Tahapan penurunan fungsi kognitif

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Menua merupakan proses fisiologik, proses alami. Dipandang dari sudut fungsi kognitif maka kemunduran akibat proses menua bisa jadi akan terjadi, seperti kemunduran organ tubuh lainnya. Berbagai laporan studi yang dilakukan pada usia lanjut dengan menilai kemampuan psikometrik tiap tahun, menunjukkan bahwa kemampuan kognitif umum tidak menurun, setidak-tidaknya sampai umur 90 tahun. Maka sesungguhnya penuaan bisa dianggap sebagai succesful aging.

Terdapat tiga tahapan penurunan fungsi kognitif pada usia lanjut, mulai dari yang masih dianggap normal sampai patologik dan pola ini berujud sebagai spektrum mulai dari yang sangat ringan sampai berat (demensia), yaitu:

Mudah Lupa (Forgetfulness)

Mudah lupa masih dianggap normal dan gangguan ini sering dialami subyek usia lanjut. Frekuensinya meningkat sesuai peningkatan umur. Lebih kurang 39% pada umur 50-60 tahun dan angka ini menjadi 85% pada umur di atas 80 tahun. Istilah yang sering digunakan dalam kelompok ini adalah Benign Senescent Forgetfulness (BSF) atau Age Associated Memory Impairment (AAMI). Ciri-ciri kognitifnya adalah proses berfikir melambat; kurang menggunakan strategi memori yang tepat; kesulitan memusatkan perhatian; mudah beralih pada hal yang kurang perlu; memerlukan waktu yang lebih lama untuk belajar sesuatu yang baru; memerlukan lebih banyak petunjuk/isyarat (cue) untuk mengingat kembali.

Kriteria mudah lupa adalah:

  1. mudah lupa nama benda, nama orang
  2. memanggil kembali memori (recall) terganggu
  3. mengingat kembali memori (retrieval) terganggu
  4. bila diberi petunjuk (cue) bisa mengenal kembali
  5. lebih sering menjabarkan fungsi atau bentuk daripada menyebutkan namanya

Mild Cognitive Impairment (MCI)

Mild Cognitive Impairment merupakan gejala perantara antara gangguan memori atau kognitif terkait usia (Age Associated Memori Impairment/AAMI) dan demensia. Sebagian besar pasien dengan MCI menyadari akan adanya defisit memori. Keluhan pada umumnya berupa frustasi, lambat dalam menemukan benda atau mengingat nama orang, atau kurang mampu melaksanakan aktivitas sehari-hari yang kompleks, sehingga mempengaruhi kualitas hidupnya. Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari separuh (50-80%) orang yang mengalami MCI akan menderita demensia dalam waktu 5-7 tahun mendatang. Ituiah sebabnya diperlukan penanganan dini untuk mencegah menurunnya fungsi kognitif.

Dari rangkuman berbagai hasil penelitian di berbagai negara prevalensi MCI berkisar antara 6,5-30% pada golongan usia di atas 60 tahun. Kriteria diagnostik MCI adalah adanya gangguan daya ingat (memori) yang tidak sesuai dengan usianya namun belum demensia. Fungsi kognitif secara umum relatif normal, demikian juga aktivitas hidup sehari-hari. Bila dibandingkan dengan orang-orang yang usianya sebaya serta orang-orang dengan pendidikan yang setara, maka terdapat gangguan yang jelas pada proses belajar (learning) dan delayed recall. Bila diukur dengan Clinical Dementia Rating (CDR), diperoleh hasil 0,5.

