Sekitar 600 Ilmuwan Indonesia Pilih Bekerja di Perguruan Tinggi dan Lembaga Riset Luar Negeri

9 tahun ago kesimpulan 0

+ Karena kebebasan akademik, fasilitas canggih, dan jaminan kesejahteraan
+ Ada ilmuwan Indonesia di luar negeri yang berhasil memiliki hingga 10 paten
+ Hanya 0,87 artikel jurnal ilmiah per sejuta penduduk Indonesia

(kesimpulan) Sekitar 600 ilmuwan potensial Indonesia saat ini memilih bekerja di perguruan tinggi dan lembaga riset asing di luar negeri. Di luar negeri para ilmuwan penerima beasiswa program doktor ini umumnya tampil berprestasi. Direktur Kelembagaan Direktorat Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional, Hendarman mengatakan bahwa mereka ialah orang-orang Indonesia, dulunya para dosen yang menerima beasiswa program doktor, tetapi lantas memilih tetap bekerja di luar.

Para ilmuwan dari Indonesia tersebut tersebar di berbagai negara. Namun, kebanyakan berada di Jepang dan Jerman, misalnya Khoirill Anwar, alumnus Elektro Institut Teknologi Bandung dan pemilik paten sistem telekomunikasi 4G berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) adalah seorang WNI yang kini bekerja di Nara Institute of Science and Technology, Jepang. Ada juga ilmuwan Indonesia di luar negeri yang berhasil memiliki hingga 10 paten. Indonesia juga punya salah satu profesor paling muda asal Medan yang kini bekerja di Amerika Serikat dan mendapatkan dana penelitian yang sangat besar.

Bangsa Indonesia sesungguhnya memiliki Ilmuwan yang hebat-hebat, namun memilih berkarier di luar negeri. Meskipun begitu, negara tidak bisa menyalahkan mereka yang memilih bekerja di luar negeri demi mengembangkan kariernya. Ada banyak alasan mereka memilih ke luar. Bisa itu karena kebebasan akademiknya, fasilitas yang lebih canggih, ataupun demi alasan jaminan kesejahteraan.

Di sisi lain, kontribusi peneliti di lembaga riset dan perguruan tinggi Indonesia dalam jurnal-jurnal internasional justru masih sangat rendah. Hanya 0,87 artikel ilmiah per sejuta penduduk Indonesia. Sedangkan negara tetangga seperti Malaysia sebesar 21,30 atau India yang mencapai 12,00. Usaha ke depan, kementerian dan Dirjen Pendidikan Tinggi meminta peneliti prominent yang ada di luar negeri juga melakukan riset bareng. Setidaknya, nama perguruan tinggi asal mereka (di Indonesia) turut ditulis di penelitian yang dikerjakan. Ini penting untuk meningkatkan citations index di dalam rangka pemeringkatan universitas kelas dunia.

Wakil Rektor Senior Bidang Sumber Daya ITB, Carmadi Machub mengatakan, dari 1.020 dosen ITB, sekitar 5 persen di antaranya berperilaku kurang disiplin. Mereka jarang mengajar dan kerap mencari proyek tambahan di luar negeri. Hal ini sempat dipersoalkan dan diusulkan agar mereka ini diberhentikan sebagai pegawai negeri sipil. Ada yang izin pergi ke luar (negeri), tetapi tidak kembali, dosen-dosen tersebut sulit ditindak. Namun, diyakini, perilaku dosen seperti ini akan semakin berkurang seiring adanya program sertifikasi dosen yang bisa berimplikasi pada tambahan tunjangan profesi satu kali gaji pokok. Bahkan, khusus guru besar, tunjangannya itu bisa mencapai tiga kali lipat. (Kompas, 600 Peneliti Pilih Bekerja di Luar Negeri, Senin 13 Juli 2009)

Iklan