Teh Camellia Sinensis Assamica sebagai Antioksida

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Transisi nutrisi yang terjadi saat ini, dari makanan yang banyak mengandung serat ke makanan yang banyak mengandung lemak menyebabkan transisi epidemiologi, dari penyakit infeksi dan kurang gizi menjadi penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, kanker. Transisi nutrisi juga dihubungkan dengan prevalensi obesitas, terutama obesitas kanak-kanak serta non-insulin dependent diabetes mellitus. Obesitas juga berkaitan dengan angka kematian yang tinggi akibat penyakit jantung koroner dan stroke.

Teh merupakan bahan minuman yang secara universal dikonsumsi di banyak negara serta di berbagai lapisan masyarakat. Teh hitam diproduksi oleh lebih dari 75% negara di dunia, sedangkan teh hijau di produksi kurang lebih di 22% negara di dunia.3 Selain itu di negara-negara Barat, lebih dari setengah asupan flavonoid berasal dari teh hitam.

KLASIFIKASI

Di zaman dahulu, genus Camellia dibedakan menjadi beberapa spesies teh yaitu sinensis, assamica, irrawadiensis. Sejak tahun 1958 semua teh dikenal sebagai suatu spesies tunggal Camellia sinensis dengan beberapa varietas khusus, yaitu sinensis, assamica dan irrawadiensis. Teh Camellia sinensis O.K.Var.assamica (Mast) diklasifikasikan:

  1. Divisi : Spermatophyta (tumbuhan biji)
  2. Sub divisi : Angiospermae (tumbuhan biji terbuka)
  3. Kelas : Dicotyledoneae (tumbuhan biji belah)
  4. Sub Kelas : Dialypetalae
  5. Ordo (bangsa) : Guttiferales (Clusiales)
  6. Familia (suku) : Camelliaceae (Theaceae)
  7. Genus (marga) : Camellia
  8. Spesies (jenis) : Camellia sinensis
  9. Varietas : Assamica

MACAM-MACAM TEH

Teh Hijau

Teh hijau diperoleh tanpa proses fermentasi; daun teh diperlakukan dengan panas sehingga terjadi inaktivasi enzim. Pemanasan ini dilakukan dengan dua cara yaitu dengan udara kering dan pemanasan basah dengan uap panas (steam). Pada pemanasan dengan suhu 85°C selama 3 menit, aktivitas enzim polifenol oksidase tinggal 5,49%. Pemanggangan (pan firing) secara tradisional dilakukan pada suhu 100-200 °C sedangkan pemanggangan dengan mesin suhunya sekitar 220-300°C. Pemanggangan daun teh akan memberikan aroma dan flavor yang lebih kuat dibandingkan dengan pemberian uap panas. Keuntungan dengan cara pemberian uap panas, adalah warna teh dan seduhannya akan lebih hijau terang.

Teh Hitam

Teh hitam diperoleh melalui proses fermentasi. Dalam hal ini fermentasi tidak menggunakan mikrobia sebagai sumber yang terdapat di dalam daun teh itu sendiri. Pada proses ini, katekin (flavanol) mengalami oksidasi dan akan menghasilkan thearubigin. Caranya adalah sebagai berikut : daun teh segar dilayukan terlebih dahulu pada palung pelayu, kemudian digiling sehingga sel-sel daun rusak. Selanjutnya dilakukan fermentasi pada suhu sekitar 22-28°C dengan kelembaban sekitar 90%. Lamanya fermentasi sangat menentukan kualitas hasil akhir; biasanya dilakukan selama 2-4 jam. Apabila proses fermentasi telah selesai, dilakukan pengeringan sampai kadar air teh kering mencapai 4-6%.

Teh Semi Fermentasi

Teh oolong diproses secara semi fermentasi dan dibuat dengan bahan baku khusus, yaitu varietas tertentu yang memberikan aroma khusus. Daun teh dilayukan lebih dahulu, kemudian dipanaskan pada suhu 160-240°C selama 3-7 menit untuk inaktivasi enzim, selanjutnya digulung dan dikeringkan.

