Rinitis Atrofi

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Rinitis atrofi sering ditemukan pada masyarakat dengan sosial ekonomi rendah, lingkungan yang buruk dan di negara yang sedang berkembang. Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai saat ini belum dapat diterangkan secara jelas, sehingga pengobatannya belum ada yang baku.

Rinitis atrofi adalah penyakit infeksi hidung kronik, yang ditandai adanya atrofi progresif pada mukosa dan tulang konka dan pembentukan krusta. Secara klinis, mukosa hidung menghasilkan sekret yang kental dan cepat mengering, sehing¬ga terbentuk krusta yang berbau busuk. Penyakit ini lebih sering mengenai wanita, terutama pada usia pubertas. Sering ditemukan pada masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan di lingkungan yang buruk dan di negara sedang berkembang.

Etiologi dan patogenesis rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan. Oleh karena etiologinya belum pasti, maka pengobatannya belum ada yang baku. Pengobatan ditujukan untuk menghilangkan faktor penyebab dan untuk menghilangkan gejala. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau jika tidak menolong, dilakukan operasi. Sinonim: Ozaena, rinitis fetida, rinitis krustosa.

KEKERAPAN

Rinitis atrofi lebih sering mengenai wanita, terutama pada usia pubertas. Baser dkk mendapatkan 10 wanita dan 5 pria, dan Jiang dkk mendapatkan 15 wanita dan 12 pria. Samiadi mendapatkan 4 penderita wanita dan 3 pria. Baser dkk mendapatkan umur antara 26-50 tahun, Jiang dkk berkisar 13-68 tahun, Samiadi mendapatkan umur antara 15-49 tahun. Penyakit ini sering ditemukan di kalangan masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah dan lingkungan yang buruk dan di negara sedang berkembang.

ETIOLOGI

Etiologi rinitis atrofi sampai sekarang belum dapat diterangkan dengan memuaskan.

Infeksi kronik spesifik

Terutama kuman Klebsiella ozaena. Kuman ini menghentikan aktifitas sillia normal pada mukosa hidung manusia. Kuman lain adalah Stafilokokus, Streptokokus dan Pseudomonas aeruginosa, Kokobasilus, Bacillus mucosus, Diphteroid bacilli, Cocobacillus foetidus ozaena, Defisiensi vitamin A, Sinusitis kronik, Ketidakseimbangan hormon estrogen, Penyakit kolagen yang termasuk penyakit autoimun, Teori mekanik dari Zaufal, Ketidakseimbangan otonom, Variasi dari Reflex Sympathetic Dystrophy Syndrome (RSDS), Herediter, Supurasi di hidung dan sinus paranasal, Golongan darah.

Rinitis atrofi juga bisa digolongkan atas: rinitis atrofi primer yang penyebabnya tidak diketahui dan rinitis atrofi sekunder, akibat trauma hidung (operasi besar pada hidung atau radioterapi) dan infeksi hidung kronik yang disebabkan oleh sifilis, lepra, midline granuloma, rinoskleroma dan TBC.

PATOLOGI DAN PATOGENESIS

Adanya metaplasi epitel kolumnar bersilia menjadi epitel skuamous atau atrofik dan fibrosis dari tunika propria. Terdapat pengurangan kelenjar alveolar baik dalam jumlah dan ukuran dan adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal. Oleh karena itu secara patologi, rinitis atrofi bisa dibagi menjadi dua: 1) Tipe I : adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriole terminal akibat infeksi kronik; membaik dengan efek vasodilator dari terapi estrogen. 2) Tipe II : terdapat vasodilatasi kapiler, yang bertambah jelek dengan terapi estrogen.

Sebagian besar kasus merupakan tipe I. Endarteritis di arteriole akan menyebabkan berkurangnya aliran darah ke mukosa. Juga akan ditemui infiltrasi sel bulat di submukosa. Taylor dan Young mendapatkan sel endotel berreaksi positif dengan fosfatase alkali yang menunjukkan adanya absorbsi tulang yang aktif.

Atrofi epitel bersilia dan kelenjar seromusinus menyebabkan pembentukan krusta tebal yang melekat. Atrofi konka menyebabkan saluran nafas jadi lapang. Ini juga dihubungkan dengan teori proses autoimun; Dobbie mendeteksi adanya antibodi yang berlawanan dengan surfaktan protein A. Defisiensi surfaktan merupakan penyebab utama menurunnya resistensi hidung terhadap infeksi.