Kriteria yang lebih jelas bagi MCI adalah:

  1. gangguan memori yang dikeluhkan oleh pasiennya sendiri, keluarganya maupun dokter yang memeriksanya.
  2. aktivitas sehari-hari masih normal
  3. fungsi kognitif secara keseluruhan (global) normal
  4. gangguan memori obyektif, atau gangguan pada salah satu wilayah kognitif, yang dibuktikan dengan skor yang jatuh di bawah 1,5-2,0 SD dari rata-rata kelompok umur yang sesuai dengan pasien
  5. nilai CDR 0,5
  6. tidak ada tanda demensia

Bilamana dalam praktek ditemukan seorang pasien yang mengalami gangguan memori berupa gangguan memori tunda (delayed recall) atau mengalami kesulitan mengingat kembali sebuah informasi walaupun telah diberikan bantuan isyarat (cue) padahal fungsi kognitif secara umum masih normal, maka perlu dipikirkan diagnosis MCI. Pada umumnya pasien MCI mengalami kemunduran dalam memori baru. Namun diagnosis MCI tidak boleh diterapkan pada individu-individu yang mempunyai gangguan psikiatrik, kesadaran yang berkabut atau minum obat-obatan yang mempengaruhi sistem saraf pusat.

Demensia

Definisi menurut ICD-10, DSM IV, NINCDS-ARDA, demensia adalah suatu sindroma penurunan kemampuan intelektual progresif yang menyebabkan deteriorasi kognitif dan fungsional, sehingga mengakibatkan gangguan fungsi sosial, pekerjaan dan aktivitas sehari-hari.

Dalam pemahaman juga mundur seperti hilangnya kemampuan untuk memahami pembicaraan yang cepat, percakapan yang kompleks atau abstrak, humor yang sarkastis atau sindiran. Dalam kemampuan bahasa dan bicara terjadi kemunduran pula yaitu kehilangan ide apa yang sedang dibicarakan, kehilangan kemampuan pemrosesan bahasa secara cepat, kehilangan kemampuan penamaan (naming) dengan cepat. Dalam bidang komunikasi sosial akan terjadi kehilangan kemampuan untuk tetap berbicara dalam topik, mudah tersinggung, marah, pembicaraan bisa menjadi kasar dan terkesan tidak sopan.

Demensia vaskuler adalah demensia yang disebabkan oleh infark pada pembuluh darah kecil dan besar, misalnya multi-infarct dementia. Konsep terbaru menyatakan bahwa demensia vaskuler juga sangat erat berhubungan dengan berbagai mekanisme vaskuler dan perubahan-perubahan dalam otak, berbagai faktor pada individu dan manifestasi klinis.

Berlainan dengan demensia Alzheimer, dimana setelah terdiagnosa penyakit akan berjalan terus secara progresif sehingga dalam beberapa tahun (7-10 tahun) pasien biasanya sudah mencapai taraf terminal dan meninggal, demensia vaskuler mempunyai perjalanan yang fluktuatif, pasien bisa mengalami masa dimana gejala relatif stabil, sampai terkena serangan perburukan vaskuler yang berikut. Karena itu pada demensia vaskuler relatif masih ada kesempatan untuk mengadakan intervensi yang bermakna, misalnya mengobati faktor risiko.

Kriteria untuk demensia adalah:

  1. kemunduran memori dengan ciri: a) kehilangan orientasi waktu. b) sekedar kehilangan memori jangka panjang dan pendek (tidak selalu tampak jelas pada konversasi). c) kehilangan informasi yang diperoleh. d) tidak dapat mengingat daftar lima item atau nomor telpon
  2. kemunduran pemahaman
  3. kemunduran kemampuan bicara dan bahasa
  4. kemunduran komunikasi social

PUSTAKA

Kusumoputro S. Gangguan fungsi luhur pada pasien post stroke. Malam klinik Ikatan alumni Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti. Jakarta 13 Agustus 1989: 6-14.

Strub RL, Black FW. Neurobehaviour disorders: A Clinical Approach. Philadelphia: F A Davis Company. 1981: 10-41, 311-446.

Lezak MD. Neuropsychological Assesment. 3 rd ed. New York: Oxford University Press. 1995: 17-40.

Kusumoputro S, Gangguan fungsi luhur pada cedera kranioserebral. Neurona. 1999; 16 : 12 – 15.

Iklan