KOMPONEN TEH

Komponen dari dua macam teh yang paling banyak digunakan (teh hijau dan teh hitam). Komposisi teh hijau (kandungan dan berat) adalah sebagai berikut: Kafein 7,43%, (−) Epicatechin 1,98%, (−) Epicatechin gallat 5,20%, (−) Epigallocatechin 8,42%, (−) Epigallocatechin gallat 20,29%, Flavonol 2,23%, Theanin 4,70%, Asam glutamat 0,50%, Asam aspartat 0.50%, Arginin 0,74%, Asam amino lain 0,74%, Gula 6,68%, Bhn yg dpt mengendapkan alkohol 12,13%, Kalium (potassium) 3,96%.

Komposis the hitam (kandungan dan berat): Kafein 7,56%, Theobromin 0,69%, Theofilin 0,25%, (−) Epicatechin 1,21%, (−) Epicatechin gallat 3,86%, (−) Epigallocatechin 1,09%, (−) Epigallocatechin gallat 4,63%, Glikosida flavonol, Bisflavanol, Asam Theaflavat, Theaflavin 2,62%, Thearubigen 35,90%, Asam gallat 1,15%, Asam klorogenat 0,21%, Gula 6,85%, Pektin 0,16%, Polisakarida 4,17%, Asam oksalat 1,50%, Asam malonat 0,02%, Asam suksinat 0,09%, Asam malat 0,31%, Asam akonitat 0,01%, Asam sitrat 0,84%, Lipid 4,79%, Kalium (potassium) 4,83%, Mineral lain 4.70%, Peptida 5.99%, Theanin 3,57%, Asam amino lain 3,03%, Aroma 0,01%

KHASIAT TEH

Salah satu zat antioksidan non nutrien yang terkandung dalam teh, yaitu catechin (katekin) dapat menyimpan atau meningkatkan asam askorbat pada beberapa proses meta-bolisme. Studi epidemiologi menunjukkan bahwa konsumsi teh hijau berbanding terbalik dengan kadar serum kolesterol total (TC) dan low density lipoprotein (LDL-C), tetapi tidak terhadap trigliserida (TG) dan high density lipoprotein (HDL-C).

Teh efektif mencegah virus influensa A dan B selama masa kontak yang pendek. Selain itu diet fluorin yang terkandung dalam daun teh (Camellia sinensis) dapat berfungsi kariostatik.

Senyawa polifenol antioksidan (seperti katekin dan flavonol) yang terkandung dalam teh mempunyai sifat antikarsinogenik pada hewan dan manusia, termasuk pada wanita post menopause. Diperkirakan, flavonoid sebagai antioksidan dan radikal peroksil. Selain itu pada wanita post menopause, flavonoid dapat bersifat estrogenik yang menghambat oksidasi LDL, melindungi endotel dari berbagai luka yang disebabkan oleh radikal bebas serta mencegah aterosklerosis yang dapat menyumbat lumen arteri.

Sari seduhan teh hijau 10x dosis manusia (0,54g/200g.bb/hari) menghasilkan efek penurunan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, trigliserida dan berat badan. Selain itu sari seduhan teh hijau 25x dosis manusia (1,35g/200g.bb/hari) menunjukkan efek hipoglikemik. Teh juga mencegah luka skorbut dan mengurangi plak aterosklerosis pada hewan yang diberi diet aterogenik.

Selain itu kemampuannya menghambat perkembangan leukemia setelah terpapar radiasi; menghambat mutagen yang disebabkan oleh pembentukan nitrosamin dari metilurea. Teh juga telah diuji teratogenik, hasilnya tidak ditemukan baik teratogen maupun embriotoksik. Pada keadaan yang tidak normal seperti pasien talasemia, teh juga digunakan untuk mengurangi penyerapan besi non-heme dan menghambat hemokromatosis.

Pustaka

Drewnowski A, Popkin BM. The Nutrition Transition : New Trends in the Global Diet. Nutr Rev. 1997; 55(2) : 31-43.

Weststrate JA, Van Het Hof KH, Van den Berg H, et al. A comparison of effect of free access to reduce fat products or their full fat equivalents on food intake, body weight, blood lipids and fat-soluble antioxidant levels and haemostasis variables. Eur J Clin Nutr. 1998; 52 : 389-95.

Graham HN. Tea : The Plant and Its Manufacture : Chemistry and Consumption of the Beverage. In Liss AR. The Methylxanthine Beverages and Foods : Chemistry, Consumption, and Health Effects. Prog Clin Biol Rev. 1984 : 29-74.

