Stategi Bisnis Bank Dalam Pasar Persaingan Monopolistik

10 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Kembali pada karaktersitik dasar produk perbankan, maka diversifikasi dan diffrensiasi produk serta jasa bank merupakan ciri yang umum. Artinya adalah, bank cenderung memilih untuk melakukan diversifikasi dan diffrensiasi produk dan jasa (ann’s length basis) yang begitu tinggi. Strategi tersebut cenderung mempercepat evolusi perbankan menjadi financial supermarket, dimana sebuah institusi keuangan menyediakan berbagai macam produk dan jasa yang sifatnya spesifik bahkan cenderung tailored made. Praktek diversifikasi dan diffrensiasi tersebut cenderung mengarah kepada peningkatan switching cost yang dibebankan kepada konsumen. Intinya adalah dengan menawarkan variasi produk dan jasa, diharapkan demand menjadi kurang elastis sekaligus meningkatkan biaya bagi konsumen untuk beralih ke bank lain (switching cost).

Report dari International Competition Network tahun 2005 medefinisikan beberapa bentuk switching cost sebagai berikut:

  1. Pengantian kartu kredit (berikut nomor serta expiry date) yang harus dikomunikasikan kepada mitra usaha konsumen.
  2. Konsumen harus menginformasikan kepada bank baru mengenai bentuk dan jadwal pembayaran terkait dengan tagihan-tagihan rutin seperti listrik, air dan telepon.
  3. Mengkomunikasikan account bank yang baru kepada seluruh mitra kerja konsumen.

Dengan menggunakan model Panzar-Rose (PR), hasil kajian KPPU (2004) menemukan indikasi bahwa industri perbankan Indonesia cenderung bersifat persaingan monopolistik. Artinya adalah produk dan jasa bersifat heterogen atau sangat terdiffrensiasi yang nampaknya dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti asset serta modal bank. Artinya adalah, bank dengan modal terbatas dapat diduga memiliki tingkat diffrensiasi yang lebih rendah disbanding bank dengan modal yang lebih besar. Hasil kajian KPPU tersebut juga sejalan dengan beberapa kajian empiris yang telah dilakukan dengan model PR.

Dalam kondisi persaingan monopolistic tersebut, maka masing-masing bank memiliki market power dalam konteks tertentu. Dengan demikian, merjer/akuisisi antara bank yang memiliki produk dan jasa dengan tingkat substitusi sangat dekat, dapat membatasi pilihan konsumen, sehingga to some extend dapat diketagorikan sebagai kebijakan yang akan mengurangi iklim persaingan atau lessening the competition (ICN, 2005).

Masih terkait dengan isu persaingan monopolistis, beberapa bank juga menempuh strategi diversifikasi dengan menjual produk dan jasa seperti jasa konsultansi, investment banking, cash management, bancassurance, multifinance dan berbagai produk dan jasa non bank lainnya. Fenomena multifinance dan bancassurance dapat dijadikan contoh, dimana bank pada umumnya melalukan inetgrasi dengan perusahaan multifinance (misalnya Bank Danamon dengan Adira multifinance, BCA dengan BCA Finance), perusahaan sekuritas (BNI dengan BNI Sekuritas, Bank Mandiri dengan Mandiri Sekuritas) serta perusahaan asuransi melalui produk bancassurance (misalnya Bank Mandiri dengan AXA Insurance yang membentuk usaha patungan AXA Mandiri). Strategi integrasi tersebut (terutama berbentuk bank dengan anak perusahaan atau usaha patungan) kini banyak ditempuh oleh bank di Indonesia. Dengan integrasi tersebut, bank dapat memanfaatkan strategi diversifikasi untuk menambah jumlah nasabah sekaligus mendorong porsi fee based income mereka.

Untuk beberapa bank bermodal kecil, praktek diversifikasi dapat juga dijumpai, walaupun pada tingkat yang masih terbatas. Pada umumnya, untuk bank kecil, praktek integrasi dilakukan bukan melalui fungsi kepemilikan, tapi melalui perjanjian kerjasama dengan partner perusahaan pembiayaan maupun asuransi.

Secara umum, praktek diversifikasi produk dan jasa bank berpotensi untuk merugikan konsumen bila praktek tersebut masuk dalam kategori Tying (jual ikat). Secara definisi, praktek tying terjadi bila bank mansyaratkan pembelian produk dan jasa lain sebagai bagian dari produk dan jasa utama. Selain isu tying, integrasi antara bank dengan perusahaan asuransi, pembiayaan serta sekuritas dapat dikategorikans ebagai integrasi yang cenderung bersifat vertical (berbeda pasar relevan). Hal tersebut berpotensi menimbulkan berbagai praktek vertical restraint (price dan non price) yang bersifat diskriminatif dan eksklusif. Keduanya dapat dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap prinsip persaingan usaha yang sehat. Salah satu cara untuk meminimalkan dampak negative tersebut, adalah dengan menerapkan prinsip disclosure of information serta peningkatan transparansi bank terutama terkait dengan berbagai ketentuan yang dikenakan kepada para konsumennya (ICN, 2005). Dengan demikian, kepentingan konsumen dapat lebih terlindungi.