Fungsi surfaktan yang abnormal menyebabkan pengurangan efisiensi mucus clearance dan mempunyai pengaruh kurang baik terhadap frekuensi gerakan silia. Ini akan menyebabkan bertumpuknya lendir dan juga diperberat dengan keringnya mukosa hidung dan hilangnya silia. Mukus akan mengering bersamaan dengan terkelupasnya sel epitel, membentuk krusta yang merupakan medium yang sangat baik untuk pertumbuhan kuman.

GEJALA KLINIS DAN PEMERIKSAAN

Keluhan biasanya berupa hidung tersumbat, gangguan penciuman (anosmi), ingus kental berwarna hijau, adanya krusta (kerak) berwarna hijau, sakit kepala, epistaksis dan hidung terasa kering.

Pada pemeriksaan ditemui rongga hidung dipenuhi krusta hijau, kadang-kadang kuning atau hitam; jika krusta diangkat, terlihat rongga hidung sangat lapang, atrofi konka, sekret purulen dan berwarna hijau, mukosa hidung tipis dan kering. Bisa juga ditemui ulat/telur larva (karena bau busuk yang timbul).

Pembagi ozaena secara klinik dalam tiga tingkat:

  1. Tingkat I: Atrofi mukosa hidung, mukosa tampak kemerahan dan berlendir, krusta sedikit.
  2. Tingkat II: Atrofi mukosa hidung makin jelas, mukosa makin kering, warna makin pudar, krusta banyak, keluhan anosmia belum jelas.
  3. Tingkat III: Atrofi berat mukosa dan tulang sehingga konka tampak sebagai garis, rongga hidung tampak lebar sekali, dapat ditemukan krusta di nasofaring, terdapat anosmia yang jelas.

DIAGNOSIS

Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan darah rutin, rontgen foto sinus paranasal, pemeriksaan Fe serum, Mantoux test, pemeriksaan histopatologi dan test serologi (VDRL test dan Wasserman test) untuk menyingkirkan sifilis. Diagnosis Banding: Rinitis kronik tbc, rinitis kronik lepra, rinitis kronik sifilis dan rinitis sika.

KOMPLIKASI

Dapat berupa: perforasi septum, faringitis, sinusitis, miasis hidung, hidung pelana.

PENATALAKSANAAN

Tujuan pengobatan adalah: menghilangkan faktor etiologi dan menghilangkan gejala. Pengobatan dapat diberikan secara konservatif atau kalau tidak menolong dilakukan operasi.

Konservatif

  1. Antibiotik spektrum luas sesuai uji resistensi kuman, dengan dosis adekuat sampai tanda-tanda infeksi hilang. Qizilbash dan Darf melaporkan hasil yang baik pada pengobatan dengan Rifampicin oral 600mg/1xsehari selama 12 minggu.
  2. Obat cuci hidung, untuk membersihkan rongga hidung dari krusta dan sekret dan menghilangkan bau. Antara lain: 1) Betadin solution dalam 100ml air hangat. 2) Campuran : NaCl, NH4Cl, NaHCO3 aaa 9Aqua ad 300c, 1 sendok makan dicampur 9 sendok makan air hangat. 3) Larutan garam dapur. 4) Campuran Na bikarbonat 28,4g, Na diborat 28,4g, NaCl 56,7g dicampur 280ml air hangat. Larutan dihirup ke dalam rongga hidung dan dikeluarkan lagi dengan menghembuskan kuat-kuat, air yang masuk ke nasofaring dikeluarkan melalui mulut, dilakukan dua kali sehari.
  3. Obat tetes hidung, setelah krusta diangkat, diberi antara lain : glukosa 25% dalam gliserin untuk membasahi mukosa, oestradiol dalam minyak Arachis 10.000U/ml, kemisetin anti ozaena solution dan streptomisin 1g+NaCl 30ml. diberikan tiga kali sehari masing-masing tiga tetes.
  4. Vitamin A3x10.000U selama 2 minggu
  5. Preparat Fe
  6. Selain itu bila ada sinusitis, diobati sampai tuntas

Ekstrak plasenta manusia secara sistemik memberikan 80% perbaikan dalam 2 tahun dan injeksi ekstrak plasenta submukosa intranasal memberikan 93,3% perbaikan pada periode waktu yang sama. Ini membantu regenerasi epitel dan jaringan kelenjar.

Trisulfa 3×2 tablet sehari selama 2 minggu, natrium bikarbonat, cuci hidung dengan Na Cl fisiologis 3x sehari, kontrol darah dan urine seminggu sekali untuk melihat efek samping obat, pembersihan hidung di klinik tiap 2 minggu sekali, cuci hidung diteruskan sampai 2-3 bulan kemudian dan didapatkan hasil yang memuaskan pada 6 dari 7 penderita.