Maxwell S, Thorpe G. Tea flavonoids have little short term impact on serum antioxidant activity. BMJ (27 July) [Medline] 1996; 313 : 229.

Van Steenis CGGJ. Flora untuk Sekolah di Indonesia (terjemahan) PT. Pradnya Paramita. Jakarta. cet ke-4. 1987 ; 1-495.

Tjitrosoepomo G. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). UGM Press. Yogyakarta. cet ke-2. 1989 ; 1-477.

Astuti M. Potensi Antioksidan pada Teh. Kumpulan makalah : Radikal Bebas dan Antioksidan dalam Kesehatan : Dasar, Aplikasi dan Pemanfaatan Bahan Alam. Bag. Biokimia FKUI. Jakarta. 2001 : 1-15.

Langseth L. Oxidants, Antioxidants, and Disease Prevention. ILSI European Monograph Series. Brussel: 1995 ; 1-24.

Kono S, Shinchi K, Ikeda N, Yanai F, Imanishi K. Green Tea Consumption and Serum Lipid Profiles : A Cross Sectional Study in Northern Kyushu, Japan. Preventive Medicine 1992; 21 : 526-31.

Kono S, Shinchi K, Wakabayashi K, et al. Relation of Green Tea Consumption to Serum Lipids and Lipoprotein in Japanesse Men. J Epidemiol. 1996; 6 (3) : 128-33.

Nakayama M, Toda M, Okubo S, Shimamura T. Inhibition of Influenza Virus Infection by Tea. Letters in Applied Microbiology. 1990; 11 : 38-40.

Gershon-Cohen J, McClendon JF. Fluorine in Tea and Caries in Rats. Nature 1954; 173 : 304-312.

Zhi YW, Mou TH, Ferraro T, et al. Inhibitory Effect of Green Tea in the Drinking Water on Tumorigenesis by Ultraviolet Light ang 12-O-Tetradecanoylphorbol-13-Acetate in the Skin os SKH-1 Mice. Cancer Research 1992; 52 : 1162-70.

Imai K, Suga K, Nakachi K. Cancer Prevention Effects of Drinking Green Tea among a Japanesse Population. Preventive Medicine. 1997; 26 (6) : 769-75.

Goldbohm RA, Hertog MG, Brants HA, Van-Popel-G, Van-den Brandt –PA. Consumption of Black Tea and Cancer Risk : A Prospective Cohort Study. J Nat’l Cancer Inst. 1996; 88 (2) : 93-100.

Zheng W, Doyle TJ, Kushi LH, Sellers TA, Hong CP, Folsom AR. Tea Consumption and Cancer Incidence in a Prospective Cohort Study of Postmenopausal Women. Am J Epidemiol. 1996; 144 (2) : 175-82.

Blot WJ, McLaughin JK, Chow WH. Cancer Rates among Drinkers of Black Tea. Crit Rev Food Sci Nutr. 1997; 37 (8) : 739-60.

Yang CS, Lee MJ, Chen L, Yang GY. Polyphenols as Inhibitors of Carcinogenesis. Environ Health Perspect. 1997 : 105 suppl 4 : 971-76.

Tuminah S. Radikal Bebas dan Antioksidan – Kaitannya dengan Nutrisi dan Penyakit Kronis. Cermin Dunia Kedokt. 2000; 128: 49-51.

Baraas F, Jufri M. Antologi Rehal Kolesterol dan Aterosklerosis. Prima Kardia Pers. Jakarta. cet ke-1. 1997 : 82-3.

Baraas F, Jufri M. Antioksidan dan Penyakit Jantung. Prima Kardia Pers. Jakarta. cet ke-1. 1999 : 11-2.

Dirghantara E. Efek sari seduhan daun teh hijau (Camellia sinensis (L) O. Kuntze) terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus putih yang diberi diet kuning telur dan sukrosa [abstrak]. FMIPA UI. Jakarta. 1994.

Sutarmaji A. Pengaruh sari seduhan teh hijau terhadap kadar glukosa darah tikus normal yang diberi diet glukosa [abstrak]. FMIPA UI. Jakarta. 1994.

Nair MK. Iron absorption and its implications in the control of iron deficiency anemia. Nutrition News. National Institute of Nutrition. Hyderabad. 1999; 20 (2) : 1-6.

Iklan