Sibling Rivalry Atau Rivalitas Saudara Kandung

10 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Persaingan antar saudara kandung dalam khasanah ilmu psikologi lebih popular disebut sibling rivalry (rivalitas saudara kandung) yang berarti persaingan antar saudara laki-laki atau perempuan dalam merebutkan cinta dan perhatian orangtua. Rivalitas didasari pada perasaan cemburu yang merupakan perasaan terancam karena takut kehilangan perhatian dan kasih sayang yang selama ini dimiliki seseorang akan diberikan kepada saudara kandungnya.

Silbling Rivalry adalah persaingan pengaruh orangtua diantara anak-anak yang lahir dari orangtua yang sama. Pendapat lain menyatakan, sibling rivalry adalah suatu persaingan di antara anak-anak dalam suatu keluarga yang sama, teristimewa untuk memperoleh afeksi atau cinta kasih orang tua. Lebih lanjut dikatakan bahwa sikap orangtua “pilih kasih” dapat rnenyebabkan kebencian antar saudara kandung. Sikap demikian menimbulkan rasa iri hati dan permusuhan yang mempengaruhi hubungan antar saudara kandung dengan munculnya berbagai pertentangan dengan saudara kandung. Perasaan iri yang diwarnai perselihan mengakibatkan sibling rivalry.

Perasaan iri yang dialami oleh seorang anak, merupakan akibat dari persepsi anak terhadap sikap orangtua yang mungkin tidak sama dengan yang dimaksud oleh orangtua. Orangtua berbagi perhatian kepada adik/saudara kandung yang lain yang sedang sakit, dipersepsikan oleh anak sebagai perhatian yang berlebihan. Perasaan iri sebagai perasaan terancam. Menganggap adik/saudaranya sebagai penyebab hilangnya kenikmatan yang selama ini dinimati. Waktu ibu dihabiskan untuk tnerawat dan mengasuh adik/saudaranya, oleh-oleh dari ibu-ayah harus dibagi dengan adik/saudaranya, mainan harus dipakai bergantian, semuanya harus dibagi termasuk harus berbagi ibu.

Rasa cemburu terhadap seseorang seringkali berupa tingkah laku mengadu, mengkritik, atau bahkan berbohong. Beberapa ciri yang diperlihatkan untuk mendapatkan kasih sayang dan perhatian orangtuanya, yaitu: menunjukkan sikap agresif pada orangtua dan saudara kandungnya, perilaku yang tidak mau menurut pada orangtua, perilaku tidak mau mengalah pada saudara kandung, serta menunjukkan tingkah laku untuk mencari perhatian secara berlebihan.

Ciri khas yang sering rnuncul pada cemburu karena adanya sibling rivalry, yaitu: egois, suka berkelahi, memiliki kedekatan yang khusus dengan salah satu orangtua, ketakutan neurotic, mengalami gangguan tidur, kebiasaan menggigit kuku, hiperaktif, suka merusak, dan menuntut perhatian lebih banyak. Namun bisa pula sebaliknya menjadi penurut dan patuh, selalu mencari pertolongan tetapi dengan diam-diam berusaha untuk menang. Saudara kembar mungkin juga menunjukkan kekhawatiran yang berlebihan terhadap saudara lainnya yang dianggap sebagai saingannya. Gejala cemburu terhadap saudara kembar karena adanya sibling rivalry dapat dilihat dari tingkah lakunya yang berjalan dengan sikap angkuh, sombong, secara mencolok bersikap acuh tak acuh dengan menganggap orang lain tidak ada, merencanakan untuk membalas dendam dan memuja diri sendiri. Selain itu menunjukkan tingkah laku yang senang membicarakan kejelekkan saudaranya, mengadu, dan berbohong.

