Warga Timur Tengah, Al-Khalil Ali alisa Ali Muhammad bin Abdullah adalah Kurir Al-Qaidah yang Dipimpin Usamah bin Ladin

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Kepolisian menetapkan Al-Khalil Ali, warga Arab Saudi yang tinggal di Desa Cirendang, Kuningan, Jawa Barat, sebagai tersangka kasus pengeboman Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jakarta, 17 Juli 2009. Kepala Kepolisian RI Jenderal Bambang Hendarso Danuri dalam keterangan pers di kantornya Senin 24 Agustus 2009, mengatakan bahwa Al-Khalil Ali sudah ditahan. Ali adalah kurir Al-Qaidah, organisasi yang dipimpin Usamah bin Ladin, untuk jaringan teroris di Indonesia. Bukan hanya kurir uang, juga kurir macam-macam.

Kedutaan Besar Arab Saudi sudah membantah Ali warga negaranya. Ali, 51 tahun, yang di daerah tempat tinggalnya dikenal sebagai Ali Muhammad bin Abdullah, dicokok petugas Detasemen Khusus 88 Antiteror. Densus 88 juga menahan Iwan Herdiansyah, warga Dusun Kliwon, Kecamatan Cibingbin, Kabupaten Kuningan, dengan dugaan serupa, yakni menjadi kurir dana teroris dari luar negeri. Namun, Iwan dibebaskan karena terbukti tak terlibat.

Ali adalah salah seorang yang menginap di Kamar 1621 Hotel Marriott menjelang pengeboman. Kamar itu adalah satu dari empat kamar di Marriott yang berhubungan dengan kamar 1808, tempat menginap pelaku bom bunuh diri Dani Dwi Permana, via telepon internal. Kamar 1621 itu dipesan MF, yang bekerja di sebuah perusahaan Yaman. Ia check out pada pagi tanggal 17 Juli 2009 dan pindah ke Hotel Shangri-La, yang sudah ia pesan dari tanggal 15 sampai 19 Juli 2009. Biasanya, perusahaan tempatnya bekerja menyewa kamar di Hotel Manhattan, Tebet. Berdasarkan rekaman CCTV (closed circuit television) beberapa menit sebelum beraksi, Dani keluar dari kamar itu didampingi tiga pria, salah satunya dari Timur Tengah. Tapi polisi belum mengumumkan apakah orang itu Ali.

Dugaan keterkaitan born itu dengan Timur Tengah juga terindikasi dari uang yang dipakai Dani untuk check in di Marriott pada 15 Juli 2009. Waktu itu Dani membayar tunai sewa kamar 1808 yang tarif per malamnya US$120-240 dengan uang dolar Amerika Serikat. Uang itu terdiri atas lima lembar pecahan US$100, tiga lembar US$20, dan dua lembar US$10. Menilik serinya, uang itu biasa beredar di Timur Tengah. Direktur International Crisis Group Asia Tenggara Sydney Jones mengatakan temuan uang dolar AS dari Timur Tengah mengindikasikan keterlibatan jejaring yang lebih besar ketimbang sebelumnya. Baru sekarang pula ditemukan keterlibatan orang asing dalam kegiatan operasional.

Sejauh ini polisi sudah membekuk empat tersangka: Ali, Aris Susanto, Amir Abdillah, dan Indra Arif Hermawan. Polisi juga menewaskan lima tersangka, yakni Ibrohim, Eko Joko Sarjono alias Eko Peang, Air Setiyawan, Dani Dwi Permana, Berta Nana Maulana. Kini polisi masih memburu Noor Din Moh. Top, Saefudin Zuhri, Mohamad Syahrir alias Aing, Bagus Budi Pranoto alias Urwah, dan Ario Sudarso alias Suparjo Dwi Anggoro alias Aji alias Dayat alias Mistam Husamudin (Koran Tempo, Ali Diyakini Kurir Usamah, Selasa 25 Agustus 2009)

BOM BALI I

Tanggal: 12 Oktober 2002
Lokasi: Kuta, Bali
Korban: 202 orang tewas, 209 terluka
Biaya: Rp60 juta (Rp10 juta untuk bahan bom, akomodasi, mobil dan sepeda motor)
Sumber dana: perampokan dan dari luar negeri. 22 Agustus 2002, kelompok Banten (Abdul Rauf dan Andri Octavia) merampok toko emas Elita lndah, Serang.

BOM BALI II

Tanggal: 1 Oktober 2005
Lukasi: Kuta dan Jimbaran
Korban: 23 orang tewas, 196 terluka Biaya: Rp 80 juta
Sumber dana: perampokan dan dari luar negeri. September 2005, Subur Sugiarto, Ubeid, dan At Zein merampok toko ponsel di Pekalongan.

BOM MARRIOTT

Tanggal: 5 Agustus 2003
Lokasi: Mega Kuningan, Jakarta
Korban: 12 orang tewas, 150 terluka
Biaya: Rp 5 juta untuk bahan born, di luar mobil Sumber dana: luar negeri. Desember 2002-Februari 2003, Gun Gun Rusman Gunawan alias Abdul Karim alias Bukhori diminta Hambali mengirim uang sebesar US$12 ribu dan 50 ribu. Uang tersebut dikirim melalui beberapa kurir kepada Noor Din untuk biaya Bom Marriott I.

BOM KUNINGAN

Tanggal: 9 September 2004
Lokasi: Kedutaan Besar Australia, Kuningan, Jakarta
Korban: 9 orang tewas, ratusan terluka
Biaya: Rp5 juta untuk bahan bom, di luar mobil
Sumber dana: Pakistan