Sebanyak 38,30 persen Terumbu Karang Habitat Ikan di Teluk Kupang Nusa Tenggara Timur Musnah

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Laporan penelitian oleh Jotham SR Ninef dari Universitas Nusa Cendana yang dipublikasikan Coral Reef Information And Training Center (CRITC) menyatakan sebanyak 38,30 persen habitat ikan di Teluk Kupang Nusa Tenggara Timur telah musnah. Kesimpulan tersebut menunjukkan bahwa fungsi karang mengalami penurunan sejak tahun 1995 akibat penangkapan ikan menggunakan bahan peledak dan jaring, serta menumpuknya endapan lumpur dan sampah.

Setelah membandingkan hasil penelitian saat ini dengan tujuh tahun sebelumnya, disimpulkan bahwa porsi karang buruk meningkat sampai 38,30%, karang sedang 40,43%, karang bagus tinggal 19,15%, adapun karang yang masih sangat bagus tersisa hanya 2,13%. Kondisi ini tak sebatas di bagian utara dan selatan teluk, tetapi meluas ke perairan Pulau Kera, Pulau Semau, bahkan sampai perairan Pulau Rote. Ninef mengatakan bahwa persentase luasan terumbu karang dalam kondisi rusak meningkat luar biasa.

Menurut Ninef, penangkapan ikan menggunakan bahan peledak oleh nelayan masih berlangsung secara sembunyi-sembunyi dan luput dari pengamatan aparat keamanan. Pemicu lain di balik kerusakan terumbu karang di Teluk Kupang adalah buruknya kualitas air. Masyarakat pesisir masih terus membuang limbah sehingga air laut menjadi kotor. Pada musim hujan, sampah plastik, lumpur, dan potongan kayu terbawa banjir ke laut dan menutupi karang. Padahal, ikan memanfaatkan karang sebagai tempat yang aman untuk bertelur dan mencari makan. Karang juga berfungsi sebagai penyuling air dan penyedia pakan bagi organisme lain. Dari temuan ini, Ninef menyarankan supaya kebiasaan masyarakat mengotori laut dicegah agar tidak memperluas areal sedimentasi. Karena itu, pemerintah daerah punya peran vital dalam menggalang pemahaman bahwa terumbu karang sangat penting.

Penelitian lain yang dipublikasikan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada menyebutkan bahwa dari 132 jenis ikan yang bernilai ekonomi di Indonesia, 32 jenis di antaranya hidup di terumbu karang. Berbagai jenis ikan karang menjadi komoditas ekspor dan terumbu karang yang sehat menghasilkan 3-10 ton ikan per kilometer persegi per tahun.

Karang sebagai penghalang alami yang mampu melindungi pesisir Kupang dari bahaya abrasi sekarang sudah tidak efektif lagi. Kerusakan karang di Teluk Kupang berdampak buruk bagi ekosistem. Beberapa di antaranya yakni abrasi di Pantai Wisata Manikin dan Nunusui yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Supriharyono, peneliti pesisir lainnya, menyebutkan laguna atau goba di daerah back reef Teluk Kupang bisa sangat dalam dan sangat jernih sehingga terumbu karangnya dapat tumbuh dengan sangat subur.

Laguna yang terlindung dari ombak besar bisa dimanfaatkan sebagai pelabuhan pendaratan perahu dan kapal. Sayangnya, kondisi karang di Teluk Kupang saat ini telah memasuki kriteria berbahaya dan perlu diwaspadai. Memang tidak semua aktivitas di Teluk Kupang termasuk di pesisir pantai mendatangkan bencana. Hanya saja saat ini perusakan lingluingan terus berlangsung dan menambah potensi bencana buat kawasan pesisir. Jika perusakan tidak terus dipantau secara cermat, kerusakan yang semula kecil bisa berlipat ganda dan berkembang jadi ancaman (Media Indonesia, Habitat Ikan Teluk Terancam Musnah, Senin 7 September 2009)

Iklan