Simulasi Implan EpCS pada Frontal Anterior dan Corteks Prefrontal Lateral Untuk Penderita Depresi

9 tahun ago kesimpulan 0

(KeSimpulan) Sebuah prosedur bedah saraf baru bisa membantu untuk mengobati pasien penderita depresi. Peneliti utama, Ziad Nahas MD, dari Medical University of South Carolina, mengatakan bahwa bilateral epidural prefrontal cortical stimulation (EpCS) ditemukan umumnya aman dan memberikan peningkatan yang signifikan gejala depresi dalam sebuah kelompok kecil pasien.

Data yang dilaporkan pada Biological Psychiatry, pengobatan depresi adalah penyakit jiwa yang berulang dan penyebab utama moralitas dini berakibat bunuh diri dan kondisi medis yang terkait. Di AS, lebih dari 3,2 juta pasien yang didiagnosis dengan pengobatan anti depresi. Biasanya, pasien telah mencoba beberapa obat-obatan dan perawatan tanpa keberhasilan atau perbaikan.

EpCS dengan stimulasi listrik ke kutub frontal anterior dan korteks prefrontal lateral. “Kami fokus pada dua daerah ini karena mereka merupakan bagian dari jaringan otak yang lebih besar dalam mengatur suasana hati. Keduanya memainkan peran yang saling melengkapi mengintegrasikan pengalaman emosional dan kognitif, menawarkan kesempatan yang berbeda untuk pengobatan antidepresan,” kata Dr Nahas, associate professor of Psychiatry, Physiology and Neuroscience, dan Direktur Mood Disorders Program di MUSC.

“Cortical stimulation memiliki beberapa keunggulan yang diberikan, menunjukkan keberhasilan dalam pengobatan depresi. Ini adalah reversibel, non-destruktif dan berpotensi lebih aman daripada bentuk-bentuk lain pada otak invasif untuk merangsang stimulasi dalam kontak langsung dengan otak,” kata Dr Nahas. Timnya termasuk ahli bedah saraf MUSC, Istvan Takacs MD dan anestesi MUSC, Scott Reeves MD.

Lima pasien dilakukan implan EpCS dengan kutup atas bagian depan anterior dan lateral korteks prefrontal secara bilateral. Kemudian terhubung ke generator, dua pembedahan kecil ditanam di daerah dada bagian atas pasien. Para peneliti menggunakan perawatan individual parameter untuk setiap pasien agar memaksimalkan secara jangka panjang efek antidepresan. Mereka mengandalkan sebagian pada input dari pasien sendiri yang menandakan perubahan mood positif ketika pertama kali dirangsang.

Secara umum, perangkat mereka dipasang secara berkala dengan memberikan muatan listrik di bawah ambang batas kejang. Perangkat tidak pernah aktif pada malam hari. Hanya pasien yang gagal untuk menanggapi beberapa perawatan antidepresan, termasuk obat-obatan, psikoterapi, stimulasi magnetik transkranial, saraf vagus electroconvulsive stimulation, dilibatkan dalam studi. Diikuti pasien post bedah implan dan dievaluasi secara berkala menggunakan peringkat standar klinis. Setelah tujuh bulan, rata-rata 54,9 persen menunjukkan peningkatan, didasarkan pada Hamilton Rating Scare untuk Depresi dan 60,1 persen didasarkan pada Inventory of Depressive Symptoms Self Report. Tiga dari pasien mencapai remisi. Satu pasien mengalami infeksi kulit kepala yang diperlukan mengeluarkan implan belahan otak kiri.

“Ini hasil awal namun tidak definitif,” kata Dr Nahas. “Sekarang kita memiliki bukti dari konsep, kita harus belajar EpCS bilateral yang lebih besar menyertakan kelompok kontrol plasebo. Semakin banyak fungsi-fungsi canggih pada permukaan otak” kata Takacs. “Kami mencoba mengubah iklim dalam korteks prefrontal sehingga dapat mengerahkan lebih adaptif perintah di daerah otak yang lebih dalam.” Katanya. Studi ini didanai oleh National Alliance of Research in Schizophrenia and Affective Disorders (NARSAD), yayasan penelitian otak dan perilaku (sciencedaily)

Iklan