Survei Pemilu Presiden dan Wakil Presiden

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Tiga lembaga survei Pemilu Presiden mengumumkan hasil penelitian yang berbeda, setelah Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Lembaga Riset Informasi (LRI), Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) pada 8 Juni 2009 memaparkan hasil survei melalui telepon mengenai preferensi politik masyarakat menjelang pemilihan.

Kepala Divisi Penelitian LP3ES Fajar Nursahid mengakui bahwa survei melalui telepon memiliki kelemahan, yaitu bias kota, kelas ekonomi, dan tingkat pendidikan responden. Rata-rata pemilik telepon berasal dari kelas menengah ke atas. LP3ES telah mensurvei memakai telepon rumah tangga mengenai preferensi politik masyarakat di 15 kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Surabaya, Malang, Semarang, Bandung, Cirebon, Yogyakarta, Medan, Padang, Palembang, Makassar, Manado, Balikpapan, Banjarmasin, dan Denpasar.

Pengumpulan data dilakukan pada 3-4 Juni dengan 1.994 responden secara acak sistematis dari buku telepon yang diterbitkan PT Telkom. Ambang kesalahan (margin of error) diperkirakan kurang lebih 2 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Dari survei itu, pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono meraih 54,9 persen dukungan responden. Pasangan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto meraih 9,7 persen. Sedangkan pasangan Jusuf Kalla-Wiranto hanya memperoleh 6,8 persen. Namun, ini masih bisa berubah karena angka swing voter masih sekitar 27 persen.

Sebelumnya, Lembaga Survei Indonesia (LSI) merilis bahwa pemilihan presiden berlangsung satu putaran. Yudhoyono-Boediono meraih dukungan 70 persen responden. Lembaga Survei mengakui penelitiannya atas permintaan kubu Yudhoyono-Boediono.

Adapun Direktur Lembaga Riset Indonesia Johan O. Silalahi, yang menjadi konsultan Jusuf Kalla-Wiranto, menulis hasil penelitiannya bahwa pemilihan presiden berlangsung dua putaran. Johan menyatakan surveinya dibiayai oleh donatur.

Pengamat politik Universitas Paramadina, Bima Arya Sugiarto, mempertanyakan hasil survei Lembaga Riset Informasi karena dikhawatirkan tak memenuhi empat faktor pendukung, yakni sumber dana, kesesuaian pengambilan sampel dengan data Badan Pusat Statistik, kualitas metodologi, dan rekam jejak lembaga pembuat survei. Ketua Departemen Statistika IPB Hari Wijayanto mengatakan independensi lembaga survei merupakan ukuran penting dalam menilai hasil survei. Lembaga pelaksana independen dan memiliki track record baik biasanya memberikan hasil obyektif dan tingkat kebenaran tinggi (Sumber: Koran Tempo, Selasa 9 Juni 2009).

Lembaga Survei Indonesia (LSI)
Pelaksanaan: 25-30 Mei 2009
Responden: 2.999
Margin of error: 1,8%

  1. Yudhoyono-Boediono 70%
  2. Megawati-Prabowo 18%
  3. Kalla-Wiranto 7%

Kelemahan:

  1. LSI merupakan konsultan Yudhoyono-Boediono
  2. Metode random dinilai tidak representatif

Lembaga Riset Informasi (LRI)
Pelaksanaan: 2-5 Juni 2009
Responden: 2.096 di 33 provinsi
Margin of error: 2,2%

  1. Yudhoyono-Boediono 33,02%
  2. Megawati-Prabowo 29,29%
  3. Kalla-Wiranto 20,09%
  4. Belum Memilih 17,56%

Kelemahan:

  1. Direktur LRI sekaligus konsultan Kalla-Wiranto
  2. Kuesiner terstruktur memungkinkan menggiring responden
  3. Sampling tidak mereprentasikan populasi

LP3ES
Pelaksanaan: 3-4 Juni 2009
Responden: 1.994
Pengambilan data: Lewat Telepon
Margin of error: 2%

  1. Yudhoyono-Boediono 54,9%
  2. Megawati-Prabowo 9,7%
  3. Kalla-Wiranto 6,8%
  4. Belum Memilih 27%

Kelemahan:

  1. Metodologi menggunakan telepon banyak memiliki bias
  2. Sampling tidak mereprentasikan populasi
Iklan