Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.384/Menhut-II/2009 Tentang Pemberian Izin Tangkap 10 Komodo Harus Dibatalkan

9 tahun ago kesimpulan 0

+ SK Menteri Kehutanan Nomor SK.384/Menhut-II/2009 guna pemurnian genetik
+ SK justru melanggar etika dan sopan santun lingkungan
+ SK Menteri menyalahi undang-undang
+ Melestarikan komodo dan pemurnian genetik justru di habitat aslinya
+ Populasi komodo di Wae Wuul tinggal 12 ekor
+ Pemulihan spesies komodo, bisa mengambil komodo di Kebun Raya
+ Salah satu ancaman datang pula dari rencana pertambangan emas

(kesimpulan) Rencana pemindahan sepuluh komodo keluar dari habitat aslinya dinilai akan mempercepat kepunahan hewan endemik Nusa Tenggara Timur itu. Untuk pemurnian spesies, disarankan mengambil komodo yang lahir di luar habitat aslinya, di beberapa kebun binatang.

Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.384/Menhut-II/2009 tanggal 13 Mei 2009 tentang pemberian izin menangkap sepuluh ekor komodo yang dilindungi undang-undang di wilayah kerja Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam NTT guna kepentingan pemurnian genetik. Untuk pelaksanaan surat keputusan tersebut, akan dipindahkan sepuluh ekor komodo, yaitu 5 jantan dan 5 betina.

Pemerhati lingkungan di Manggarai, Rofino Kant, menyatakan, rencana ini justru akan mempercepat kepunahan satwa langka tersebut. Keputusan Menteri Kehutanan ini justru melanggar etika dan sopan santun lingkungan. Kalau tujuannya hendak melestarikan komodo, tentu komodo tersebut harus hidup di alam aslinya. Pemurnian genetik itu justru tepat dilangsungkan di habitat aslinya.

Berdasarkan hasil penelitian populasi komodo yang selesai dilakukan pada Juni 2009 oleh lembaga swadaya masyarakat internasional, Komodo Survival Program, populasi komodo di Wae Wuul tinggal 12 ekor sehingga jika akan dipindahkan 10 ekor, hanya akan tersisa dua ekor komodo. Data tersebut berbeda dengan penelitian terbaru Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam NTT, yang menyebutkan sebanyak 17 ekor komodo.

Berdasarkan penelitian oleh Claudio Ciofio dari Kebun Binatang San Diego, Amerika Serikat, bahwa populasi komodo di Pulau Flores berada di Wae Wuul, Wae Teber, Watu Pajung, dan Pota di Kecamatan Sambirampas, Kabupaten Manggarai Timur. DNA komodo Wae Wuul dengan Watu Pajung sama dengan yang di Pulau Rinca. Kalau memang akan melakukan pemurnian genetik, komodo di Wae Wuul lebih baik dipindah ke Pulau Rinca.

Jika pemerintah bermaksud melakukan pemulihan spesies komodo, harus dilakukan dengan mengambil komodo di Kebun Raya Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta, atau Kebun Binatang Surabaya, Jawa Timur karena populasi komodo di sana berkembang dengan baik.

Bupati juga diharapkan tidak ceroboh sebab komodo merupakan aset satwa langka yang dilindungi. Masyarakat Flores harus berjuang agar SK itu dibatalkan. Sebab, SK itu justru akan menghancurkan keanekaragaman hayati Flores dengan binatang purbanya. Namun, Direktur Taman Safari Indonesia Tonny Sumampau menegaskan, bahwa semua itu untuk kepentingan konservasi, bukan kepentingan lain. Taman Safari berpengalaman mengembang-biakkan sejumlah satwa langka, seperti harimau sumatera, jalak bali, dan gajah sumatera. Sejumlah lembaga konservasi eksitu (luar habitat alami) yang telah mengoleksi komodo di antaranya adalah Kebun Binatang Ragunan Jakarta, Kebun Binatang Surabaya, dan Kebun Binatang Gembira Loka Yogyakarta.
Bupati Manggarai Barat, Wilfridus Fidelis Pranda, mengatakan jika akan dipindah, sebaiknya jangan ke Bali karena habitat di sana sangat berbeda dengan habitat aslinya di Pulau Rinca dan Pulau Komodo. Pemurnian genetik itu tidak gampang, begitu pula memindahkan hewan komodo. Suara keberatan akan rencana ini juga datang dari Wakil Gubernur NTT Esthon Foenay.

Kepala Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Nuramaliati Prijono mengatakan, LIPI yang bertindak selaku pemberi pertimbangan keilmuan meluluskan rencana konservasi itu dengan beberapa alasan. Keterancaman habitat di alam, kepentingan edukasi, dan back-up informasi genetik murni sebelum benar-benar punah. Selain itu, tidak untuk dijual atau ditukar dengan satwa dari luar negeri.

Tonny dari Taman Safari Indonesia, menegaskan bahwa komodo yang dikembangbiakkan di Taman Safari Indonesia tidak ditujukan untuk dijual atau ditukarkan dengan satwa dari luar negeri. Seperti dikabarkan, sejumlah pihak berkeberatan atas rencana penangkapan komodo di kawasan konservasi alam Wae Wuul, NTT, karena akan mengurangi keunikan komodo.

Menteri Kehutanan MS Kaban menyampaikan rencana tersebut dalam kunjungannya di Taman Nasional Komodo di Pulau Rinca dan Pulau Komodo, Kabupatan Manggarai Barat, NTT, pada Juli 2009. Kawasan itu kini sedang dalam proses seleksi tujuh keajaiban dunia, dengan satwa endemik tersebut, dijuluki “The Real Dragon”. Satu ancaman besar pencalonan tersebut datang pula dari rencana pertambangan emas. (Kompas, Putusan Menteri Keliru, Kamis 23 Juli 2009)


Iklan