Terkait dengan kebijakan penetapan harga, secara konseptual, dalam pasar persaingan monopolistic, tidak terdapat insentif untuk melakukan kesepakatan horizontal (antar bank). Namun, untuk produk bank yang homogen seperti kredit dan deposito, potensi terjadinya kesepakatan untuk menetapkan harga tetap signifikan. Sampai saat ini, dengan masih berlakunya program penjaminan dana masyarakat oleh pemerintah (blanket guarantee), maka sulit untuk melakukan estimasi terhadap kesepakatan harga antar bank tersebut. Hal tersebut disebabkan karena terdapat dua instrument yang dijadikan bank sebagai benchmark dalam menetapkan suku bunga, yaitu SBI dan suku bunga penjaminan. Dengan adanya dua indicator yang dijadikan benchmark oleh hampir semua bank, maka otomat s pergerakan suku bunga (baik kredit mapun deposito) menjadi searah seiring dengan pergerakan kedua variable tersebut, sehingga dapat menimbulkan kesan telah terjadi kesepakatan antar bank dalam menetapkan suku bunga. Disamping itu, adanya mekanisme pertukaran informasi antar bank melalui sistem pusat informasi pasar uang (PIPU) yang difasilitasi BI juga berpotensi untuk melanggengkan praktek kesepakatan harga antar bank, yang dapat saja dikategorikan sebagai pelanggaran prinsip persaingan usaha yang sehat terutama dalam bentuk kartel atau price fixing.

Pustaka

Besanko. D. and V. Thakor. (1993). Relationship banking, Deposit Insurance and Bank Portfolio Choice. Capital Market and Financial Intermediation. Cambridge Cambridge University Press.

Berger, A.N. and T.H. Hannan. (1992). The Price Concentration Relationship in Banking. Review of Economics and Statistics 71 (2).

B e J.A and J.M. Groenveldt. (2000). Competition and Concentration in the EU Banking Industry. Kredit und Kapital 33 (1).

Broecker, T. (1990). Credit Worthiness Test and Interbank Competition. Econometrica (58).

Calem, P.S and G.A Carlin. (1991). The Concentration/Conduct Relationship in Bank Deposit Market. Review of Economic and Statistics. 73 (2).

De Bandt, 0 and E. P. Davis. (2000). Competition, Contestability and Market Structure in The European Banking Sectors in the eve of EMU. Journal of Banking and Finance 24(6).

Gilbert, R.A. (1984). Bank Market Structure and Competition:A Survey. Journal of Money Credit and Banking 16 (4).

Goldberg, L.G and A. Rai. (1996). The Structure Performance Relationship for European Banking. Journal of Banking and Finance 20 (4).

Hannan, T.H and J. Liang (1993). Inferring Market Power from Time Series Data. International Journal of Industrial Organization 11 (2).

Hannan, TH. (1991). Foundation of the Structure Conduct Performance Paradigm in Banking. Journal of Money, Credit and Banking 23 (1).

International Competition Network. (2005). Antitrust Enforcement in Regulated Sectors-Banking Industry. Working Group Report.

Komisi Pengawas Persaingan Usaha. (2004). Kajian Industri dan Perdagangan Sektor Perbankan.

Koskela, E. and R. Stenbacka. (2000). Is there a trade off between Bank Competition and Financial Fragillity? Journal of Banking and Finance. (12).

Matutes, C. and X. Vives. (2000). Imperfect Competition, Risk Taking and Regulation in Banking. Europan Economic Review.

Neven, D. and R.H. Roller. (1999). An Aggregate Structural Model of Competition in The Europan Banking Industry. International Journal of Industrial Organization 17 (7).

Punt, L.W and J. Van Rooij. (2001). The Profit Structure Relationshipand Mergers in Europan Banking Industry: An Empirical Assesment. DNB Staff Reports. The Netherlands Bank, Amsterdam.

Riordan, M.H. (1993). Competition and Bank Performance: A Theoritical Perspective. Capital Market and Financial Intermediation. Cambridge University Press. Cambridge.

Schargrodsky, E. and F. Sturzenegger. (2000). Banking Regulation and Competition with Product Diffrentiation. Journal of Development Economics 12 (1).

Shaffer,S. (1989). Competition in The US Banking Industry. Economic Letter 29(4).

Shaffer, S. (1993). A Test of Competition in Canadian Banking. Journal of Money, Credit and Banking. 25(1).

Swank, J. (1995). Oligopoly in Loan and Deposit Market: An Econometric Approach in Netherlands. De Economist 143(3).

Suominen, M. (1994). Measuring Competition In Banking: A Two Product Model. Scandinavian Journal of Economics. 96(1).

Toolsema, L. A. (2004). Monetary Policy and Market Power in Banking. Journal of Economics.

Iklan