Sebab Sebab dan Epidemiologi Anemia

10 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Pengertian anemia pada dasarnya dapat dibedakan sebagai berikut: (1) Keadaan menurunnya kadar hemoglobin, hematokrit dan jumlah eritrosit di bawah nilai yang normal diberikan pada individu. (2) Keadaan kadar hemoglobin, hematokrit dan jumlah eritrosit lebih rendah dari nilai normal sebagai akibat dari defisiensi salah satu atau beberapa makanan yang esensial yang mempengaruhi timbulnya defisiensi tersebut. (3) Anemia gizi besi (AGB) adalah anemia yang terjadi karena kebutuhan besi untuk eritrosis tidak cukup, biasanya ditandai dengan eritrosit yang mikrositik, hipokrom, kadar besi serum rendah, saturasi transferin mengurang, dan tidak adanya besi pada sumsum tulang dan tempat cadangan besi yang lain.

Kriteria untuk melakukan diagnosa adanya anemia berdasarkan pada kadar hemoglobin yang digolongkan pada:

  1. Anak 6 bulan – 6 tahun: Hb11g/dL
  2. Anak 6-14 tahun: Hb12g/dL
  3. Dewasa pria: Hb13g/dL
  4. Wanita tidak hamil: Hb12g/dL
  5. Wanita hamil: Hb11g/dl

SEBAB-SEBAB ANEMIA

Ada tiga faktor terpenting yang menyebabkan orang menjadi anemia, yaitu kehilangan darah karena perdarahan, kerusakan sel darah merah dan produksi sel darah merah tidak cukup banyak.

Pendarahan

Seseorang dapat menjadi anemia karena perdarahan dan kehilangan sel sel darah merah dari tubuhnya. Perdarahan dapat terjadi eksternal maupun internal. Pendarahan mendadak dan banyak disebut perdarahan eksternal, misalnya pada waktu kecelakaan.

Perdarahan dapat pula terjadi karena racun, obat-obatan atau racun binatang yang menyebabkan penekanan terhadap pembuatan sel sel darah merah. Adapula perdarahan kronis, yaitu perdarahan sedikit demi sedikit, tapi terus menerus. Penyebabnya antara lain; kanker pada saluran pencernaan, tukak lambung, wasir dan lain lain. Perdarahan yang terus menerus ini dapat menyebabkan anemia.

Kerusakan Sel Darah Merah

Pada beberapa penyakit misalnya malaria dan talasemia, sel sel darah merah dirusak di dalam pembuluh darah. Ini menyebabkan anemia hemolitik. Bila sel sel darah merah rusak di dalam tubuh, besi yang ada di dalamnya tidak hilang, tetapi tetap dapat digunakan kembali untuk membentuk sel sel darah merah yang baru. Karena itu untuk anemia jenis ini, pemberian besi kurang bermanfaat. Tetapi asam folat di dalam sel sel darah merah yang telah rusak tidak dapat digunakan lagi, jadi asam folat diperlukan di dalam pengobatan anemia hemolitik.

Produk Sel Darah Merah Tidak Cukup Banyak

Umur sel darah merah kira kira 120 hari, sumsum tulang mengganti sel darah merah yang tua membuat sel darah merah yang baru. Kemampuan membuat sel darah merah baru sama cepatnya dengan banyaknya sel darah merah tua yang hilang, sehingga jumiah sel darah merah dipertahankan selalu cukup banyak di dalam darah.

Bila tidak tersedia cukup banyak zat gizi yang diperlukan, maka terjadi gangguan pembuatan sel darah merah baru. Hal ini mungkin dapat disebabkan karena makanan yang dikonsumsi tidak cukup banyak mengandung zat gizi, atau karena kesalahan pencernaan yang tidak dapat mengabsorpsi dengan baik zat zat itu sehingga banyak zat gizi yang terbuang bersama kotoran. Bila keadaan ini berlangsung lama, maka yang bersangkutan dapat menjadi anemia. Anemia yang diderita karena kekurangan zat gizi ini disebut anemia gizi.

EPIDEMIOLOGI ANEMIA

Prevalensi Anemia

Anemia merupakan masalah yang dihadapi oleh banyak negara, baik negara maju maupun berkembang. Di negara maju prevalensi anemia tergolong relatif rendah dibandingkan dengan negara berkembang yang diperkirakan mencapai 90 % dari semua individu.

Beberapa peneliti dan laporan menyatakan bahwa anemia gizi besi merupakan prevalensi yang paling tinggi dari berbagai anemia gizi, dan hampir separuh dari semua wanita di negara berkembang menderita anemia.

Di antara negara-negara berkembang yang mempunyai prevalensi anemia gizi yang paling tinggi adalah negara-negara di benua Asia Selatan. Prevalensi anemia gizi paling tinggi pada wanita hamil dan lebih dari 40% wanita hamil di negara Asia menunjukkan Hb

Iklan