuk membuat dan menerbangkan flare seberat 500 gram diperlukan dana sebesar Rp.500.000. Adapun pengoperasian dengan pesawat terbang menelan biaya Rp.700 juta. Di beberapa negara, seperti di China, pengoperasian roket hujan buatan karena mudahnya, dapat dilakukan oleh para petani sendiri tanpa melibatkan institusi resmi.

Roket Suar

Dengan teknik yang sama dengan roket hujan buatan, diuji coba pula roket suar. Selama ini suar ditembakkan dengan menggunakan pistol ke udara hingga mencapai ketinggian 100 meter. Adapun dengan menggunakan roket, suar dapat dilontarkan hingga jarak 1,2 kilometer ke udara. Menurut Mayor Teknik M Zuhnir P, perancang roket suar dari Departemen Aeronautika Akademi Angkatan Udara, suar yang berupa pipa, seperti pipa flare, di dalamnya seperti terdiri dari bahan berdaya ledak rendah, sulfur, zat pewarna, seperti stronsium dan barium, serta unsur yang mengeluarkan cahaya, seperti fosfor.

Penggunaan roket dengan muatan suar tersebut sudah merambah ranah keamanan, bukan hanya udara, tetapi juga persoalan kelautan. Pembuatan sekitar 40 roket suar untuk mendukung operasi Badan Koordinasi Keamanan Laut di Indonesia. Sekretaris Bakorkamla, Dicky Munaf, mengatakan akan dilakukan Lapan setelah penandatanganan MOU oleh kedua belah pihak pada Juni lalu. Roket suar diharapkan dapat membantu pencahayaan saat penindakan pada malam hari ketika melakukan operasi penangkapan pelaku pencurian kayu, pencurian ikan, dan pencemaran laut di kawasan yang rawan, seperti di kawasan Selat Malaka dan Selat Makassar.

Di Pantai Pandansimo juga dicobakan penggunaan robot kendali pada roket. Robot ini merupakan hasil rancangan Dr Ir Endra Pitowarno, MEng. Endra adalah salah satu dosen Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) Institut Teknologi 10 Nopember yang telah berkutat dengan dunia robot sejak akhir tahun 1980-an. Penggunaan robot kendali ini bertujuan untuk mengarahkan parasut yang membawa instrumen atau muatan penting seusai separasi pada roket, agar muatan tersebut jatuh pada tempat yang aman. Robot tersebut, yang juga tergantung di parasut, dilengkapi baling-baling di setelah kiri dan kanan, dan juga dilengkapi dengan pengendali mikro sehingga dapat dikendalikan dari jarak jauh.

Lomba Muatan Roket

Selain muatan roket hasil rekayasa peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Lapan, juga diadakan lomba rancangan, muatan roket karya para mahasiswa. Kepala Pusat Teknologi Terapan Lapan, Handoko Slamet Riadhi mengatakan, kompetisi ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta kepada dirgantara kepada generasi muda. Pada tahun-tahun mendatang Kompetisi Roket Indonesia (Korindo) akan digelar di tingkat kawasan, tidak hanya di Pulau Jawa. Pada tahun 2009, dari 62 proposal, terpilih 27 proposal yang dapat lolos sebagai finalis lomba.

Korindo diadakan Lapan bekerja sama dengan Kementerian Negara Riset dan Teknologi, Departemen Pendidikan Nasional, Universitas Gadjah Mada, Akademi Angkatan Udara, dan Pemerintah Kabupaten Bantul. Indonesia merupakan negara pertama di Asia Pasifik yang menyelenggarakan lomba seperti ini.

Tahun 2009 topik yang diangkat adalah Payload Meteorologi. Dalam lomba, peserta diwajibkan mempersiapkan muatan roketnya (payload) yang terdiri atas sensor tekanan, suhu, kelembaban, dan percepatan. Penilaian lomba akan didasarkan pada performa, inovasi, manufaktur, rekayasa, dan desain. Para peserta harus mengikuti uji prakualifikasi, yang meliputi pengukuran dimensi muatan, pengukuran daya, uji funggionalitas, uji telecommand, dan uji g-shock.. Untuk bisa lolos pada tahap ini, muatan roket harus dapat mengirim sensor ke ground segment (stasiun bumi) secara utuh.

Tim peserta kemudian harus mempresentasikan hasil rancang bangun muatannya kepada Dewan Juri Korindo 2009, yang diketuai Dr Susetyo Mulyodrono (Lapan). Terpilih sebagai Juara I adalah Tim Aermania dari Universitas Satya Wacana (Salatiga). Juara kedua dan ketiga diperoleh UGM (Yogyakarta), yaitu tim By P dan Gatot Koco. Adapun tim Astronic System Institut Teknologi Bandung (ITB) terpilih sebagai Juara Harapan I. Juara Harapan II dan III diraih oleh tim-tim roket dari UGM dan Tim Universitas Tarumanegara secara berturut-turut.

Dengan mengadakan lomba tersebut, tentu muncul pula harapan bahwa dirgantara Indonesia dapat mencapai kedaulatan sendiri dan tidak bergantung pada pihak-pihak luar. Dengan kemampuan sendiri diharapkan semua persoalan yang dapat dipecahkan melalui rekayasa di dirgantara dapat dilakukan bangsa ini sendiri (Kompas, Membawa Muatan Multimanfaat, Selasa 25 Agustus 2009)