Rasa Nyeri

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Setiap orang pasti pernah merasakan rasa nyeri dan dapat pula mengatakan bagaimana nyeri tersebut dirasakan. Namun hingga sampai kini, para peneliti masih tetap belum memiliki pendapat yang baku tentang definisi nyeri tersebut. Bagi psikolog, nyeri adalah impuls sensorik dasar. Bagi ahli neurofisiologi, ahli saraf dan ahli bedah saraf, nyeri merupakan suatu pola aktivitas neurofisiologi pada suatu pusat saraf tertentu. Bagi ahli biologi, nyeri merupakan suatu aktivitas yang penting artinya untuk mempertahankan hidup. Untuk ahli jiwa, nyeri merupakan efek atau emosi, dan bagi seorang analis, nyeri merupakan produk konflik psikis internal. Secara objektif, nyeri adalah suatu ekspresi dari interpretasi berbagai macam input yang masuk ke berbagai pusat di otak.

“The International Association for the Study of Pain” (IASP), menyepakati definisi Nyeri sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan karena kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah sebagai kerusakan. Gambaran nyeri akan selalu mempunyai komponen subyektif. Masing-masing orang membentuk konstruksi internal mengenai nyeri dalam bereaksi terhadap cedera atau kerusakan jaringan.

Beberapa ahli menyatakan bahwa pada neonatus, ekspresi terhadap nyeri tidak sesuai persis dengan definisi IASP karena tidak dapat mengeluh. Kurangnya kemampuan untuk mengenali nyeri mempunyai andil pada kesalahan profesional kesehatan dalam melakukan terapi secara cepat selama masa bayi dan anak-anak. Karena neonatus tidak dapat menyampaikan rasa nyeri secara verbal sehingga sangat tergantung pada kemampuan para profesional dalam mengenali, menaksir dan melakukan manajemen nyeri. Jadi kemampuan para profesional kesehatan dalam mendiagnosis nyeri neonatus hanya diperoleh dengan mengenali perilaku dan respon fisiologis.

Muller adalah pertama kali mengkonsepkan nyeri pada tahun 1890 yang kemudian disebut dengan ”Specificity Theory. Di perifer terdapat reseptor nyeri yang spesifik. Aktivasi dari reseptor ini akan menimbulkan impuls yang akan di salurkan ke neuron nyeri yang terdapat di ganglion radiks dorsalis. Kemudian akson neuron ini akan menyalurkan impuls tadi ke kornu dorsalis medulla spinalis. Kemudian neuron di kornu dorsalis medulla spinalis akan menjulurkan aksonnya menyilang garis tengah di komisura anterior menuju sisi kontralateral dan membentuk traktus spinotalamikus lateralis. Traktus ini mempunyai penataan topografik dan menuju ke talamus. Dari talamus menuju ke korteks serebri (kontralateral) sebagai traktus talamokortikalis dan berakhir di korteks sensorik.

Pada tahun 1920 lahirlah ”The pattern theory” oleh Wollard dan Sinclai, yang menyatakan bahwa nyeri merupakan hasil dari rangsang (stimulasi) yang berlebihan pada sistem multimodal (yang diaktivasi oleh kombinasi antara intensitas dan kecepatan dari stimulus). Nyeri merupakan fenomena sistem saraf pusat dan merupakan hasil dari pengenalan otak terhadap pola aktivasi reseptor-reseptor dan sel saraf-sel saraf multipotensi.

Pada tahun 1965, Melzack dan Wall mengusulkan ”Gate Theory”. Disampaikan bahwa impuls sensorik melalui serabut saraf perifer tebal dan serabut saraf perifer kecil diteruskan ke sel T (Transmisi) yang terdapat di kornu dorsalis medulla spinalis. Impuls sensorik melalui serabut saraf perifer tebal (bermielin)-Serabut A delta, bekerja sebagai penghambat sel T yang berarti menutup “pintu gerbang”. Sedang impuls sensorik yang dihantarkan oleh serabut saraf perifer kecil (tak bermielin), serabut C bekerja mengaktivasi (membuka) “pintu gerbang” dengan demikian menyalurkan impuls sensorik tadi ke susunan saraf pusat.

Pada tahun 1975, Noback CR mempertanyakan: ”Apakah nyeri itu?” Jawabannya: ”Tergantung dari respondennya”. Namun Noback menjelaskan bahwa nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan, baik aktual maupun potensial atau yang digambarkan dalam bentuk kerusakan tersebut.

Menurut Bennet dan Tollison menyatakan di Amerika Serikat terdapat sekitar 75-80 juta penderita nyeri kronik dengan 25 juta diantaranya penderita arthritis. Diperkirakan ada 600.000 penderita arthritis baru setiap tahunnya. Jumlah penderita nyeri neuropatik lebih kurang 1% dari total penduduk di luar nyeri punggung bawah. Untuk nyeri punggung bawah diperkirakan 15% dari jumlah penduduk. Insidensi maupun prevalensi nyeri akut belum diketahui, tetapi diperkirakan operasi dan trauma adalah penyebab utama nyeri akut.

Pustaka

Noback CR, Demarest RJ. The Human Nervous System, Basic Principles of Neurobiology. 2nd ed. New York: McGraw Hill; 1975. p. 155-157

Hoffert MJ. The Neurophysiology of Pain. In: Pain Mechanisms and Syndromes, Neurologic Clinics. London: WB Saunders Co; Vol 7, No 3, May 1989. p. 183-203

Duarte RA. Classification of pain. In: Kanner R, editor. Pain management secrets. Philadelphia: Hanley and Belfus; 1997. p. 5-7.

Anand KJS, Craig KD. New perspectives on definition of pain (Editorial). Pain 1996; 67: 3-6

Merskey H. Response to editorial: New perspectives on definition of pain (Letter). Pain 1996; 66: 209.

Johnston CC, Collinge JM, Henderson CJ, Anand KJ. A cross-sectional survey on pain and pharmacological analgesia in Canadian neonatal intensive care units. Clin J Pain. 1997;13:308-12.

Craig KD, Lilley CM, Gilbert CA. Social barrier to optimal pain management in infant and children. Clin J Pain. 1996;12:232-42.

Cross MI, Chinn ND, Griffin JF, Buchan GS. T cell response to Mycobacterium bovis in red deer, a large animal model for tuberculosis. Immunol Cell Biol 1996 Feb; 74(1): 32-7.

Meliala L, Suryamiharja, Purba JS. Konsensus Nasional Penanganan Nyeri Neuropatik. Kelompok Studi Nyeri, Perhimpunan Dokter spesialis Saraf Indonesia. 2000.

Bennet GJ. Neuropathic Pain: An overview. In: Borsook D, editor. Molecular Neurobiology of Pain.Seattle: IASP Press; 1997.

Tollison CD. Pain and It’s Magnitude. In: Weiner RS, Editor. Pain management. CRC Press; Ill. 1998. p. 3-6

Fordyce WF. Back Pain in Workplace. Seattle: IASP Press; 1995. p. 5-9

Loeser JD, Melzack R. Pain: an Overview. The Lancet 1999; 353: 1607-09

Iklan