Faktor-laktor yang mempengaruhi terbentuknya sibling rivalry, antara lain:

  1. Sikap orangtua. Sikap orangtua terhadap anak dipengaruhi sejauh mana anak mendekati keinginan dan harapan orangtua. Sikap orangtua juga dipengaruhi oleh sikap dan perilaku anak terhadap saudaranya yang lain dan terhadap orangtuanya. Bila terdapat rasa persaingan dan permusuhan, sikap orangtua terhadap semua anak kurang menguntungkan dibandingkan bila mereka satu lama lain bergaul cukup baik. Selain itu, sikap orangtua yang tampak menyukai salah satu anak daripada yang lain dapat menimbulkan perasaan bahwa orangtua pilih kasih dan hal itu membuat perasaan benci terhadap saudara kandung. Sikap pilih kasih orangtua terhadap anak dapat menimbulkan rasa iri hati dan permusuhan.
  2. Urutan Kelahiran. Keluarga yang memiliki anak lebih dari satu, tentunya semua anak diberi peran menurut urutan kelahiran dan mereka diharapkan memerankan peran tersebut. Jika anak menyukai peran yang diberikan padanya, sernuanya akan berjalan dengan baik. Tetapi apabila peran yang diberikan bukan peran yang dipilihnya sendiri maka kemungkinan terjadi perselisihan besar sekali. Hal ini dapat menyebabkan memburuknya hubungan orangtua-anak maupun hubungan antar saudara kandung.
  3. Jenis Kelamin. Anak laki-laki dan perempuan memiliki reaksi yang sangat berbeda terhadap saudara kandungnya. Anak perempuan dengan saudara perempuan akan terjadi iri hati yang lebih besar daripada antara anak perempuan dengan saudara kandung laki-laki atau anak laki-laki dengan saudara kandung laki-laki.
  4. Perbedaan Usia. Perbedaan usia saudara kandung mempengaruhi cara seseorang bercaksi antara saudara terhadap yang lain dan cara orangtua memperlakukan anak-anaknya. Bila perbedaan usia antar saudara itu besar, baik berjenis kelamin sama ataupun berlainan, hubungan terjalin akan lebih ramah, dan sating mengasihi daripada jika usia antar saudara kandung berdekatan. Perbedaan usia yang kecil cenderung meningkatkan perselisihan.
  5. Jumlah Saudara. Jumlah saudara kecil cenderung rnenghasilkan hubungan yang lebih banyak perselisihan daripada jumlah saudara yang besar.
  6. Pola Asuh. Hubungan antar saudara kandung tampak jauh lebih rukun dalam keluarga yang menggunakan pola asuh otoriter dibandingkan dengan keluarga yang mengikuti pola asuh permisif.
  7. Pengaruh Orang Luar. Ada tiga faktor yang memberi pengaruh terhadap hubungan antar saudara kandung, yaitu kehadiran prang di luar rumah, tekanan orang luar pada anggota keluarga, dan perbandingan anak dengan saudara kandungnya oleh orang luar.

Pendapat lain menyatakan bahwa ada enam faktor yang mempengaruhi sibling rivalry. Keenam faktor tersebut adalah:

  1. Jenis kelamin anak
  2. Jenis kelamin saudara kandung
  3. Posisi anak
  4. Jarak usia dengan saudara kandung
  5. Jumlah anak dalam keluarga
  6. Perlakuan orangtua

Persaingan dan perselisihan pada anak dapat terjadi karena:

    Faktor eksternal, yaitu sikap orangtua yang salah seperti: sikap membanding-bandingkan satu dengan yang lain, serta adanya favoritisme (menganak emaskan salah satu anaknya)

  1. Faktor internal, yaitu faktor dari diri anak sendiri seperti : temperamen yang pemarah, sikap anak di mana anak yang mencari perhatian dan adanya perbedaan usia/jenis kelamin.

Ada tiga macam situasi utama yang dapat menimbulkan kecemburuan:

  1. Sikap pilih kasih, dapat menimbulkan reaksi pada diri anak bahwa dirinya mulai dilupakan dan hal ini sangat menyakitkan diri. Tanpa disadari beberapa orangtua menunjukkan ketidakseimbangan perhatian. Orangtua lebih mengasihi anak yang berbakat, penurut, dan memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan.
  2. Kecemburuan anak dapat berpengaruh pada situasi sekolah. Kecemburuan yang timbul di rumah string dibawa ke sekolah dan membuat anak menganggap scmua orang, guru, dan teman-temannya mengancam keamanan dirinya. Untuk melindungi keamanannya anak memilih siapa saja yang bisa menjadi temannya dan akan marah jika ternyata teman-temannya itu menyukai teman yang lain.
  3. Situasi ketika anak menginginkan barang mrlik orang lain dan akan membuatnya cemburu. Kecemburuan semacam itu timbul karena adanya rasa iri, yaitu suatu keadaan emosional karena marah dan sikap bermusuhan yang ditunjukan bagi orang lain karena orang tersebut memiliki suatu benda yang tidak dimilikinya.