Operasi

Tujuan operasi antara lain untuk: menyempitkan rongga hidung yang lapang, mengurangi pengeringan dan pembentukan krusta dan mengistirahatkan mukosa sehingga memungkinkan terjadinya regenerasi. Beberapa teknik operasi yang dilakukan antara lain:

  1. Young’s operation, Penutupan total rongga hidung dengan flap. Hasil yang baik dengan penutupan lubang hidung sebagian atau seluruhnya dengan menjahit salah satu hidung bergantian masing-masing selama periode tiga tahun.
  2. Modified Young’s operation, Penutupan lubang hidung dengan meninggalkan 3 mm yang terbuka.
  3. Lautenschlager operation, Dengan memobilisasi dinding medial antrum dan bagian dari etmoid, kemudian dipindahkan ke lubang hidung
  4. Implantasi submukosa dengan tulang rawan, tulang, dermofit, bahan sintetis seperti Teflon, campuran Triosite dan Fibrin Glue.
  5. Transplantasi duktus parotis ke dalam sinus maksila (Wittmack’s operation) dengan tujuan membasahi mukosa hidung.

Soetjipto D, Mangunkusumo E. Hidung. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok . Edisi ke 3. Jakarta: FKUI, 1997.

Mangunkusumo E. Rinitis Atrofi. Dalam: Penatalaksanaan Penyakit dan Kelainan Telinga Hidung Tenggorok. Jakarta: FKUI, 1992; 90-2.

Weir N, Wood DG. Infective Rhinitis and Sinusitis. Dalam: Scott-Brown’s Otolaryngology. 6th ed. Oxford: Butterworth-Heinemann, 1997; 4/8/26-7.

Ramalingam KK, Sreeramamoorthy B. A Short Practice of Otolaryngology. Madras : All India Publisher, 1993; 202-5.

Kumar S. Fundamental of Ear,Nose & Throat Diseases and Head – Neck Surgery. Calcutta : The New Book Stall, 1996; 218-21.

Lobo CJ, Hartley C, Farrington WT. Closure of the Nasal Vestibule in Atrophic Rhinitis-A new non surgical technique. J Laryngol Otol 1998; 112 : 543-6.

Sayed RH, Elhamd KA, Kader MA. Study of Surfactant Level in Cases of Primary Atrophic Rhinitis. J Laryngol Otol 2000; 114 : 254-9.

Baser B, Grewal DS, Hiranandani NL. Management of Saddle Nose Deformity in Atrophic Rhinitis. J Laryngol Otol 1990 ; 104 : 404-7.

Groves J,Gray RF.A Synopsis of Otolaryngology. 4th Bristol: Wright, 1985; 193-411.

Maqbool M. Textbook of Ear, Nose and Throat Diseases. 6th ed New Delhi: Jaypee Brothers, 1993; 264-7.

Massegur H.Atrophic Rhinitis-Pathology, Etiology and Management. Dalam: XVI Congress of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. Sydney, 1997; 1403-6.

Maran AGD. Disease of the Nose, Throat and Ear. Singapore: PG Publishing, 1992; 40-1.

Colman BH. Disease of the Nose, Throat and Ear and Head and Neck. 14th ed Singapore: ELBS, 1987; 26-7.

Becker W, Naumann HH, Pfaltz CR. Ear, Nose and Throat Diseases. A Pocket Reference. 2nd ed. New York: Georg Thieme Verlag, 1994; 218-9.

Hagrass, Gamea AM, Sherief SG.Radiological and Endoscopic Study of the Sinus Maxilla in Primary Atrophic Rhinitis.J Laryngol Otol 1992 ;106: 702-3.

Bertrand B, Doyen A, Elloy P. Triosite Implants and Fibrin Glue in the Treatment of Atrophic Rhinitis:Technique and Results. Laryngoscope 1996; 106: 652-7.

Ballenger JJ. Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. Edisi 13. Jilid 1. Alih Bahasa: Staf Ahli Bag. THT FKUI. Jakarta: Bina Rupa Aksara, 1994; 1-4, 10-5, 229.

Hilger PA. Hidung: Anatomi dan Fisiologi Terapan. Dalam: Boies (ed), Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6, Alih Bahasa: Wijaya, C. Jakarta: EGC, 1996; 173-82, 221-2.

Samiadi D. Laporan Penanggulangan Beberapa Kasus Rinitis Atrofi. Dalam: Kumpulan Naskah Ilmiah Konas VII Perhati. Ujung Pandang, 1986; 549-55.

Naumann HH. Head and Neck Surgery. Indication, Technique, Pitfalls. Vol.1. New York: Georg Thieme Publishers, 1980; 349-51, 381-2.

Montgomery WW. Surgery of the Upper Respiratory System. 3rd Baltimore: Williams & Wilkins, 1996; 492, 499.