Studi Kasus Perbandingan Kredit Karbon dan Kebun Sawit di Kalimantan

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Keuntungan yang didapat dari menjual kredit jutaan ton karbon dari 3,3 juta hektare hutan hujan tropis Kalimantan tidak kalah menarik dibandingkan dengan mengkonversi hutan itu menjadi perkebunan kelapa sawit. Menjual kredit karbon bahkan memiliki keuntungan lain, yakni membuat utuh kekayaan hayati hutan dan 2,1 miliar ton karbon tidak akan terlepas ke atmosfer.

Keuntungan-keuntungan tersebut diperoleh dari studi yang dipimpin oleh Oscar Venter dari University of Queensland, Australia. Pada studi yang dilakukan menunjukkan bahwa hutan hujan tropis Kalimantan adalah kawasan yang sangat baik simpanan karbonnya, dan karena itu paling pantas mendapatkan proteksi REDD, selain itu ternyata juga menjadi rumah bagi mamalia paling terancam seperti orangutan dan gajah kerdil hingga dua kali lipat angka populasi rata-ratanya.

REDD adalah kependekan dari Reduced Emissions from Deforestation and Forest Degradation. Sebuah skema yang dirancang PBB lewat Konferensi Perubahan Iklim Dunia (UNFCCC) untuk menyelamatkan hutan tropis sebagai gudang karbon dengan cara
memberinya nilai uang. Jika skema ini berhasil, akan mengubah secara fundamental nasib konservasi di negara-negara pemilik hutan (tropis) dan menyediakan keuntungan dalam skala sangat besar yang belum pernah terlihat bagi mamalia.

Hasil studi yang juga melibatkan para peneliti dari Center for International Forestry Research (CIFOR), The Nature Conservancy, dan Great Ape Trust of Iowa itu menyatakan bahwa program REDD bisa berkompetisi dengan perkebunan kelapa sawit. Program REED bisa memberi kredit senilai US$10 sampai US$33 per ton karbon sebagai imbalannya. Cara tersebut akan lebih mudah mendorong ekspansi perkebunan sawit ke area-area yang tidak memiliki hutan atau hutan yang sudah terdegradasi. Kandungan karbon dan hayati di area-area seperti itu sudah jauh berkurang.

Selama ini negara-negara berkembang seperti Indonesia menggunakan berbagai cara untuk mengembangkan lahan sebagai upaya pembangunan ekonomi, termasuk membuka hutannya untuk pertanian kelapa sawit. Hal ini masuk akal karena hutan sebelumnya dipandang tidak memiliki nilai, negara-negara berkembang tidak bisa mengekspor orangutan dan gajah-gajah karena memang tidak ada pasarnya. Namun jika pasar karbon itu ada dan nilai transaksinya pada 2008 senilai US$126 miliar.

Venter dan kawan-kawannya memberi judul hasil studinya tersebut dengan “Carbon Payments as a Safeguard for Threatened Tropical Mammals” dan telah dimuat dalam jurnal Conservation Letters yang terbit tepat di Hari Lingkungan pada 5 Juni 2009. Hasil studi juga diharapkan bisa menjadi masukan untuk agenda UNFCCC pada Desember 2009 di Kopenhagen, Denmark (Sumber: Koran Tempo, ”Kredit Karbon Versus Kebun Sawit: Kasus Kalimantan”, Selasa 16 Juni 2009).

Iklan