Pandangan psikoanalisa merujuk pada aktivitas pelepasan tegangan-tegangan yang menjadi penyebab ketidaknyamanan, tegangan-tegangan tersebut bersumber pada proses pertumbuhan fisiologis, frustrasi, konflik, dan ancaman. Bentuk-bentuk dari pelepasan ketegangan tersebut dapat diimplementasikan dalam bentuk agresivitas yaitu dorongan instink-instink sebagai usaha dalam mengatasi kebutuhan-kebutuhan.

Sibling rivalry dalam pandangan behavioristik melihat berdasarkan perilaku yang muncul di mana perilaku tersebut dicirikan sebagai perilaku sibling rivalry. Ada dua sebab dalam menjelaskan terjadinya sibling rivalry dari sudut pandang behavioristik yaitu: (1) Proses reiforcement dari setiap perilaku yang muncul sesuai dengan ciri-ciri perilaku sibling rivalry tersebut. Sebaliknya, ciri-ciri perilaku sibling rivalry akan melemah jika setiap perilaku tersebut diikuti oleh reinforcement negatif. (2) Bentuk-bentuk agresivitas dalam sibling rivalry yang dimunculkan sebagai proses imitasi atau modelling dari agresifitas yang dipelajari.

Brisbane, H. E. 1994. The Developing Child Understanding Children and Parenting. New York: Glencoe Division of MacMillan. Sixth Edition.

Budiardjo, A. 1991. Kamus Psikologi. Semarang: Dahar Prize.

Chaplin, J. P. 2002. Kamus Lengkap Psikologi. Alih Bahasa: Kartini Kartono. Jakarta: PT. Raja Grafindo Perkasa. Edisi kesatu. Cetakan kedelapan.

Fernald, D. 1997. Psychology. New Jersey: Prentice Hall, Inc.

Gallahue, L, Ozmun. C. 2000. Understanding Motor Development: Infants, Children, Addolescent, Adult. McGraw-hill Companies. Sixth edition.

Gunarsa, Y.S.D. dan Gunarsa, S.D. 1991. Psikologi Remaja. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Hurlock, E. B. 1996. Psikologi Perkembangan Anak Jilid I. Alih Bahasa: Meitasari Tjandrasa dan Muslichah Zarkasih. Jakarta: Erlangga. Edisi kelima.

Hurlock, E. B. 1990. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidttpan. Jakarta: Erlangga (Edisi Kelima)

Jersild, A. T. 1995. Child Psychology. New York: Prentice Hall, Inc. Sixth Edition.
Kartono, K. dan Gulo, D. 2000. Kamus Psikologi. Bandung: Pionir Jaya.

Kimberly J. Saudino, Angelica Ronald, Robert Plomin,2005. Etiologi Masalah Perilaku pada Anak Kembar Berusia 7 Tahun: Pengaruh Genetik Dasar dan Pengaruh Pembagian Lingkungan yang diabaikan Berdasarkan Penilaian Orangtua serta Penilaian dari Guru yang sama dan berbeda. Journal of Abnormal Child Psychology.

Mussen, P. H. Conger, J. J., Kagan, J., dan Huston, A. C. 1994. Perkembangan dan Kepribadian Anak. Alih bahasa : F. X. Budiyanto. Jakarta: Erlangga.

Murray. R, 1979. Comparing Theories Of Child Development. Belmont: California Wadsworth Publishing Company, Inc.

Priatna, C dan Yulia, A. 2005. Mengatasi Persaingan Saudara Kandung Pada Anak-Anak. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.

Supratiknya.A. 1993. Teori Psikodinanika. Yogyakarta: Kanisius.

Iklan