Teroris Gunakan Teknik Mesmerism atau Waking Hypnosis Untuk Rekrut Pengebom Bunuh Diri

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Batal jadi calon “pengantin” (pelaku bom bunuh diri) kadang bisa memicu gangguan jiwa. Kepala Departemen Psikiatri Fakultas Kesehatan Masyarakat UI Dr AAA Agung Kusumawardhani SpKJ (K) dan hipnoterapis Mardigu Wowiek Prasantyo pernah menangani mereka. Usianya sekitar 22 tahun, pria mahasiswa jurusan ilmu komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Dibawa orang tuanya ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sekitar tahun 2008. Dr Agung mengatakan calon pembom bunuh diri tersebut masuk ke RSCM satu hari setelah Lebaran tahun 2008.

Sampai kini, pemuda itu masih menjalani rawat jalan. Ketika pertama datang ke RSCM, dia mengalami kebimbangan berat. Kondisinya sangat kacau. Sering bicara tidak jelas, bahkan tidak mengenali dua orang tuanya. Berdasar pengakuan orang tua pasien itu, bahwa anaknya pernah dipengaruhi orang-orang radikal yang membenarkan tindakan Noordin M. Top menebar teror. Hanya, dia tidak pernah mau mengungkapkan penyebab dirinya bimbang itu. Dia hanya bilang bertemu orang jahat.

Pria yang namanya dirahasiakan itu menjalani rawat inap dua bulan di RSCM. Enam bulan setelah perawatan, kondisinya membaik. Dia juga kembali kuliah sambil rawat jalan. Kejiwaannya sudah tidak bimbang dan kacau lagi. Kekacauan jiwa tersebut, disebabkan doktrin dari teroris. Doktrin tersebut memengaruhinya sehingga konsep pikirannya berubah. Dalam psikologi, istilahnya bukan brainwashing (pencucian otak atau indoktrinasi), tapi re-edukasi atau talk reform. Ditanamkan pembentukan konsep berpikir baru.

Ada beberapa teknik untuk mereedukasi otak, yaitu:

  1. Cognitive Behaviour Therapy (CBT). Dalam teknik ini, harus ada kontak terapi antara pasien dan psikiater. Untuk melakukan teknik tersebut, kondisi pasien harus benar-benar sadar.
  2. Teknik khusus hipnoterapi. Pasien dibawa ke suasana rileks. Istilah psikologinya alfa state of mind. Kemudian dimasukkan konsep-konsep positif yang sudah disetujui bersama.
  3. Mesmerism. Sejenis hipnotis yang dapat memengaruhi seseorang dengan lebih cepat. Bukan hipnoterapi. Korban sering diajak zikir dan pengajian secara berulang-ulang sehingga kondisi otaknya menjadi alfa state. Baru kemudian dimasukkan mimpi-mimpi jihad dan surga.

Noordin tidak menggunakan dua teknik itu dalam merekrut calon pengebom bunuh diri. Dia menggunakan teknik lain. Sebab, butuh berbulan-bulan jika menggunakan teknik CBT dan hipnoterapi. Teknik yang digunakan Noordin, adalah mesmerism.

Pesan-pesan yang disampaikan saat mesmerim sering bertentangan dengan akal sehat sehingga membuat korban mengalami gangguan kejiwaan. Orang-orang yang menjadi korban biasanya sedang labil. Umumnya, mereka remaja. Mereka sedang mencari jati diri dengan mengikuti sikap dan perbuatan panutannya.

Ahli hipnoterapi Mardigu Wowiek Prasantyo, peraih gelar master di bidang clinical hypnotherapies dan San Francisco State University, Amerika Serikat, menjelaskan, ada dua jenis hipnotis. Trance hypnosis dan waking hypnosis.

  1. Trance hypnosis. Dilakukan dengan kondisi korban setengah sadar atau bahkan tidak sadar. Korban diberi nilai-nilai baru. Itu dilakukan secara berulang-ulang dalam waktu lama
  2. Waking hypnosis. Lebih permanen dan bisa dilakukan dalam waktu singkat. Proses ini didukung oleh adanya keinginan. Misalnya, pada calon pengebom bunuh diri, sudah ada keinginan untuk jihad

Noordin dan gengnya menggunakan teknik waking hypnosis dalam mencari calon pengebom bunuh diri. Pencarian dilakukan saat calon dalam kondisi sadar. Setiap orang bisa melakukan. Syaratnya, seluruh indra harus terpuasi. Proses waking hypnosis didukung oleh sudah adanya keinginan, sudah ada keinginan untuk jihad. Keinginan itu yang dicari para perekrut seperti Syaifuddin Zuhri. “Contohnya, Asmar Latin Sani (bom JW Marriott, 2003). Sejak kecil, Sani sudah ingin jihad dan mati syahid.

Mengembalikan otak yang sudah dicuci oleh teroris, cukup mudah. Harus dilakukan. pendekatan secara personal juga. Synapse di dalam otak ditanami nilai-nilai baru. Nilai-nilai yang ditanamkan jangan sampai bertentangan dengan nilai yang mereka miliki. Contohnya, nilai mereka jihad. Kita tidak boleh melarang. Tapi, diarahkan bahwa Indonesia bukan tempat jihad. Hanya, biasanya ada kendala tempat. Teroris tidak dipisahkan dari tahanan lain di penjara. Padahal, mereka seharusnya dipisahkan. Sekarang di penjara, tapi pikiran tetap sama. Jika tidak dilakukan pemrograman ulang otak, ideologi teroris tidak akan berubah (Jawa Pos, Pemrograman Ulang Otak Teroris, Kamis 27 Agustus 2009)